MabesNews.com | Batam – Bertempat di rumah kediaman ketua PMB Batam, Hidayat Hadibuan, MM.
Pengajian bulanan PMB Batam kota berjalan semarak dan penuh kekeluargaan. Kegiatan ini dihadiri oleh Prof.Dr. Ir. Chabullah Wibisono, MM bertepatan hari, Rabu, 28/2/2024 pukul 07.30 WIB sampai selesai. Beliau juga adalah sebagai rektor Universitas Batam, hadir pula pada pengajian tersebut adalah para muballigh PMB Batam Kota, serta pengurus inti lainnya.
Hidayat Hasibuan, MM dalam sambutannya mengatakan pengajian ini adalah pengajian rutin bulanan bagi muballigh Batam kota.

Tujuan pengajian ini adalah untuk mempererat Silaturrahim sesama para muballigh khususnya yang ada di Batam Kota.
Untuk kedepan pengajian ini di adakan dari rumah ke rumah, dan untuk tiga bulan pertama difokuskan dirumah ketua, sekretaris dan bendahara setelah itu kita serahkan ke forum tutur ketua PMB dengan nada yang penuh kharisma di tengah tengah para muballigh.
Prof. Dr. Ir. Chabullah Wibisono, MM dalam ceramahnya mengatakan bahwa Allah berfirman dalam Alquran dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS. Al Baqarah: 30-310).
Dilanjutkannya bahwa menegakkan nilai nilai kebenaran, memperjuangkan perbaikan kehidupan dan penghidupan dengan pembangunan di bidang ekonomi, meningkatkan mutu pendidikan, meningkatkan pelayanan kesehatan dalam rangka menuju kesejahteraan lahir batin, dan lain-lain. Mencegah dari yang munkar (nahi munkar) berarti berusaha untuk memberantas kemaksiatan, memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme, narkoba, dan lain-lain kemaksiatan.
Dilanjutkannya bahwa beriman kepada Allah berarti adanya kesadaran spiritual akan keyakinan kepada Allah swt. dalam kehidupan sehari-hari, baik sosial, politik, ekonomi, lingkungan, ilmu pengetahuan, teknologi, pertahanan, dan keamanan.
Amar ma’ruf dan nahi munkar akan lebih efektif jika kita memiliki kekuasaan, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah saw. Berikut, ”Siapa yang melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan kekuasaan. Kalau tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan (tulisan). Kalau tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hati bahwa dakwah melalui legislatif akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Jangan meminta jabatan, tetapi seandainya terpilih, terimalah dengan penuh tanggung jawab. Abu Bakar r.a.,
Senada dengan hal tersebut Umar bin Khathab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan Ali bin Abi Thalib r.a. merupakan insan-insan yang tidak berambisi untuk mendapatkan jabatan,
akan tetapi umat telah memilihnya sebagai khalifah, maka mereka pun menerimanya.
Umar bin Khatab r.a. berkata, “Andai ada kuda terperosok di jalan, Umarlah yang bertanggung jawab”. Suatu hari, Abdullah bin Umar (putranya Umar bin
Khathab) berkunjung ke kantornya. Abdullah ditanya, apakah engkau datang mengunjungi aku sebagai ayah atau atas nama pemerintahan. Abdullah menjawab, aku datang atas nama pribadi karena aku rindu kepada ayah. “Maka Umar memadamkan lentera di kantornya dengan alasan bahwa itu milik rakyat dan tidak berhak untuk menggunakannya di luar urusan pemerintahan.
Ini gambaran bahwa Umar bin Khathab r.a. adalah seorang khalifah yang sangat memegang amanatnya sebagai pemimpin. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (Q.S. An-Nisa: 58). Rasulullah saw. bersabda.
“Apabila amanat disia-siakan, maka nantikan kehancurannya.” Nabi saw, ditanya, apa yang dimaksud dengan menyia-nyikan itu? Rasulullah saw, menjawab, “Apabila wewenang pengelolaan diserahkan kepada yang tidak mampu.” (H.R. Bukhari). Jadi, kalau kita tidak punya kapabilitas untuk menjadi anggota legislatif tetapi memaksakan diri.
Demikian Prof Dr. Ir. Chabullah mengakhiri ceramahnya di tengah tengah para muballigh dengan senyum khasnya. (Nursalim Turatea).






