Mengapa Saya Menulis Puisi

L K Ara

 

Mabesnews.com-Takengon-Saya menulis puisi bukan karena ingin tampak sebagai penyair, bukan pula karena hendak mengejar gelar yang sering diperebutkan orang-orang dalam keramaian sastra. Saya menulis puisi karena ada hal-hal dalam hidup yang terlalu dalam untuk diucapkan dengan percakapan biasa. Ada kesedihan yang bila diceritakan terasa dangkal, ada kebahagiaan yang bila diterangkan menjadi kecil, dan ada rindu yang hanya bisa hidup jika dibiarkan menjadi bait-bait kata.

Puisi bagi saya adalah jalan sunyi untuk berbicara kepada diri sendiri. Ketika dunia terlalu gaduh, puisi datang sebagai ruang hening. Di dalamnya saya dapat duduk bersama kenangan, berbincang dengan masa lalu, dan memandang masa depan tanpa tergesa-gesa. Kata-kata dalam puisi bukan sekadar rangkaian bunyi, tetapi tempat bernaung bagi jiwa yang letih.

 

Saya menulis puisi karena hidup ini sering tidak adil bila hanya diukur dengan angka. Ada orang kaya tetapi miskin kasih sayang. Ada rumah besar tetapi sepi tawa. Ada jabatan tinggi tetapi rendah nurani. Puisi memberi kesempatan untuk menimbang kehidupan dengan timbangan yang lebih halus: perasaan, nurani, cinta, luka, dan harapan.

 

Saya lahir dan tumbuh di tanah yang kaya sejarah, adat, dan suara alam. Dari pegunungan, danau, hujan, azan subuh, jalan kampung, hingga wajah-wajah sederhana yang bekerja tanpa banyak bicara—semuanya mengajarkan bahasa yang tidak selalu tertulis. Saya hanya meminjam suara itu lalu mengubahnya menjadi puisi. Karena itu, menulis bagi saya juga berarti mencatat jejak tanah kelahiran agar tidak hilang ditelan waktu.

 

Saya menulis puisi karena usia mengajarkan bahwa manusia tidak membawa banyak hal saat pulang nanti. Harta tinggal, nama perlahan pudar, tepuk tangan berhenti. Tetapi kata yang jujur bisa tinggal lebih lama dari tubuh. Sebaris puisi kadang lebih abadi daripada bangunan megah, sebab bangunan bisa runtuh, sementara makna dapat berpindah dari hati ke hati.

 

Puisi juga menjadi cara saya berdamai dengan kehilangan. Kita semua pernah kehilangan: orang yang dicintai, masa muda, kesempatan, bahkan sebagian dari diri sendiri. Tidak semua kehilangan bisa dikembalikan, tetapi sebagian bisa diubah menjadi cahaya melalui tulisan. Luka yang ditulis dengan ikhlas sering menjelma pelajaran bagi orang lain.

 

Di dalam buku ini, saya tidak hanya memuat puisi, tetapi juga uraian tentang makna di baliknya. Sebab saya percaya puisi bukan tembok yang harus membuat pembaca tersesat, melainkan jendela yang dapat dibuka bersama. Kadang orang membaca puisi dan bertanya, “Apa maksudnya?” Maka saya ingin menemani pembaca masuk ke ruang kata itu, agar puisi terasa dekat, bukan asing.

 

Saya menulis puisi karena saya mencintai bahasa. Bahasa adalah rumah bagi peradaban. Jika bahasa dibiarkan kering, manusia akan kehilangan kepekaan. Puisi menyirami bahasa agar tetap hidup, lentur, dan indah. Dalam puisi, kata sederhana seperti *air, ibu, jalan, senja,* atau *doa* dapat kembali bercahaya.

 

Akhirnya, saya menulis puisi karena saya manusia biasa yang ingin meninggalkan jejak dengan cara sederhana. Saya tidak membangun istana, tidak memimpin pasukan, tidak menguasai dunia. Saya hanya menyusun kata. Tetapi saya percaya, kadang satu bait yang tulus mampu mengetuk pintu hati lebih kuat daripada seribu pidato.

 

Maka selama napas masih diberi, selama mata masih dapat melihat langit, selama hati masih tergetar oleh tangis dan senyum manusia—saya akan terus menulis puisi. Karena bagi saya, puisi bukan sekadar tulisan. Ia adalah cara hidup, cara mengenang, cara bersyukur, dan cara pulang.***

-Editor bachtiar adamy-