Oleh: Khairul Mahalli, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI)
MabesNews.com, Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Konflik yang meletus di Timur Tengah sejak 28 Februari 2026 telah bergeser dari sekadar ketegangan regional menjadi ancaman eksistensial global. Sebagai pelaku usaha yang bergelut di sektor ekspor-impor, kami melihat bahwa apa yang terjadi di padang pasir Timur Tengah kini bukan lagi sekadar berita luar negeri, melainkan ancaman langsung terhadap meja makan rakyat Indonesia.
Paradoks Serangan dan Sandera Ekonomi
Berdasarkan data audit militer dari The Stimson Center (Washington D.C.) per akhir Maret 2026, muncul fakta yang menggetarkan nurani: 83 persen dari total serangan proyektil Iran (~4.391 rudal dan drone) justru menghantam wilayah sesama negara Muslim di Teluk (GCC). Sementara itu, Israel hanya menerima 17 persen serangan. Angka ini mengungkap strategi “Sandera Ekonomi”. Sebagaimana dianalisis oleh Dr. Sanam Vakil dari Chatham House, Iran tampaknya tidak mengejar konfrontasi militer langsung yang simetris dengan Israel, melainkan memilih melumpuhkan infrastruktur energi di Teluk untuk memutus urat nadi energi dunia guna menekan Barat.
Bayang-bayang Kiamat Nuklir
Eskalasi ini memicu alarm dari para pemimpin moral dunia. Paus Leo XIV dari Vatikan, dalam pesan Urbi et Orbi daruratnya, memperingatkan bahwa kita sedang berjalan menuju “Genesis Terbalik”—sebuah kehancuran peradaban jika kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok gagal menahan diri dari konfrontasi nuklir. Nada serupa datang dari dalam negeri. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa penumpahan darah di wilayah Teluk adalah pelanggaran berat terhadap Ukhuwah Islamiyah. MUI sangat khawatir eskalasi ini akan mengganggu keselamatan jutaan jamaah Haji Indonesia.
Tekanan pada Urat Nadi Nasional
Di dalam negeri, guncangan mulai terasa. Rekan kami di Apindo, Shinta Kamdani, dan Waketum Kadin, Erwin Aksa, telah mencatatkan kenaikan biaya produksi yang signifikan. Sektor manufaktur dan ritel kini berada dalam tekanan margin yang hebat, terutama di tengah momentum Ramadan. Kondisi kritis juga menimpa armada kita di Selat Hormuz. Dua tanker raksasa Pertamina—Pertamina Pride dan Gamsunoro—saat ini masih tertahan.
Strategi GPEI dan Pemerintah
Menghadapi dinamika ini, GPEI bersama Kementerian Perdagangan merumuskan langkah mitigasi strategis:
– Diversifikasi Pasar Ekspor: Mempercepat penetapan rute logistik baru di luar wilayah konflik.
– Ketahanan Rantai Pasok: Koordinasi intensif memastikan stok kebutuhan pokok aman menjelang Idul Fitri.
– Hilirisasi Energi: Optimalisasi Kilang Balikpapan (RDMP) sebagai benteng agar Indonesia memiliki daya tawar di tengah blokade energi dunia.
Penutup
Indonesia harus berdiri tegak di atas prinsip politik luar negeri bebas aktif. Perang ini tidak akan menghasilkan pemenang. Sebagai bangsa besar, Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan ekonomi untuk memastikan bahwa api konflik di Timur Tengah tidak membakar habis harapan kemakmuran rakyat kita [1].













