Mabesnews.com, Tanjungpinang — Transformasi wajah ruang publik di ibu kota Kepulauan Riau memasuki babak baru. Pemerintah Provinsi Kepri melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan (PUPP) resmi mengumumkan bahwa pekerjaan penataan lanjutan Taman Gurindam 12 telah tuntas seratus persen. Revitalisasi kawasan sepanjang 300 meter pesisir ini bukan hanya menyelesaikan proyek fisik, tetapi mempertegas arah pembangunan Tanjungpinang sebagai waterfront city modern yang bertumpu pada identitas Melayu dan penguatan ruang sosial masyarakat.
Kepala Dinas PUPP Kepri, Rodi Yantari, menyampaikan bahwa penataan terbaru menghadirkan sejumlah elemen yang memperkuat karakter kawasan. Pembangunan podium sunset menjadi daya tarik utama. Fasilitas baru ini dirancang sebagai titik pandang yang langsung menghadap ke Pulau Penyengat—pulau bersejarah yang selama berabad-abad menjadi pusat peradaban Melayu dan tempat lahirnya naskah-naskah klasik yang membentuk struktur budaya Kepri. Di podium inilah warga dan wisatawan dapat menikmati panorama matahari terbenam dengan lanskap budaya yang utuh, menggabungkan rekreasi, sejarah, dan refleksi dalam satu ruang.
Jalur pedestrian dan jogging track ditata ulang agar lebih ramah keluarga, inklusif, dan nyaman bagi seluruh kalangan. Penambahan vegetasi penghijauan diletakkan secara strategis untuk menciptakan keteduhan alami, memperbaiki kualitas udara, dan menambah estetika kawasan. Penataan ini, menurut Rodi, bukan hanya proyek pembangunan, tetapi investasi jangka panjang dalam kualitas hidup masyarakat. Ia menekankan pentingnya partisipasi publik untuk menjaga kebersihan dan fasilitas agar kawasan tetap berfungsi sebagai ruang publik modern yang bisa dinikmati jangka panjang.
Dukungan dari masyarakat pun mengalir. Tokoh tempatan sekaligus Ketua Perkumpulan UMKM Taman Gurindam 12, Zulkufli Riawan, S.E., menilai revitalisasi ini sebagai momentum penting untuk memperkuat hubungan emosional masyarakat dengan ruang-ruang bersejarah mereka. Baginya, Gurindam 12 kini bukan sekadar taman kota, melainkan jembatan yang menyatukan warga dengan warisan Penyengat melalui visualisasi langsung yang memikat, terutama dari podium sunset.
“Penataan baru ini bukan hanya mempercantik kawasan, tetapi mendekatkan masyarakat pada identitasnya. Dari sini, orang bisa melihat Penyengat bukan sebagai simbol jauh, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Pandangan berbeda disampaikan tokoh pemuda Tanjungpinang, Rianto. Ia menyoroti kesempatan besar yang muncul bagi generasi muda melalui hadirnya ruang publik yang aman, bersih, dan multifungsi. Menurutnya, fasilitas baru dapat menjadi ruang bagi energi kreatif, olahraga, kegiatan komunitas, hingga ruang berkumpul yang sehat.
“Generasi muda butuh tempat bertumbuh, berekspresi, dan berinteraksi. Gurindam 12 kini siap menjadi ruang tersebut. Pemerintah sudah membangun pondasinya, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya dengan bijak,” katanya.
Revitalisasi ini juga memberikan dorongan nyata bagi perekonomian lokal. Peningkatan estetika dan kenyamanan kawasan membuat pelaku UMKM, pedagang kuliner, dan penyedia jasa wisata di sekitar Gurindam 12 merasakan efek langsung berupa naiknya kunjungan publik. Mereka melihat penataan ini sebagai peluang untuk memperluas pasar, terutama pada akhir pekan dan musim liburan.
Meski pekerjaan tahun ini telah selesai, Pemerintah Provinsi Kepri rupanya telah menyiapkan langkah lanjutan. Rodi Yantari menyebut bahwa rencana pengembangan 2026 akan tetap berfokus pada penguatan fungsi sosial, estetika tepi laut, dan peningkatan kenyamanan pengunjung. Ini menjadi indikasi bahwa Gurindam 12 sedang dibangun sebagai proyek berkelanjutan, bukan sekadar penyelesaian satu tahap.
Rampungnya penataan tahun ini menegaskan kembali bahwa Taman Gurindam 12 bukan hanya ruang untuk berjalan dan bersantai, tetapi simbol keterhubungan antara pembangunan, budaya, dan partisipasi warga. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana kota pesisir dapat tumbuh modern tanpa meninggalkan akar sejarahnya, sembari membangun ruang publik yang menjadi pusat aktivitas, identitas, dan harapan masyarakat.
Tanjungpinang kini memegang modal penting untuk memperkuat citra sebagai kota pesisir yang berdaya saing: sebuah kota yang tidak hanya membangun bangunan, tetapi membangun ruang hidup. Dengan keterlibatan aktif masyarakat dan penguatan tata kelola, Gurindam 12 dapat menjadi model bagaimana ruang publik dirawat, digunakan, dan dirayakan bersama.
[ arf-6 ]







