Mendobrak Maritim Modern: Marhaenisme sebagai Harapan Dunia di Malaka Baru

Pemerintah115 views

Oleh: Martin Sembiring, S.T., M.T.

Mabesnews.com, Selama berabad-abad, Selat Malaka telah menjadi “leher dunia” yang memberikan kemakmuran bagi siapa pun yang menguasainya. Namun, sejarah panjang ini menyisakan ironi: Indonesia, sang pemilik garis pantai terpanjang, seringkali hanya menjadi penonton saat Singapura meraup triliunan rupiah.

Memasuki tahun 2026, revitalisasi Dumai-Kuala Tanjung sebagai “Malaka Baru” harus diletakkan dalam satu bingkai besar: Kebangkitan Rakyat Marhaen. Proyek ini tidak boleh hanya menjadi monumen beton, melainkan manifestasi nyata dari Asta Cita demi kedaulatan rakyat. Marhaenisme bukan lagi sekadar sejarah, ia adalah harapan dunia untuk ekonomi yang lebih adil.

1. Kedaulatan dan Harga Diri Marhaen (Asta Cita 2)

Visi “Malaka Baru” yang diusung Arief Poyuono adalah perwujudan Cita ke-2 untuk memperkuat pertahanan dan kemandirian bangsa. Mendobrak dominasi Malaka adalah cara kita menunjukkan bahwa rakyat Marhaen tidak lagi mau menjadi “pelayan di rumah sendiri”. Kita menggugat dominasi asing dengan membuktikan bahwa kita mampu mengelola pintu gerbang dunia secara mandiri dan bermartabat.

2. Sinergi Global, Kemenangan Lokal (Asta Cita 5 & 3)

Hilirisasi dalam Cita ke-5 jangan hanya dimaknai sebagai pembangunan pabrik besar. Kehadiran investasi Rusia (teknologi galangan) dan UEA/DP World (sistem logistik) di bawah supervisi pemerintah pusat harus menjadi alat transfer pengetahuan.

– Marhaenis Modern: Rakyat Marhaen—para nelayan Bengkalis dan buruh Dumai—harus dibekali pendidikan vokasi (Cita ke-4) agar mampu mengoperasikan teknologi tercanggih dunia.

– Hilirisasi harus menyentuh pengolahan hasil laut dan tani rakyat agar nilai tambahnya dinikmati langsung oleh orang banyak.

3. Membangun dari Bawah (Asta Cita 6)

Melalui Cita ke-6, pembangunan Dumai oleh H. Paisal dan Bengkalis oleh Kasmarni harus memastikan bahwa kemajuan pelabuhan tidak menggusur pemukiman nelayan. Infrastruktur dasar adalah “karpet merah” bagi rakyat. Desa-desa pesisir harus bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru yang terhubung langsung dengan pasar dunia melalui koperasi maritim yang kuat sebagai antitesis kapitalisme global.

4. Digitalisasi yang Inklusif (Asta Cita 4 & 7)

Marhaenisme abad 21 adalah Marhaenisme yang melek teknologi. Digitalisasi pelabuhan jangan sampai mematikan usaha kecil, melainkan harus mempermudah UMKM lokal untuk mengekspor barangnya ke mancanegara lewat “pintu tol” laut ini. Inilah esensi dari reformasi birokrasi dan tata kelola yang inklusif.

Penutup

Singapura besar karena sistem, namun Indonesia akan jauh lebih besar karena memiliki ruh kerakyatan. Dumai dan Kuala Tanjung adalah medan laga untuk membuktikan bahwa di bawah Asta Cita, rakyat kecil mampu berdiri tegak sebagai tuan di pusat perdagangan dunia. Marhaenisme adalah harapan dunia.

Referensi Strategis

1. Dokumen Visi Negara

– Asta Cita Prabowo-Gibran: Fokus pada Cita ke-2 (Kemandirian Maritim), Cita ke-5 (Hilirisasi), Cita ke-6 (Membangun dari Desa), dan Cita ke-4 (Penguatan SDM/Vokasi).

– Visi Indonesia Emas 2045: Transformasi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

2. Rujukan Isu Terkini (2025-2026)

– Arief Poyuono (Komisaris Pelindo): Gagasan strategis revitalisasi Dumai-Kuala Tanjung sebagai pesaing utama Selat Malaka.

– Kerja Sama Internasional: Investasi galangan kapal Rusia dan sistem logistik pintar DP World (UEA) di pelabuhan strategis Sumatera.

– Kepemimpinan Daerah: Kebijakan RTRW dan infrastruktur penunjang oleh Walikota Dumai (H. Paisal) dan Bupati Bengkalis (Kasmarni) dalam mendukung jalur logistik internasional.

3. Landasan Ideologis

– Marhaenisme (Bung Karno): Pembelaan terhadap hak ekonomi rakyat kecil yang memiliki alat produksi.

– Ekonomi Biru (Blue Economy): Pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

 

/Bay