​Refleksi 27 Tahun Madina: Iskandar Hasibuan Ingatkan Peran Vital Wartawan dan Tokoh Pejuang Pemekaran

Pemerintah194 views

MabesNews.com, PANYABUNGAN – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang jatuh pada 9 Maret 2026, suara kritis sekaligus reflektif muncul dari salah satu saksi sejarah perjuangan pemekaran Bumi Gordang Sambilan.

​Iskandar Hasibuan, SE, wartawan senior dari Waspada.id Medan, menegaskan bahwa kemajuan dan eksistensi Madina hari ini tidak lepas dari tetesan keringat para pejuang pemekaran dari berbagai elemen. Ia menyoroti bahwa peran jurnalis atau wartawan memiliki andil yang sangat besar dalam menyuarakan aspirasi rakyat hingga terbentuknya kabupaten ini.

​”Selain tokoh politik, ASN, ulama, tokoh masyarakat, serta organisasi pemuda seperti OKP dan KNPI, wartawan adalah pilar yang mengawal narasi perjuangan pemekaran Mandailing Natal hingga ke tingkat nasional,” ujar Iskandar saat ditemui di kediamannya, Jalan Bermula, Panyabungan, Minggu malam (08/03).

​Menolak Lupa Sejarah

​Kabupaten Mandailing Natal resmi terbentuk melalui UU No. 12 Tahun 1998, hasil pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan. Meskipun diresmikan pada November 1998, hari jadinya diperingati setiap 9 Maret sejak tahun 1999. Tahun ini, peringatan ke-27 bertepatan dengan suasana khidmat bulan suci Ramadhan.

​Iskandar mengingatkan Bupati, Wakil Bupati, hingga 40 anggota DPRD Madina agar tidak terbuai dengan jabatan struktural yang dinikmati saat ini tanpa melihat akar sejarah.

​”Kita harus ingat dan bersyukur. Posisi Bupati, Wakil Bupati, maupun kursi di DPRD Madina hari ini belum tentu ada jika Mandailing Natal tidak memisahkan diri dari Tapanuli Selatan. Ini adalah buah dari perjuangan kolektif,” tegas sosok wartawan gaek tersebut.

​Seruan untuk Panitia HUT

​Sebagai pelaku sejarah yang telah menekuni profesi wartawan sejak tahun 1992, Iskandar menyayangkan jika momentum ulang tahun daerah hanya sekadar seremoni tanpa penghormatan kepada para perintis.

Ia meminta Panitia HUT Madina dan Pemerintah Daerah untuk memberikan apresiasi kepada para pejuang pemekaran yang masih hidup.

​”Jangan lupakan sejarah. Panitia seharusnya mengundang mereka, para pejuang yang masih ada. Meskipun hanya dengan secarik kertas undangan, itu adalah bentuk penghormatan dan pengakuan bahwa mereka pernah berjuang untuk tanah kelahiran ini,” tambahnya.

​Pernyataan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kebijakan di Mandailing Natal agar perayaan HUT ke-27 bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan momentum untuk menghargai jasa para pendahulu yang telah membuka jalan bagi berdirinya pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal.

 

(Sawaluddin)