Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da’i Kamtibmas Polda Kepri
MabesNews.com, Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang semakin bising, manusia sering lupa bahwa ada satu bahasa yang tidak membutuhkan suara keras untuk didengar: bahasa doa. Ia tidak perlu pengeras, tidak perlu panggung, bahkan tidak perlu saksi. Cukup hati yang tunduk dan jiwa yang khusyuk, maka bisikan itu akan menembus bumi dan terdengar hingga ke langit.
Salat adalah bisikan paling jujur seorang hamba kepada Tuhannya. Ia adalah dialog sunyi yang sarat makna, pengakuan atas kelemahan diri, sekaligus pernyataan ketundukan kepada Yang Maha Kuasa. Ketika dahi menyentuh sajadah, sejatinya bukan hanya tubuh yang bersujud, tetapi juga ego, kesombongan, dan segala beban dunia yang selama ini membelenggu jiwa.
Namun, dalam realitas kehidupan modern, salat sering kali hanya menjadi rutinitas tanpa ruh. Gerakan dilakukan, bacaan dilafalkan, tetapi hati justru melayang entah ke mana. Padahal, salat yang sejati adalah yang mampu menghadirkan kesadaran penuh bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah SWT. Di situlah letak kekuatan salat: ia bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan.
“Berbisik ke bumi, terdengar ke langit” adalah pengingat bahwa setiap sujud kita tidak pernah sia-sia. Setiap doa yang kita panjatkan, sekecil apa pun, akan sampai kepada-Nya. Tidak ada yang terlewat, tidak ada yang diabaikan. Bahkan air mata yang jatuh dalam sunyi pun tercatat sebagai saksi cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Opini ini ditulis di atas pesawat Garuda Indonesia, dalam sebuah perjalanan yang penuh makna. Secara tak sengaja, Allah SWT mempertemukan penulis dengan Sekretaris Daerah Kota Batam, Drs. H. Jefridin, M.Pd.. Pertemuan singkat di ruang udara itu menjadi refleksi tersendiri: bahwa di ketinggian langit, manusia tetaplah hamba yang kecil, yang hanya bisa bersandar kepada kekuatan doa dan salat. Dalam percakapan yang hangat, tersirat kesadaran bahwa jabatan, kedudukan, dan dunia hanyalah titipan, sementara yang abadi adalah hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Oleh karena itu, jagalah salat kita. Bukan hanya menjaga waktunya, tetapi juga menjaga kualitasnya. Hadirkan hati, tenangkan pikiran, dan resapi setiap bacaan. Jadikan salat sebagai tempat pulang dari segala kegelisahan, sebagai ruang teduh di tengah panasnya persoalan hidup.
Jika salat telah kita jaga dengan baik, maka ia akan menjaga kita. Menjaga dari perbuatan keji dan mungkar, menjaga dari kegelisahan yang tak berujung, serta menjaga hati agar tetap hidup dalam cahaya keimanan.
Akhirnya, marilah kita merenung: ketika dunia sering kali tidak mendengar keluh kesah kita, kepada siapa lagi kita bersandar jika bukan kepada Allah SWT? Maka, jangan pernah lelah untuk bersujud. Sebab dari sanalah, bisikan kita akan selalu menemukan jalannya menuju langit.







