Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H: Panduan Ibadah Umat dengan Metode Hisab Global

Mabesnews.com, Yogyakarta — Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi mengumumkan penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah sebagai pedoman bagi warga Muhammadiyah dalam menjalankan ibadah sepanjang tahun 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang telah diputuskan melalui Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan beberapa waktu lalu.

Pengumuman ini disampaikan secara resmi oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dari Yogyakarta, yang menjadi pusat administrasi organisasi tersebut. Keputusan tersebut bukan hanya sekadar penetapan tanggal ibadah, melainkan juga mencerminkan komitmen Muhammadiyah dalam mengembangkan sistem kalender Islam yang lebih ilmiah, sistematis, dan dapat digunakan secara global oleh umat Islam.

Dalam penjelasan yang disampaikan, disebutkan bahwa penentuan awal bulan hijriah dilakukan melalui metode hisab hakiki wujudul hilal yang dikembangkan dengan pendekatan parameter kalender global. Metode ini mempertimbangkan posisi bulan dan matahari secara astronomis sehingga dapat menghasilkan kepastian waktu yang akurat serta memungkinkan umat Islam di berbagai belahan dunia memiliki keseragaman kalender ibadah.

Berdasarkan hasil perhitungan astronomi tersebut, diketahui bahwa ijtimak menjelang Ramadan 1447 Hijriah terjadi pada Selasa Kliwon, 29 Syakban 1447 H bertepatan dengan 17 Februari 2026 pada pukul 12.01.09 UTC. Setelah perhitungan posisi bulan dan matahari dilakukan, diketahui bahwa pada saat matahari terbenam di hari terjadinya ijtimak terdapat wilayah di muka bumi yang telah memenuhi parameter Kalender Global, yaitu tinggi bulan minimal lima derajat dan elongasi bulan minimal delapan derajat.

Wilayah yang pertama kali memenuhi parameter tersebut berada di kawasan daratan Amerika dengan koordinat lintang sekitar 56°48’49” LU dan bujur 158°51’44” BB. Pada saat itu tinggi bulan telah mencapai lebih dari lima derajat dengan elongasi sekitar delapan derajat lebih, sehingga secara astronomis hilal telah memenuhi syarat untuk penetapan awal bulan baru dalam kalender hijriah global.

Dengan terpenuhinya kriteria tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Rabu Legi, 18 Februari 2026 Masehi. Tanggal tersebut menjadi awal dimulainya ibadah puasa Ramadan bagi warga Muhammadiyah di seluruh dunia yang mengikuti kalender hijriah global yang ditetapkan organisasi tersebut.

Selanjutnya, untuk penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah, Majelis Tarjih dan Tajdid juga melakukan perhitungan hisab dengan pendekatan yang sama. Diketahui bahwa ijtimak menjelang Syawal terjadi pada Kamis Kliwon, 30 Ramadan 1447 H bertepatan dengan 19 Maret 2026 pada pukul 01.23.28 UTC.

Pada saat matahari terbenam di hari tersebut, terdapat wilayah di bumi yang telah memenuhi parameter kalender global dengan tinggi bulan lebih dari lima derajat dan elongasi bulan lebih dari delapan derajat. Salah satu wilayah yang pertama memenuhi kriteria tersebut berada di kawasan Amerika dengan koordinat lintang sekitar 64°59’57.47″ LU dan bujur 42°03’3.47″ BT. Pada saat itu tinggi bulan telah mencapai sekitar enam derajat lebih dengan elongasi sekitar delapan derajat.

Dengan terpenuhinya parameter astronomis tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026 Masehi. Penetapan ini menjadi acuan bagi warga Muhammadiyah dalam melaksanakan salat Idulfitri serta merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Adapun untuk penetapan awal Zulhijah 1447 Hijriah, hasil hisab menunjukkan bahwa ijtimak menjelang bulan Zulhijah terjadi pada Sabtu Pon, 29 Zulkaidah 1447 H yang bertepatan dengan 16 Mei 2026 pada pukul 20.01.02 UTC. Namun pada saat matahari terbenam di hari terjadinya ijtimak tersebut belum terdapat wilayah di muka bumi yang memenuhi parameter Kalender Global pertama, yaitu tinggi bulan minimal lima derajat dan elongasi bulan minimal delapan derajat sebelum pukul 24.00 UTC.

Karena parameter tersebut belum terpenuhi sebelum tengah malam waktu universal, maka penetapan awal bulan Zulhijah mengikuti parameter berikutnya. Setelah pukul 24.00 UTC, terdapat wilayah yang telah memenuhi kriteria astronomis tersebut, sementara ijtimak juga telah terjadi sebelum waktu fajar di wilayah Selandia Baru. Dengan demikian, awal bulan Zulhijah dapat ditetapkan secara global.

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026 Masehi. Penetapan ini sekaligus menentukan rangkaian ibadah haji serta hari-hari penting dalam bulan Zulhijah.

Selanjutnya, Hari Arafah atau 9 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Selasa Pon, 26 Mei 2026, yang merupakan waktu pelaksanaan wukuf di Arafah bagi jamaah haji di Tanah Suci serta menjadi momentum puasa Arafah bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Adapun Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah yang bertepatan dengan 10 Zulhijah jatuh pada Rabu Wage, 27 Mei 2026 Masehi. Pada hari tersebut umat Islam melaksanakan salat Iduladha dan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT serta meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS.

Keputusan ini ditetapkan secara resmi di Yogyakarta pada tanggal 30 Rabiulawal 1447 Hijriah yang bertepatan dengan 22 September 2025 Masehi. Dokumen tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., serta Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., Ph.D.

Pengumuman ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat luas dalam menyiapkan rangkaian ibadah sepanjang tahun hijriah 1447. Selain itu, keputusan ini juga mencerminkan komitmen Muhammadiyah untuk terus mengembangkan pendekatan ilmiah dalam penentuan kalender Islam agar dapat memberikan kepastian waktu yang lebih terukur bagi umat.

Lebih jauh, sistem Kalender Hijriah Global yang dikembangkan Muhammadiyah juga dimaksudkan sebagai upaya menuju kesatuan waktu ibadah umat Islam secara internasional. Dengan pendekatan astronomi modern dan prinsip kesatuan matla’ global, Muhammadiyah berharap umat Islam di berbagai negara dapat memiliki kalender ibadah yang sama sehingga perbedaan penetapan hari-hari besar Islam dapat semakin diminimalisir.

Dengan adanya kepastian kalender tersebut, umat Islam dapat mempersiapkan diri lebih awal dalam menyambut bulan Ramadan, merencanakan kegiatan ibadah di bulan suci, serta mengatur berbagai aktivitas sosial keagamaan seperti zakat, takbir keliling, salat Idulfitri, hingga penyelenggaraan kurban pada Hari Raya Iduladha.

Penetapan ini sekaligus menjadi wujud dari upaya Muhammadiyah dalam memadukan ilmu pengetahuan, tradisi keagamaan, dan kebutuhan umat modern. Dengan landasan ilmiah yang kuat serta semangat tajdid atau pembaruan, Muhammadiyah terus berupaya memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pemikiran Islam yang rasional, progresif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Demikian maklumat ini disampaikan agar menjadi pedoman bagi seluruh warga Muhammadiyah dalam menjalankan ibadah serta dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Nasrun minallahi wa fathun qarib.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.(Nursalim Turatea).