Attitude Menghidupkan Kembali Sastera Klasik Aceh

L K Ara

Mabesnews.com-Banda Aceh-Sastera klasik Aceh bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah rumah ingatan sebuah bangsa, tempat tersimpan hikmah, sejarah, falsafah hidup, dan nilai-nilai keagamaan yang telah membentuk peradaban Aceh selama berabad-abad.

¹Di dalam Hikayat Prang Sabi, Hikayat Aceh, syair-syair ulama, hingga naskah-naskah kuno yang ditulis dalam aksara Jawi, tersimpan denyut jiwa masyarakat Aceh yang tidak boleh hilang ditelan zaman.

Namun hari ini, banyak generasi muda mengenal teknologi lebih dekat daripada mengenal warisan sasteranya sendiri. Naskah-naskah lama tersimpan di rak-rak perpustakaan, bahkan sebagian terancam rusak oleh usia.

Jika keadaan ini dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya teks, melainkan juga identitas budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakat Aceh.

Menghidupkan sastera klasik Aceh bukan berarti mengembalikannya ke masa lalu. Yang diperlukan adalah menghadirkannya kembali dalam kehidupan masa kini. Hikayat misalnya dapat dipentaskan di panggung teater. Syair dapat dinyanyikan dengan sentuhan musikal segar, dan manuskrip kuno dapat didigitalisasi agar mudah diakses oleh generasi muda.

Sekolah, kampus, komunitas sastra, dan pemerintah perlu berjalan bersama menjadikan sastera klasik sebagai sumber inspirasi, bukan sekadar bahan arsip.

Di tengah arus globalisasi, sastera klasik Aceh justru dapat menjadi jendela yang memperkenalkan Aceh kepada dunia. Nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, keberanian, dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya bersifat universal.

Ketika karya-karya klasik Aceh diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dipublikasikan secara luas, dunia akan melihat kekayaan intelektual yang dimiliki Aceh sejak masa lampau.

Menghidupkan sastera klasik Aceh sesungguhnya adalah menghidupkan kembali dialog antara masa lalu dan masa depan. Kita tidak sedang memuja sejarah, tetapi mengambil cahaya darinya untuk menerangi perjalanan generasi yang akan datang.

Sebab sebuah bangsa yang melupakan sasteranya adalah bangsa yang perlahan kehilangan cermin untuk mengenali dirinya sendiri. Sedangkan perkembangan arus teknologi digital terus melejit.

Maka, menjaga dan menghidupkan sastera klasik Aceh bukan hanya tugas para akademisi atau sastrawan. Ia adalah tanggung jawab bersama agar warisan para leluhur tetap bernapas, tetap berbicara, dan tetap menjadi cahaya bagi peradaban Aceh di masa depan.

 

(Editor : bachtiar adamy)