oleh Dr. Nursalim, S. Pd., M. Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau
Mabesnews.com, Hidup adalah perjalanan panjang yang tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak, berubah, dan menggiring manusia dari satu fase ke fase lainnya tanpa pernah menunggu kesiapan sempurna. Dalam arus itulah manusia belajar bahwa ada masa untuk melangkah ke depan dengan penuh keyakinan, dan ada waktu untuk belajar melepaskan dengan kelapangan hati. Kebijaksanaan ini sering kali tidak datang di awal perjalanan, melainkan tumbuh perlahan melalui pengalaman, kegagalan, keberhasilan, dan perenungan yang mendalam.
Melangkah ke depan merupakan simbol keberanian dan tanggung jawab. Ia menandai kesiapan seseorang untuk mengambil peran, memikul amanah, serta menghadapi risiko yang menyertai setiap keputusan. Pada fase ini, manusia dituntut untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, mengasah kemampuan, dan menundukkan ego agar tidak mendahului akal sehat. Melangkah ke depan bukan semata soal ambisi, melainkan tentang kesanggupan memberi makna bagi diri sendiri dan orang lain. Namun, sering kali semangat melangkah membuat manusia lupa bahwa tidak semua perjalanan harus dilalui tanpa jeda.
Seiring berjalannya waktu, hidup mengajarkan pelajaran yang lebih sunyi namun lebih dalam, yaitu belajar melepaskan. Melepaskan bukanlah tindakan pasrah tanpa harga diri, melainkan pilihan sadar yang lahir dari kematangan berpikir. Ketika seseorang mampu merelakan peran, jabatan, atau pengaruh yang pernah ia genggam, sesungguhnya ia sedang menunjukkan kekuatan batin yang sejati. Melepaskan berarti memahami bahwa setiap amanah memiliki batas waktu, dan setiap peran ada saatnya diserahkan agar kehidupan terus bertumbuh secara sehat.
Banyak kegelisahan dan konflik dalam kehidupan sosial bersumber dari ketidakmampuan manusia membaca isyarat waktu. Keengganan untuk melepaskan sering kali membuat seseorang terjebak pada masa lalu, mempertahankan posisi yang tak lagi relevan, hingga kehilangan makna yang dulu ia bangun dengan susah payah. Sebaliknya, mereka yang mampu berhenti pada waktunya akan dikenang bukan hanya karena prestasi, tetapi karena kebesaran jiwanya. Dalam perjalanan sejarah, tokoh-tokoh yang arif adalah mereka yang tahu kapan harus tampil dan kapan harus memberi ruang.
Belajar melepaskan juga membuka pintu bagi pertumbuhan makna yang baru. Setelah masa melangkah berlalu, kehidupan tidak berhenti, melainkan bertransformasi. Ada fase menjadi penopang yang bijak, penasehat yang jernih, atau pembelajar yang lebih tenang. Dalam jarak dari sorotan, manusia justru dapat menemukan kedalaman makna dan ketenangan batin yang sulit diperoleh ketika masih berada di pusat peran. Di situlah hidup mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh posisi, melainkan oleh kebijaksanaan sikap.

Pada akhirnya, kebijaksanaan hidup terletak pada kemampuan menempatkan diri secara selaras dengan waktu. Keberanian untuk melangkah dan keikhlasan untuk melepaskan adalah dua sisi dari kedewasaan yang sama. Hidup yang dijalani dengan kesadaran akan batas dan peralihan akan melahirkan kejernihan berpikir serta keteduhan sikap. Di antara langkah maju dan langkah mundur, manusia belajar menjadi pribadi yang utuh, rendah hati, dan bermakna bagi sesama.







