Bertemu Menko AHY, Mahasiswa Sumba Timur Sampaikan Aspirasi Anak-Anak Pelosok NTT

Pemerintah122 views

MabesNews.com, JAKARTA — Mahasiswa asal Sumba Timur, Sandiang Kaya Ndapa Namung, menyampaikan aspirasi masyarakat terkait pemerataan pembangunan dan pendidikan di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) saat bertemu Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dalam pertemuan tersebut, Sandiang mengangkat berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat di wilayah terpencil, mulai dari keterbatasan infrastruktur jalan, akses listrik, jaringan internet, fasilitas pendidikan, hingga pelayanan dasar.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi SD Paralel Lailara di Desa Praibakul, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur. Sekolah berukuran sekitar 12 x 6 meter itu masih berdinding bambu, beratap seng, dan berlantai tanah. Sejumlah meja, kursi, serta papan tulis masih dipinjam dari sekolah lain, sementara sebagian fasilitas belajar mengajar telah mengalami kerusakan.

 

Selain itu, keterbatasan akses listrik dan internet, serta belum tersedianya rumah dinas bagi guru, menjadi tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan pendidikan di wilayah tersebut. Bahkan, bangunan sekolah itu dibangun secara swadaya oleh para orang tua murid.

 

“Anak-anak di pelosok tidak boleh kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat kota. Mereka juga anak Indonesia, memiliki mimpi, dan berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” ujar Sandiang.

 

Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya proyek yang dibangun, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga ke daerah terpencil.

 

“Infrastruktur bukan sekadar pembangunan fisik. Jalan, listrik, internet, dan sekolah merupakan jembatan menuju masa depan anak-anak kita,” tegasnya.

 

Sandiang berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah pelosok.

 

“Kami tidak ingin persoalan di daerah hanya menjadi cerita yang terus berulang. Harapan kami, pembangunan benar-benar hadir hingga ke pelosok, sehingga tidak ada lagi anak yang merasa dilupakan hanya karena lahir dan tumbuh jauh dari pusat kota,” pungkasnya.

 

Ia menambahkan, di balik dinding bambu dan lantai tanah sekolah tersebut, ada anak-anak yang sedang berjuang meraih masa depan. Meski hidup dalam keterbatasan, semangat dan cita-cita mereka tidak pernah terbatas.

 

Liputan: MabesNews.com

 

Penulis: Martinus Kondo