Bagaimana Kalau Taufiq Ismail Membaca Puisi di Gunongan

L K Ara

 

Bagaimana Kalau

Taufiq Ismail Membaca Puisi di Gunongan

 

Bagaimana kalau

suatu senja yang khusyuk,

Taufiq Ismail berdiri di Gunongan—

di antara batu-batu tua

yang masih menyimpan

rindu seorang sultan

dan jejak langkah seorang permaisuri?

 

Bagaimana kalau

ia membuka lembar puisinya

perlahan—

seperti membuka luka bangsa

yang tak pernah benar-benar sembuh?

 

Dan angin Banda Aceh

yang telah terlalu lama

mendengar ratap sejarah,

tiba-tiba berhenti,

untuk mendengar

suara seorang penyair

membacakan Indonesia.

 

Mungkin burung-burung

akan turun lebih rendah,

dan pohon-pohon tua

menahan gugurnya daun,

karena malam itu

kata-kata lebih sakral

daripada upacara.

 

Ia akan membaca

tentang negeri

yang selalu datang kepada Aceh

dengan air mata—

tsunami, perang, kehilangan—

tetapi jarang datang

membawa pelukan.

 

Ia akan menyebut Aceh

bukan sebagai halaman belakang sejarah,

melainkan beranda tua

tempat republik ini

pernah belajar berdiri.

 

Dan Gunongan

akan menjadi lebih dari bangunan;

ia menjelma saksi

bahwa cinta dan luka

selalu memilih tempat yang sama

untuk dikenang.

 

Aku, L K Ara,

ingin sekali—

sekali saja—

menyaksikan peristiwa itu.

 

Bukan sebagai tamu,

bukan sebagai nama

yang dipanggil ke depan,

tetapi sebagai seorang anak Aceh

yang berdiri diam

di sudut senja,

membiarkan dadanya

diguncang oleh puisi.

 

Aku ingin melihat

bagaimana Taufiq Ismail

mengangkat suaranya,

dan langit ikut menunduk.

 

Aku ingin mendengar

setiap bait jatuh

seperti azan dari masa lalu,

memanggil pulang

mereka yang terlalu lama

tersesat dalam gaduh negeri.

 

Mungkin saat itu

roh Hamzah Fansuri

diam-diam hadir

dari lorong waktu,

berdiri di antara angin

dan harum tanah basah,

tersenyum tipis,

seolah berkata:

 

“Puisi tidak pernah mati.

Ia hanya menunggu

siapa yang cukup berani

mengucapkannya.”

 

Dan jika malam itu

hujan turun perlahan,

aku percaya

setiap tetesnya

bukan sekadar air—

melainkan bait-bait langit

yang ikut ingin dibacakan.

 

Lalu Taufiq Ismail menatap jauh,

melewati pohon,

melewati sejarah,

melewati kita semua,

dan berkata pelan—

tetapi mengguncang:

 

“Negeri ini

masih bisa diselamatkan

selama masih ada

orang-orang

yang percaya

pada kata,

pada doa,

dan pada air mata

yang tidak dijual

kepada kekuasaan.”

 

Dan kita semua diam.

 

Karena di hadapan puisi,

bahkan sejarah

sering kali memilih

untuk menunduk.

 

Di Gunongan itu,

malam menjadi lebih tua,

bulan berjalan lebih lambat,

dan Indonesia—

untuk sesaat—

terdengar lebih jujur.

 

Kalanareh, April 2026