Dari 50 Waktu Menjadi 5 Waktu dan Itu pun Engkau Masih Malas Mengerjakannya

Dr. Nursalim, s. Pd., m. Pd ketua afiliasi pengajar penulis bahasa sastra budaya seni dan desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da, i kamtibmas Polda Kepri.

 

Ada satu ironi yang sering luput disadari dalam kehidupan manusia modern: semakin ringan suatu kewajiban, justru semakin mudah pula ia diabaikan. Padahal, keringanan itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang tidak ternilai. Dalam konteks ibadah, shalat lima waktu merupakan anugerah yang luar biasa, hasil dari keringanan atas kewajiban yang dahulu jauh lebih banyak. Namun, realitas menunjukkan bahwa keringanan ini justru tidak selalu diiringi dengan kesungguhan.

Fenomena ini memperlihatkan adanya pergeseran cara pandang terhadap ibadah. Shalat yang seharusnya menjadi pusat ketenangan dan sumber kekuatan batin, perlahan berubah menjadi aktivitas yang sering ditunda, bahkan diabaikan. Kesibukan duniawi dijadikan alasan, sementara kebutuhan spiritual dikesampingkan. Di sinilah letak persoalan mendasar: manusia tidak lagi menempatkan ibadah sebagai kebutuhan utama, melainkan sebagai beban tambahan.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, shalat bukan sekadar kewajiban formal, melainkan proses pembentukan karakter dan kesadaran diri. Ia melatih disiplin waktu, menumbuhkan kerendahan hati, serta menjadi sarana evaluasi diri yang paling jujur. Ketika seseorang menjaga shalatnya, sesungguhnya ia sedang menjaga keseimbangan hidupnya. Sebaliknya, ketika shalat diabaikan, maka perlahan keseimbangan itu pun akan terganggu.

Kondisi ini juga mencerminkan krisis spiritual yang lebih luas dalam masyarakat. Banyak individu yang sukses secara materi, tetapi rapuh secara batin. Mereka memiliki segalanya, tetapi kehilangan ketenangan. Salah satu penyebabnya adalah renggangnya hubungan dengan Tuhan, yang salah satunya tercermin dari kelalaian dalam menjalankan shalat.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengembalikan makna ibadah ke posisi yang semestinya. Shalat tidak boleh lagi dipandang sebagai rutinitas kosong, melainkan sebagai kebutuhan mendasar yang harus dijaga dengan penuh kesadaran. Kesungguhan dalam beribadah bukan hanya akan berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga akan membentuk pribadi yang lebih kuat, sabar, dan bijaksana dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Refleksi ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengingatkan bahwa nilai suatu ibadah tidak terletak pada banyaknya, tetapi pada kesungguhan dalam menjaganya. Jika yang sedikit saja belum mampu dijaga, maka persoalannya bukan pada jumlah, melainkan pada komitmen dan kesadaran diri. Di sinilah pentingnya membangun kembali hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan, dimulai dari hal yang paling mendasar: menjaga shalat lima waktu dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.