Program MBG di Kindang Disorot: Jangan Hanya Seremonial, Kualitas Makanan Harus Jadi Prioritas

Bulukumba – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai disalurkan ke sekolah-sekolah di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, menuai perhatian publik. Meski tujuannya mulia—meningkatkan gizi dan kesehatan anak sekolah—pelaksanaannya di lapangan kini mendapat sorotan agar tak sekadar menjadi proyek pencitraan.

Ketua Garda Lidik Pro DPD Kabupaten Bulukumba, Fahrul Idris Malluluang, menegaskan bahwa pelaksanaan MBG di Kindang harus berjalan transparan dan berkualitas, bukan asal salur.

“Kita ingin memastikan program MBG ini benar-benar bermanfaat bagi anak-anak sekolah di Kecamatan Kindang. Jangan sampai ditemukan makanan basi atau tidak layak konsumsi seperti yang sempat terjadi di beberapa daerah lain,” tegas Fahrul, Rabu (5/11/2025).

Fahrul juga mendesak agar pihak sekolah dan instansi terkait tidak lepas tangan setelah distribusi dilakukan.

“Kualitas makanan harus menjadi prioritas utama. Pastikan makanan yang diberikan segar, bergizi, dan aman dikonsumsi. Kita bicara soal kesehatan anak-anak, bukan sekadar bagi-bagi nasi kotak,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menilai bahwa pengawasan di lapangan harus diperkuat agar program ini tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang hanya mengejar keuntungan.

“Jangan jadikan MBG ini ladang proyek. Setiap rupiah dari anggaran rakyat harus dipertanggungjawabkan, apalagi menyangkut gizi anak sekolah,” tegasnya.

Meski demikian, Fahrul tetap memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah atas upaya melaksanakan program MBG. Ia berharap agar pelaksanaannya di Bulukumba bisa menjadi contoh baik, bukan justru menambah daftar panjang persoalan bantuan sosial yang bermasalah.

“Program ini sangat baik jika dijalankan dengan sungguh-sungguh. Tapi kalau hanya sekadar formalitas, manfaatnya tidak akan dirasakan masyarakat,” tambahnya.

Dengan penyaluran program MBG di Kindang, publik kini menunggu bukti nyata: apakah anak-anak benar-benar mendapatkan makanan bergizi dan aman, atau sekadar menu seadanya yang diklaim “bergizi” di atas kertas.*