Tahun Baru 2026: Waktu, Musibah, dan Peringatan Ilahi

Oleh: Prof. Dr. Ir. Chablullah Wibisono, MM, IPU

Wakil Rektor I UNIBA, DPP IAEI, Waketum MUI Kepri, Ketua FKUB Kota Batam

 

MabesNews.com, Setiap pergantian tahun, manusia kerap hanyut dalam euforia sesaat. Pesta, kembang api, dan berbagai bentuk hiburan sering kali menutup ruang kesadaran untuk merenung. Padahal, Tahun Baru Masehi 2026 seharusnya disambut dengan muhasabah yang mendalam, bukan sekadar perayaan. Bangsa ini tengah menghadapi rangkaian musibah yang datang silih berganti, mulai dari banjir, longsor, kebakaran hutan, krisis lingkungan, hingga degradasi moral sosial. Semua peristiwa tersebut bukan kejadian yang berdiri sendiri, melainkan akumulasi panjang dari kesalahan manusia dalam mengelola waktu, alam, dan nilai-nilai kehidupan.

Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan di laut bersumber dari perbuatan manusia sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 41. Musibah tidak sekadar dipahami sebagai bencana alam, tetapi sebagai peringatan Ilahi agar manusia kembali sadar, melakukan perbaikan, dan tidak terus-menerus mengabaikan amanah yang telah diberikan.

Ilmu fisika modern mengajarkan bahwa waktu bukan sesuatu yang mutlak. Dalam teori relativitas Albert Einstein, waktu bersifat relatif dan bergantung pada kecepatan serta gravitasi. Namun satu hal yang pasti, waktu tidak pernah dapat diulang. Sekali terlewat, ia hilang untuk selamanya. Jauh sebelum sains modern berbicara tentang relativitas waktu, Al-Qur’an telah menempatkan waktu sebagai entitas yang sarat makna spiritual. Allah bersumpah dengan waktu dalam Surah Al-‘Ashr dan menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian ketika lalai memanfaatkannya.

Waktu bukan sekadar hitungan detik dan tahun, melainkan amanah moral. Ia menjadi saksi atas amal kebaikan, sekaligus bukti kelalaian manusia. Al-Qur’an juga menggambarkan relativitas waktu dalam perspektif Ilahi, bahwa satu hari di sisi Allah setara dengan seribu tahun menurut perhitungan manusia. Kesadaran ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia yang terasa panjang sejatinya amat singkat jika diukur dengan standar akhirat.

Jika satu jam di akhirat setara dengan puluhan tahun kehidupan dunia, maka usia manusia yang rata-rata sekitar enam puluh tahun pada hakikatnya hanyalah sekejap. Ini menjadi peringatan bahwa hidup di dunia sangat terbatas, sehingga tidak pantas dihabiskan untuk kelalaian dan kesia-siaan.

Musibah lingkungan yang terjadi belakangan ini merupakan cermin dari kelalaian kolektif. Banjir akibat danau yang ditimbun, longsor karena bukit yang dipotong, kebakaran hutan akibat keserakahan, serta persoalan sampah yang tidak terkelola dengan baik menunjukkan adanya krisis tata kelola sekaligus krisis moral. Alam memiliki hukum yang pasti, sunnatullah yang tidak pernah ingkar. Ketika hukum itu dilanggar, alam menegur manusia melalui bencana.

Kerusakan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari perilaku sosial. Gaya hidup hedonis, maksiat yang dinormalisasi, serta kebijakan pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan keberlanjutan telah mempercepat datangnya musibah. Seolah-olah waktu tidak lagi memberi jeda bagi manusia untuk berhenti dan berbenah.

Islam tidak melarang pergantian tahun, tetapi dengan tegas melarang kelalaian. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar manusia memanfaatkan masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati. Pesan ini menegaskan bahwa setiap detik kehidupan adalah kesempatan yang tidak akan kembali.

Karena itu, tahun baru seharusnya diisi dengan doa, zikir, pengajian, dan evaluasi diri, bukan pesta dan hura-hura. Kembang api yang dinyalakan di langit tidak sebanding dengan peringatan Al-Qur’an tentang api neraka yang jauh lebih dahsyat, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Mursalat ayat 32.

Muhasabah Tahun Baru 2026 harus melahirkan perubahan yang nyata. Masyarakat dan pemangku kebijakan dituntut untuk membangun tata ruang yang berkeadilan terhadap alam, menjaga danau, bukit, hutan, serta sistem drainase agar selaras dengan daya dukung lingkungan. Pembangunan ekonomi harus diarahkan pada keadilan sosial dengan memperkuat IKM dan UMKM, mengembangkan ekonomi hijau, serta mendorong sektor maritim yang berkelanjutan. Di saat yang sama, kehidupan politik harus berpijak pada keadilan moral, menghadirkan kepemimpinan yang amanah, bersih dari korupsi, dan berpihak pada nilai-nilai etika.

Tanpa kesadaran dan perubahan tersebut, waktu hanya akan menjadi saksi kehancuran, bukan perbaikan.

Fisika mengajarkan bahwa waktu tidak dapat diulang. Al-Qur’an mengajarkan bahwa waktu akan dimintai pertanggungjawaban. Musibah mengingatkan bahwa waktu telah terlalu banyak disia-siakan. Tahun baru bukan sekadar bertambahnya angka kalender, melainkan berkurangnya jatah hidup.

Semoga Tahun Baru Masehi 2026 menjadi awal taubat kolektif, awal perbaikan kebijakan, dan awal kebangkitan moral bangsa.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

 

/NT