AIR MATA YANG MENGETUK LANGIT    – untuk Syahrial

Lainnya31 views

L K Ara

 

 

– untuk Syahrial

Bukan umrah yang ditolak,

tetapi langit sedang mendengar

suara perut-perut

yang belum sempat kenyang.

Di tanah Gayo,

kabut pagi tak lagi sekadar embun,

ia menjelma doa

yang menggigil di bibir para ibu,

yang menyembunyikan lapar

agar anak-anak tetap percaya

bahwa esok masih ada harapan.

“Berikan kepada mereka, Pak…”

Kalimat itu

jatuh perlahan,

namun mengguncang langit.

Bukan karena nilainya,

melainkan karena hati

lebih luas daripada perjalanan

yang hendak ditempuh,

ketika di dalamnya

tersimpan kasih

untuk sesama manusia.

Aku melihat

setitik air mata

mengalir di sudut mata seorang lelaki.

Ia bukan air biasa.

Ia adalah sungai

yang menghubungkan bumi

dengan Arasy.

Sebab air mata

yang lahir dari keikhlasan,

tak pernah benar-benar jatuh ke tanah.

Allah menyimpannya

di dalam kitab rahmat-Nya.

Barangkali,

jalan menuju Baitullah

tak selalu dimulai

dengan pesawat yang terbang ke Makkah.

Kadang ia bermula

dengan mengenyangkan

satu keluarga yang lapar,

membelikan seragam

bagi seorang anak sekolah,

atau mengusap kepala

seorang yatim

yang kehilangan musim bahagia.

Maka,

jika hari itu

ada yang menangis di depan layar,

sesungguhnya bukan karena sedih.

Mereka sedang menyaksikan

bahwa kemuliaan

masih hidup

di dada manusia.

Ya Allah,

lipatgandakan rezeki

bagi setiap tangan

yang memilih memberi

ketika ia sendiri

berhak menerima.

Dan jadikanlah

setiap titik air mata

yang jatuh karena-Mu

sebagai mutiara cahaya

yang kelak menyala

pada hari ketika

tak ada lagi

yang mampu menolong

selain kasih sayang-Mu.

Catatan Kaki

Puisi esai ini terinspirasi oleh kisah nyata tentang seseorang yang mendapat hadiah menunaikan ibadah umrah, namun memilih mengalihkan dana perjalanannya untuk membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Keputusan tersebut lahir dari keyakinan bahwa menolong sesama yang membutuhkan merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Tokoh Syahrial dalam puisi ini menjadi simbol keikhlasan, empati, dan keberanian mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kepentingan pribadi. Adapun tanah Gayo dihadirkan sebagai latar sosial dan kultural yang merepresentasikan kehidupan masyarakat yang akrab dengan nilai gotong royong, kepedulian, dan semangat berbagi.

Puisi ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan nilai suatu ibadah dengan amal lainnya, melainkan untuk menegaskan bahwa kasih sayang, kepedulian, dan keikhlasan merupakan jalan mulia yang juga mengantarkan manusia kepada keridaan Allah SWT.