MABESNEWS.COM, KODI UTARA, SUMBA BARAT DAYA, NTT – Di tengah berbagai upaya pemerataan pembangunan yang terus digaungkan pemerintah, masih terdapat wilayah yang hingga kini bergulat dengan keterbatasan infrastruktur dasar. Kondisi tersebut dialami masyarakat di lima kampung di Desa Hohawungo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, yakni Kampung Homba Temanu, Rada Bondi, Kataku Hamawa, Bondo Ghela, dan Padede Lero.
Bagi masyarakat di lima kampung tersebut, pembangunan belum sepenuhnya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Hingga kini, warga masih menghadapi keterbatasan akses terhadap listrik, air bersih, dan jalan yang layak. Padahal, ketiga fasilitas tersebut merupakan kebutuhan dasar yang sangat menentukan kualitas hidup masyarakat.
Kondisi jalan menuju sejumlah kampung masih rusak dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan. Akibatnya, mobilitas masyarakat menjadi terhambat, baik untuk mengangkut hasil pertanian, mengakses layanan kesehatan, maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu tempuh menjadi lebih lama, biaya transportasi meningkat, dan aktivitas ekonomi masyarakat ikut terdampak.
Persoalan air bersih juga masih menjadi tantangan yang belum terselesaikan. Sebagian warga harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk memperoleh air yang layak digunakan. Kondisi tersebut tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lanjut usia.
Di sisi lain, keterbatasan akses listrik turut memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Aktivitas belajar anak-anak pada malam hari menjadi kurang optimal, sementara pelaku usaha kecil mengalami kesulitan mengembangkan usahanya karena minimnya dukungan infrastruktur kelistrikan.
Kondisi tersebut masih terjadi di tengah pembangunan infrastruktur yang menjadi salah satu prioritas pemerintah. Hal ini memunculkan harapan masyarakat agar pemerataan pembangunan dapat benar-benar menjangkau wilayah-wilayah terpencil, termasuk Desa Hohawungo.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta pemerintah pusat dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kondisi lima kampung tersebut. Harapan itu bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan kebutuhan dasar yang seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh warga negara tanpa memandang lokasi tempat tinggal.
Aspirasi yang disampaikan masyarakat diharapkan menjadi perhatian bersama. Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya proyek yang dibangun, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga ke daerah-daerah yang masih tertinggal.
Masyarakat di lima kampung tersebut tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya berharap tersedianya akses listrik yang memadai, air bersih yang mudah diperoleh, serta jalan yang aman dan layak dilalui. Ketiga kebutuhan dasar tersebut merupakan fondasi penting bagi peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat juga berharap para pemangku kepentingan dapat turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi yang dihadapi warga, mendengarkan aspirasi mereka, serta memastikan pembangunan benar-benar menjangkau seluruh pelosok daerah. Sebab, selama masih ada masyarakat yang hidup dengan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar, cita-cita pemerataan pembangunan belum sepenuhnya terwujud.
Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat di lima kampung Desa Hohawungo masih menantikan langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, maupun pemerintah pusat dalam memenuhi kebutuhan dasar berupa akses listrik, air bersih, dan infrastruktur jalan yang layak.
**Redaksi MabesNews.com** membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan **Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers**. Diharapkan, seluruh pemangku kepentingan dapat memberikan penjelasan sekaligus menghadirkan solusi konkret demi terwujudnya pemerataan pembangunan yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat, termasuk warga di lima kampung Desa Hohawungo.
Reporter: Martinus Kondo







