L. K. Ara
Mabesnews.com, Setiap tanggal 5 Agustus, masyarakat Gayo memiliki alasan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan modern. Hari itu bukan sekadar penanda kalender, melainkan momentum untuk mengenang salah satu mahakarya kebudayaan yang diwariskan para leluhur: Didong. Ia bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga ruang tempat sejarah, sastra, pendidikan, moral, dan spiritualitas bertemu dalam irama yang hidup.
Didong lahir dari tanah tinggi Gayo sebagai tradisi yang memadukan syair, tepukan ritmis, gerak tubuh, dan kepiawaian bertutur. Dalam satu pertunjukan, kita menyaksikan bagaimana kata-kata tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupkan. Syair-syairnya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara pengalaman hidup dan kebijaksanaan yang diwariskan.
Di balik kemeriahan sebuah pertunjukan Didong, sesungguhnya tersimpan filsafat yang mendalam. Orang Gayo sejak dahulu memahami bahwa kata-kata memiliki kekuatan membangun masyarakat. Karena itu, Didong dijadikan media menyampaikan nasihat, mengkritik keadaan, menguatkan persaudaraan, bahkan menyelesaikan persoalan sosial melalui bahasa yang santun dan bermartabat.
Pada zaman dahulu, ketika belum banyak buku dan sekolah, Didong menjadi “universitas rakyat”. Dari sanalah masyarakat belajar tentang adat, agama, sejarah, etika, hingga kecintaan kepada kampung halaman. Para ceh Didong bukan hanya seniman, tetapi juga guru kehidupan yang dihormati karena keluasan ilmu dan kebijaksanaannya.
Namun, zaman terus berubah. Arus digital menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Anak-anak muda lebih akrab dengan layar gawai daripada syair-syair yang dahulu bergema di kampung-kampung. Banyak maestro Didong telah berpulang tanpa sempat meninggalkan dokumentasi yang memadai. Jika keadaan ini terus dibiarkan, bukan mustahil suatu hari nanti Didong hanya tinggal nama dalam buku sejarah.
Karena itu, memperingati Hari Didong tidak cukup dengan menyelenggarakan festival atau perlombaan. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran kolektif bahwa Didong merupakan warisan budaya yang harus dirawat bersama. Sekolah-sekolah perlu mengenalkan Didong kepada generasi muda. Perguruan tinggi perlu menelitinya secara serius. Pemerintah daerah perlu memberikan ruang pembinaan yang berkelanjutan. Masyarakat pun perlu kembali menghadirkan Didong dalam kehidupan sosial sebagai bagian dari identitas budaya.
Dokumentasi juga menjadi pekerjaan besar yang harus segera dilakukan. Ratusan syair Didong, kisah para maestro, gaya pertunjukan, hingga berbagai ragam irama perlu direkam, ditulis, diterbitkan, dan didigitalisasi. Apa yang tidak didokumentasikan, perlahan akan hilang bersama waktu.
Didong juga memiliki potensi besar sebagai wajah kebudayaan Indonesia di mata dunia. Nilai-nilai yang dikandungnya—persaudaraan, kebersamaan, penghormatan kepada ilmu, dan kecintaan kepada Tuhan—adalah nilai-nilai universal yang dapat dipahami oleh siapa pun. Dengan pengelolaan yang baik, Didong bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Gayo, tetapi juga bagian penting dari diplomasi budaya Indonesia.
Hari Didong sesungguhnya mengingatkan kita pada satu hal sederhana: sebuah peradaban bertahan bukan hanya karena gedung-gedungnya yang megah, melainkan karena ingatan budayanya tetap hidup. Ketika sebuah masyarakat kehilangan lagu, syair, dan tradisinya, pada saat yang sama ia sedang kehilangan sebagian dari jati dirinya.
Maka, marilah kita menjadikan 5 Agustus bukan sekadar hari peringatan, tetapi hari untuk memperbarui janji kepada para leluhur: bahwa suara Didong akan terus bergema di tanah Gayo, di ruang-ruang pendidikan, di panggung kebudayaan, dan di hati generasi yang akan datang.
Selama tepukan Didong masih bersahut, selama syair masih dilantunkan dengan penuh cinta, selama nilai-nilai luhur terus diwariskan, selama itu pula denyut kebudayaan Gayo akan tetap hidup.
Selamat Memperingati Hari Didong, 5 Agustus 2026.
Merawat Didong berarti merawat ingatan. Merawat ingatan berarti menjaga masa depan.
Jakarta, 5 Agustus 2026










