Oleh: Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si, Ir. Antoni Ginting, & Mahalli Hakim
Desa Tanjong Putus, Kec. Padang Tualang, Kab. Langkat – Sebuah inovasi sosial dan teknologi sedang tumbuh di pesisir Langkat. Program ini tidak hanya menawarkan solusi atas permasalahan limbah yang menumpuk, tetapi juga membuka jalan bagi kelompok masyarakat rentan untuk berdaya, mandiri, dan berkontribusi langsung pada kesehatan dan ekonomi desa. Melalui pendekatan rekayasa sosial yang unik, limbah domestik, restoran, hingga limbah pertanian dan industri disulap menjadi produk bernilai tinggi seperti karbon aktif dan kalsium organik.

Mengubah Limbah Menjadi Berkah : 7 (Tujuh) Langkah Inovasi
Di tengah tantangan pengelolaan limbah, Program Tata Kelola Limbah Pesisir di Desa Tanjung Putus hadir sebagai oase. Berbagai jenis limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna, seperti cangkang kerang, tulang ikan, tulang hewan ternak, kulit telur, cangkang dan pelepah kelapa sawit, hingga kulit durian, kini menjadi bahan baku produk inovatif. Melalui proses karbonisasi dan kalsium organik, limbah-limbah ini diolah menjadi pupuk, penjernih air, dan bahan additif makanan & minuman yang kaya nutrisi.
Proses pembuatannya mengikuti 7 (tujuh) langkah yang terstruktur, menggunakan kombinasi bahan dan peralatan tradisional serta teknologi tepat guna:
- Pengumpulan: Limbah dikumpulkan dari berbagai sumber menggunakan baskom dan ember.
- Pembersihan / Penyucian: Bahan baku dibersihkan menggunakan air, panci, dan gayung untuk memastikan higienitas.
- Penjemuran / Pengeringan: Limbah dikeringkan di bawah terik matahari menggunakan tampi.
- Penghancuran / Penepungan: Bahan yang sudah kering dihancurkan menggunakan tumbukan alu.
- Pembakaran & Sangrai: Proses karbonisasi dilakukan melalui pembakaran dan penyangraian menggunakan kuali, kompor gas, sudip, oven, dan furnace.
- Penghalusan menjadi Tepung: Karbon dan kalsium yang dihasilkan dihaluskan lebih lanjut menggunakan ayakan dan ball mill.
- Aplikasi & Pengemasan: Produk akhir berupa tepung karbon & kalsium diaplikasikan pada makanan, minuman, kesehatan, dan pupuk pertanian, kemudian dikemas dalam botol plastik.
Pemberdayaan Masyarakat Rentan: Terapi Okupasi sebagai Kunci
Keunikan program ini terletak pada integrasi terapi okupasi dalam pemberdayaan masyarakat. 7 (Tujuh) kelompok rentan, yaitu disabilitas (orang kurang upaya), remaja putus sekolah, orang tua jompo, pengangguran, janda (ibu tunggal), orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), dan penyalahguna narkoba (addictionis), dilibatkan aktif dalam setiap tahap proses pengolahan limbah.
Melalui intervensi terapi okupasi, setiap individu diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, meningkatkan kepercayaan diri, dan menemukan kembali makna hidup melalui pekerjaan yang bermanfaat. Penggunaan peralatan tradisional yang familiar membantu proses adaptasi dan pembelajaran.
Dampak Positif yang Berkelanjutan
Program ini membawa dampak positif yang luas dan berkelanjutan bagi Desa Tanjung Putus:
- Pengentasan Kemiskinan Ekstrem: Masyarakat rentan yang terlibat dalam program menerima upah minimum regional (UMR) sebesar Rp. 100.000,- per hari, memberikan sumber penghasilan yang layak dan meningkatkan taraf hidup mereka.
- Penurunan Prevalensi Stunting: Asupan kalsium fosfat & karbonat organik dari produk yang dihasilkan memberikan solusi nutrisi penting bagi balita, remaja, dan orang tua jompo, membantu memerangi stunting.
- Sirkular Ekonomi: Model ekonomi sirkular diterapkan dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada sumber daya baru.
- Ekonomi Hijau & Biru: Program ini mempromosikan praktik ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, selaras dengan prinsip ekonomi hijau dan biru.
- Green Environment & Zero Waste: Pengelolaan limbah yang efektif mengurangi pencemaran lingkungan, menciptakan desa yang lebih bersih dan sehat, serta mendukung pencapaian target zero waste.
Kolaborasi Kemitraan Model Hepta Helix: Kunci Kinerja Keberhasilan Berdampak
Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi kemitraan yang kuat kuat di-antara 7 (tujuh) jenis stakeholders (Hepta Helix):
- Industri: BUMD dan BUMN (PTPN 4) memberikan dukungan sumber daya dan akses pasar.
- Pemerintah: PEMDA Kabupaten Langkat memberikan dukungan kebijakan dan infrastruktur.
- Universitas: Universitas Sumatera Utara (USU) melalui PUI (Pusat Unggulan Inovasi / Ipteks) Karbon dan Kemenyan memberikan dukungan keahlian teknologi dan riset serta Abdimas.
- NGO: Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berperan dalam pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.
- Lembaga Keuangan: Perbankan (Bank Sumut, BRI & BPR) memberikan akses permodalan.
- Pemuka Masyarakat: Filantropi memberikan dukungan dana dan sosial.
- Media: Media elektronik/cetak/online berperan dalam publikasi dan sosialisasi.
Mendukung SDG’s
Program Tata Kelola Limbah Pesisir di Desa Tanjung Putus berkontribusi langsung pada pencapaian 17 Indikator SDG’s (Sustainable Development Goals), khususnya terkait dengan pengentasan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, inovasi, konsumsi dan produksi bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.
Business Model Canvas (BMC)
| Key Partnerships | Key Activities | Value Propositions | Customer Relationships | Customer Segments | |
| PTPN 4, PEMDA Langkat, USU, NGO, Perbankan, Filantropi, Media | Pengumpulan Limbah, Pengolahan (7 Langkah), Pelatihan Kelompok Rentan, Pemasaran Produk | Produk Karbon Aktif & Kalsium Organik Berkualitas, Solusi Nutrisi Stunting, Pemberdayaan Kelompok Rentan, Model Ekonomi Sirkular | Pendampingan Terapi Okupasi, Kemitraan Jangka Panjang, Edukasi Masyarakat | Petani, Industri Makanan, Industri Kesehatan, Lembaga Pemerintah, Masyarakat Desa | |
| Key Resources | Channels | Cost Structure | Revenue Streams | ||
| Bahan Baku Limbah, Peralatan (Tradisional & Teknologi), Lahan Pengolahan, Tenaga Kerja (Kelompok Rentan), Keahlian (USU) | Penjualan Langsung, Kemitraan dengan Industri, Media Sosial, Lembaga Pemerintah | Biaya Pengumpulan & Pengolahan, Upah Tenaga Kerja, Biaya Pemasaran, Biaya Pelatihan & Pendampingan | Penjualan Produk (Pupuk, Penjernih Air, Additif Makanan/Minuman), Pendanaan dari Mitra | ||
Concept Mapping
Concept Mapping di sini, menghubungkan berbagai elemen program seperti: Limbah (Sumber & Jenis), Proses (7 Langkah), Kelompok Rentan (7 Kelompok), Dampak (Kemiskinan, Stunting, Ekonomi Sirkular, Lingkungan), Stakeholders (Hepta Helix), dan SDG’s.]
Tentang Penulis:
- Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si: Kepala Laboratorium Fisika Nuklir USU-Medan, Peneliti PUI Karbon & Kemenyan USU, Mantan Dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK-UI), Bagian Dasar Keperawatan & Keperawatan Dasar (DKKD), Mantan Manajer EDIC (Engineering Data Information Centre), Fakultas Engineering UI-Depok, Mantan Pensyarah Teknologi Makanan (Food Technology) University Malaysia Terengganu (UMT), Kuala Terengganu Malaysia.
- Antoni Ginting: Wakil Ketua DPRD LANGKAT.
- Mahalli Hakim: Sekretaris Komisi 4 DPRD Langkat.













