Turatea sebagai Rumah Kita Bersama: Meneguhkan Sipakainga, Sipakatau, dan Sipakalabbiri

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.

Pimpinan Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia Kabupaten Jeneponto

 

Mabesnews.com, Turatea bukan sekadar nama wilayah atau batas administratif, melainkan rumah besar yang mempersatukan sejarah, nilai budaya, dan jati diri masyarakatnya. Menjadikan Turatea sebagai rumah kita bersama berarti menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang yang hidup di dalamnya adalah keluarga, yang wajib dijaga kehormatannya, dirawat kebersamaannya, dan dilindungi kedamaiannya. Sebuah rumah hanya akan terasa aman dan tenteram apabila penghuninya saling menghargai dan saling menguatkan.

Dalam kearifan lokal  Kearifan lokal Butta Turatea yang mengakar kuat di Turatea, terdapat nilai-nilai luhur yang menjadi penuntun kehidupan bermasyarakat, yakni sipakainga, sipakatau, dan sipakalabbiri. Ketiga nilai ini bukan sekadar warisan leluhur, tetapi pedoman etika sosial yang selaras dengan ajaran dakwah dan nilai-nilai keislaman. Sipakainga mengajarkan pentingnya saling mengingatkan dalam kebaikan, dengan cara yang arif dan penuh kasih, bukan dengan caci maki atau sikap merasa paling benar.

Sipakatau menegaskan prinsip memanusiakan manusia. Setiap individu, apa pun latar belakangnya, harus diperlakukan dengan adab dan penghormatan. Dalam konteks Turatea sebagai rumah bersama, sipakatau menjadi fondasi utama bagi terciptanya harmoni sosial. Ketika martabat manusia dijunjung tinggi, ruang dialog akan terbuka, dan perbedaan dapat dikelola dengan bijaksana.

Adapun sipakalabbiri mengandung makna saling memuliakan dan menghargai kelebihan orang lain. Nilai ini menumbuhkan suasana sosial yang sehat, jauh dari iri, dengki, dan saling merendahkan. Dengan sipakalabbiri, masyarakat Turatea diajak untuk membangun kebersamaan di atas semangat saling menguatkan, karena kemajuan bersama tidak akan lahir dari sikap saling menjatuhkan.

Di tengah tantangan zaman yang ditandai oleh derasnya arus informasi, provokasi, dan potensi perpecahan, menghidupkan kembali nilai-nilai ini menjadi sebuah keniscayaan. Dakwah hari ini tidak cukup disampaikan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan keteladanan. Menjaga lisan, menata emosi, serta mengedepankan musyawarah adalah bentuk dakwah nyata yang akan menjaga Turatea tetap damai dan bermartabat.

Turatea sebagai rumah kita bersama menuntut komitmen kolektif. Jika sipakainga, sipakatau, dan sipakalabbiri benar-benar dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari—di lingkungan keluarga, masyarakat, dan kepemimpinan—maka Turatea akan terus menjadi rumah yang aman, sejuk, dan diridhai. Inilah jalan dakwah yang menumbuhkan persaudaraan, menjaga martabat, dan mengantarkan masyarakat Turatea menuju kehidupan yang harmonis dan berkeadaban.