Prof. Chalullulah Wibisono: Ulil Albab, Pilar Peradaban Batam Masa Depan

Pemerintah142 views

MabesNews.com – Batam, 2025 — Pembangunan Kota Batam menuju bandar dunia madani di perbatasan Indonesia tidak hanya membutuhkan terobosan infrastruktur dan kebijakan ekonomi yang adaptif, melainkan juga kehadiran sosok-sosok berjiwa luhur: ulil albab. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Chalullulah Wibisono, MM—Guru Besar Universitas Batam, Wakil Ketua Umum MUI Kepulauan Riau, dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Batam—dalam sebuah refleksi ilmiah yang menggugah kesadaran banyak pihak.

Menurut Prof. Chalullulah, ulil albab adalah figur intelektual yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memadukannya dengan kebijaksanaan spiritual. Mereka bukan hanya cerdas berpikir, namun juga bening hatinya, tajam nuraninya, dan berkomitmen pada nilai-nilai ketuhanan serta kemanusiaan. Dalam membangun Batam yang inklusif dan berkeadaban, peran para ulil albab sangat strategis: menjadi penentu arah dan penjaga nilai-nilai luhur di tengah arus globalisasi yang seringkali mereduksi aspek moral dan etika.

Ia menjelaskan bahwa dalam konstruksi pendidikan Islam dan kebangsaan, ada tiga entitas utama yang harus hadir: ilmuwan sebagai pencari dan pengembang ilmu, ulama sebagai penjaga dan penerus risalah kenabian, serta ulil albab sebagai sintesis keduanya—ilmuwan berjiwa ruhaniah. Ketiganya berkontribusi dalam membentuk sistem pendidikan yang utuh, tidak hanya mencetak manusia produktif, tapi juga manusia paripurna.

Namun, kegagalan pendidikan dalam membentuk karakter menjadi catatan serius. Prof. Chalullulah mengkritik keras realitas saat ini, di mana sebagian lulusan perguruan tinggi justru terlibat dalam praktik korupsi, kolusi, dan manipulasi kekuasaan. Data dari KPK tahun 2023 bahkan menunjukkan bahwa pelaku korupsi terbanyak berasal dari kalangan berpendidikan tinggi. Ini menunjukkan adanya kekosongan nilai dalam sistem pendidikan yang terlalu fokus pada aspek kognitif, namun abai pada pembentukan karakter dan spiritualitas.

“Ilmu pengetahuan tanpa kesadaran moral adalah pisau bermata dua. Ia bisa membangun, tapi juga bisa menghancurkan,” tegasnya.

Sebagai solusi, ia mengusulkan paradigma baru pendidikan yang mampu membentuk insan ulil albab: generasi berilmu, berhati jernih, serta memiliki kompas nilai yang kuat. Pendidikan tidak boleh lagi hanya mengejar capaian akademik, tapi harus menjadi jalan untuk membentuk manusia berintegritas, berpikir kritis namun tetap menjunjung etika dan iman.

Lebih lanjut, Prof. Chalullulah mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari lembaga pendidikan, tokoh agama, pejabat publik, hingga komunitas sipil—untuk bergotong royong membangun ekosistem pembelajaran yang holistik. Sebab menurutnya, Batam sebagai bandar dunia madani bukan hanya harus unggul dalam ekonomi dan teknologi, tapi juga harus menjadi contoh peradaban yang beradab dan memberkahi semua yang hidup di dalamnya.

“Membangun Batam bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Ini adalah proyek peradaban. Dan peradaban hanya bisa ditopang oleh manusia-manusia yang tercerahkan—yakni para ulil albab,” tutupnya penuh keyakinan. (Nursalim Turatea)