Oleh, Maman A Majid Binfas
MabesNews.com, Ketika diksi atau pilihan kata keliru atau salah digunakan, maka akibatnya adalah pesan menjadi salah dipaham, informasi tidak jelas, dan makna kalimat berubah, maka publik sebagai audience akan menangkap maksudnya beragam londo/turunan.
Menjadi asumsi umum bahwa londo pemaknaan kata dalam bahasa merupakan hubungan antara bentuk kebahasaan (kata) dengan konsep, objek, atau ide yang diwakilinya. Makna ini membantu orang/subjek untuk menyampaikan maksud, pikiran, atau perasaan agar bisa dipahami oleh orang lain, termasuk di dalam orasi, baik berupa ucapan para pemimpin maupun anak ingusan.
Bahkan ucapan pemimpin diidentikkan dengan pedang; bermakna bahwa perkataan seorang pemimpin sangat tajam, memiliki daya rusak, jika salah digunakan, dan bisa menjadi alat pelindung atau pemersatu, jika bijak diucapkan.
Hal demikian, sehingga bahasa atau kata-kata seorang pemimpin menjadi cermin bagi etika, martabat bangsa, dan kualitas kepribadiannya. Cara seorang pemimpin berbicara menunjukkan isi pikiran, tingkat kebijaksanaan atau tindakan berkeadilan sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada orang yang dipimpinnya.
Terkait keadilan seseorang pemimpin, Imam al-Ghazali juga telah menukil hadits Rasulullah Saw dalam kitabnya At-Tibrul Masbuk fi Nasihati al-Muluk sebagai berikut, Rasulullah Saw bersabda yang berarti;
“Keadilan seorang pemimpin dalam satu hari lebih baik daripada ibadah selama tujuh puluh tahun.” Kemudian,
“Membela orang yang terzalimi adalah zakat bagi akal. Barang siapa yang menghunus pedang kezaliman, maka pedang kekalahan akan dihunus di atasnya, dan ia akan selalu diliputi kesedihan.”
Kesalahan dan kepedihan dikarenakan tindakan dan ucapan para pemimpin yang bisa mendzalimi yang dipimpinnya, tentu akan berdampak buruk /rusak hingga tujuh turunan/londo; di dalam makna bahasa Bima.
Londo Iha dan Ireng
Sekalipun, memang ada pembeda di antara diksi londo Iha dengan londo ireng
Namun, kesannya sama mawon agak kurang elokan bila diusung tanpa aling aling dengan melolong
Lebih aduhai, sebaiknya berpantun santun menjadi cerminan yang bisa dipubliskan sehingga diksinya tidak berlebihan kemasukan angin dudukan bah kesan berkeiblisan diperankan menjadi diksian
Diksi Londo Iha dalam bahasa Bima, di berarti turun merusak/ diidentikkan dengan kawin lari/ menculik gadis/merusak kegadisannya!
Sementara londo ireng bahasa Jawa, berarti Belanda hitam atau lebih diidentikkan tentara kolonial, baik orang pribumi penghinat maupun orang asing dari Afrika yang dibayar oleh Belanda penjajah !
Namun, kesannya sama mawon merusak moral mentalitas kemanusiaan sebagai manusia yang beragama dan berbudaya luhur yang dikedepankan.
Budaya Pemimpin Berbicara
Tidak keliru manakala banyak pihak menyarankan, bahwa sebaiknya seorang pemimpin tertinggi bukan sekadar pemilik otoritas saja. Melainkan penjaga stabilitas wacana publik. Sebelum berucap, ia wajib memikirkan konteks sejarah, dampak emosional, dan konsekuensi terhadap kebebasan berpendapat. Ketika kata-kata justru memperkeruh suasana, yang dibutuhkan bukan pembenaran belaka, melainkan refleksi dan koreksi. Demokrasi yang sehat tumbuh bukan dari rasa takut, melainkan dari keberanian untuk saling mengoreksi dengan kepala dingin. Apakah kita masih mau membiarkan budaya “didaulat angker” mengalahkan budaya berpikir sebelum berbicara?
Pihak berotokritik ini pun, hadir tentu bernilai positif buat Presiden Prabowo sebagai tanda perhatian yang bernilai golden daripada diam tanpa makna apapun.
Golden Diam
Diam tidak selamanya mengandung diksi bermakna emas, tetapi boleh jadi lagi lemas atau malas berkomentar pada soalan yang tak berasas
Namun, esensi Aku diam, tentu berbeda jua, tetap beresensi emas permata ‘tuk menatap dengan tajam di dalam diam diam plus menghantam tanpa basa basi, lalu menghujam hingga karam
Sebenarnya esensi dari pepatah “Diam itu emas” diksi ini berasal dari bahasa Inggris: Speech is silver, silence is golden: Ucapan itu perak, diam itu emas.
Di mana dimaknai bahwa berbicara pada waktu yang tepat adalah hal yang berharga seperti perak,
tetapi mengetahui kapan harus diam dan mengendalikan diri jauh lebih bernilai, seperti emas.
Terserah, mau pilih diam yang mana untuk berkalam di dalam bersalaman !
Tentu, Presiden Prabowo bukan jua hasil dari londo iha bersalam. Tetapi, hanya terkesan khilaf di dalam pilihan kata dari pembisik ireng yang hampa konsep akurat dan berkalam mendalam. Namun, pembisiknya yang sebatas berdurasi pada morfem yang diranum_ wallahu alam.
NSR













