MabesNews.com – Jeneponto – Kehidupan sederhana sering kali menyimpan kisah keteguhan yang luar biasa. Hal itulah yang tergambar dari sosok Syamsuddin Awing, seorang petani agar-agar sekaligus petani jagung yang telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya pada pekerjaan yang tidak mudah.
Pada Senin, 23 Maret 2026, sekitar pukul 08.25, suasana pagi di kediamannya terasa hangat dan penuh kesederhanaan. Dalam wawancara yang berlangsung di rumahnya, Syamsuddin Awing menceritakan perjalanan hidupnya sebagai petani yang tak pernah berhenti bekerja meski berbagai tantangan kerap menghadang.
Sejak puluhan tahun lalu, Syamsuddin Awing telah menekuni pekerjaan sebagai petani rumput laut atau agar-agar di laut. Pekerjaan itu menuntut kesabaran, ketekunan, dan fisik yang kuat. Tidak jarang ia harus menghabiskan waktu seharian penuh di laut, menghadapi terik matahari, angin, dan ombak demi merawat serta memanen agar-agar yang menjadi sumber penghidupannya.
Namun laut bukan satu-satunya tempat ia menggantungkan harapan. Selain bekerja di laut, Syamsuddin Awing juga mengolah lahan kebun untuk menanam jagung. Aktivitasnya pun sering kali berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jika pagi hingga sore ia berada di laut, maka pada hari lain ia menghabiskan waktu seharian di kebun untuk merawat tanaman jagung yang menjadi tambahan penghasilan bagi keluarganya.
Meski pekerjaan tersebut penuh tantangan, Syamsuddin Awing dikenal sebagai sosok yang tidak pernah mengeluh. Ia menjalani semuanya dengan penuh kesabaran dan ketulusan. Baginya, bekerja adalah bagian dari tanggung jawab untuk menjaga kehidupan keluarga tetap berjalan dengan baik.
Hari ini menjadi hari yang membahagiakan bagi dirinya. Tanaman jagung yang ia rawat selama berbulan-bulan akhirnya memasuki masa panen. Hingga saat wawancara berlangsung, tercatat sudah tujuh gerobak jagung berhasil dipanen dari kebunnya. Hasil itu tentu menjadi kebahagiaan tersendiri, karena merupakan buah dari kerja keras dan ketekunan yang tidak pernah berhenti.
Namun bagi Syamsuddin Awing, kebahagiaan tidak hanya diukur dari hasil panen semata. Kebahagiaan terbesar dalam hidupnya justru terletak pada keluarga yang selalu berada di sekelilingnya. Ia memiliki tiga orang anak yang telah tumbuh dewasa, serta enam orang cucu yang menjadi sumber keceriaan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sela-sela kesibukannya sebagai petani, Syamsuddin Awing tetap meluangkan waktu untuk berkumpul bersama anak dan cucunya. Kehangatan keluarga itulah yang membuatnya merasa hidupnya penuh berkah dan kebahagiaan, meskipun ia menjalani kehidupan yang sederhana.
Semangatnya juga terlihat dari cara ia memandang pekerjaan. Bagi Syamsuddin Awing, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga bentuk rasa syukur atas kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT. Selama tubuhnya masih kuat dan mampu bergerak, ia merasa berkewajiban untuk terus bekerja dan berusaha.
Kisah hidup Syamsuddin Awing menjadi gambaran nyata tentang ketangguhan masyarakat petani dan nelayan yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan di banyak daerah pesisir. Mereka bekerja tanpa banyak sorotan, namun kontribusinya sangat besar dalam menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga dan masyarakat.
Lebih dari itu, kisahnya juga mengajarkan nilai ketekunan, kesederhanaan, dan rasa syukur. Dalam dunia yang sering kali dipenuhi keluhan dan kegelisahan, sosok Syamsuddin Awing justru menunjukkan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan dalam kerja keras, keluarga yang harmonis, dan hati yang selalu bersyukur.
Di usia yang tidak lagi muda, semangatnya tetap menyala. Ia terus bekerja di laut dan di kebun, ditemani anak serta cucu yang menjadi penerus harapan keluarga. Bagi Syamsuddin Awing, hidup adalah perjalanan panjang yang harus dijalani dengan kesabaran, keteguhan, dan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan tulus akan selalu membawa keberkahan.
(Nursalim Turatea).













