MabesNews.com, Medan-Tak bisa dipungkiri, sejarah mencatat berabad-abad silam Maluku saat itu tidak diketahui–merupakan sumber daya alam utama rempah-rempah dunia.
Bayangkan, Selat Malaka rempah-rempah tersebut dibawa oleh pedagang Arab dan Gujarat ke India dan China melalui Jalur Sutra. Sumberdaya alam ini kemudian diangkut dengan kapal ke Pelabuhan di Venesia lalu dibawa melalui darat ke Mediterania.

“Lantas diekspor ke Timur Tengah dan negara-negara di sekitar Laut Tengah hingga akhirnya menjadi rute perniagaan rempah tersebar di Eropa,” catatan sejarah itu dilontarkan kembali oleh Ketua Umum LKN Rempah Nusantara, Khairul Mahalli saat berbicara kepada media ini dari Jakarta melalui telepon selular, Jumat 24/5/2024.
Mahalli yang juga Ketua Umum KADIN Sumatera Utara dan Ketua Umum DPP Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) ini mengemukakan hal itu sehubungan persiapan penyelenggaraan Hari Rempah Nasional ( HRN) pada Desember 2024.Hadir juga dalam pertemuan tersebut Badrevi (Pengurus Kadin Sumut ) dan Rani Ve(Duta Rempah Indonesia)
“Persiapan tempat penyelenggaraan HRN masih dalam pembicaraan hangat. Ada tiga lokasi HRN yakni Aceh, Kalimantan, Sulawesi dan Jakarta. Provinsi manakah yang aling cocok.Sekarang lokasi tadi mana yang akan kita pilih nanti,” ujar Mahalli usai berbincang dengan Ketua Kadin Aceh, H Muhammad Iqbal di MJS Cafe Jakarta.
Saat itu, rempah seperti pala dan cengkeh merupakan barang mewah yang sering ditukar dengan kain dari India, atau keramik dari China. Rempah sangat disukai oleh bangsa Eropa, karena iklim Eropa yang dingin, rempah sering dikonsumsi untuk menghangatkan tubuh dan biasa digunakan untuk pengobatan, penyedap masakan, juga parfum.
“Bahkan saat itu rempah-rempah dari Negeri Timur yaitu Nusantara dipercaya menjadi obat hirup alami untuk mengobati wabah besar yang mengakibatkan kematian luar biasa di Eropa,” jelas Mahalli seraya menambahkan kehidupan kita hingga saat ini tidak pernah lepas dari seleksi alam oleh wabah-wabah yang pernah terjadi. seperti halnya Covid-19.
Mahalli juga menyebutkan menurut buku sejarah rempah ada 10 jenis rempah nusantara yakni Saffron berasal dari bunga saffron crocus. Ini merupakan bumbu termahal sebagai bahan masakan. Jika ingin membeli satu ons saja, Anda akan membayar sejumlah uang terbilang mahal.
Kedua, Mahlap.Rempah ini dibuat dari biji ceri St. Lucie, yang biasanya digiling sebelum digunakan. Bumbu termahal kedua ini memiliki rasa perpaduan antara cherry dan almond pahit, mirip dengan marzipan. Biji ini dijual seharga Rp 11,4 juta per 450 gram.
Ketiga Vanili.Tanaman vanili dibanderol dengan harga mahal yakni Rp 9 juta per 450 gram. Biasanya rempah ini dipakai untuk bahan pembuatan kue. Bumbu ini memiliki label harga yang begitu tinggi adalah karena sebagian besar polongnya berasal dari Madagaskar.
Keempat, Serbuk sari adas organik memiliki hasil yang sangat rendah, hanya sekitar satu gram per tanaman dan perlu dikumpulkan dengan tangan secara manual. Harganya Rp 6,6 juta per 450 gram.
Ke-5 Long pepper atau cabai jawa menjadi rempah yang banyak dimanfaatkan untuk diambil pedasnya. Harga cabai ini Rp 6,6 juta per 450 gram.
Keenam Kapulaga.Rempah-rempah ini banyak digunakan untuk bahan masakan masyarakat Indonesia. Rempah ini dianggap istimewa dan dibanderol Rp 4,2 juta per 450 gram.
Ketujuh Alligator Pepper.Rempah mirip merica dan citrus ini biasanya digunakan untuk membumbui daging, ikan, dan sayuran. Alligator pepper sangat pedas dan panas, dan dapat digunakan sebagai penyedap makanan. Harganya Rp 3,9 juta per 450 gram.
Ke delapan Jintan Hitam.Rempah ini memiliki rasa lebih smokey dibandingkan jintan putih. Harganya dibanderol Rp 3,9 juta per 450 gram
Kesembilan Daun Jeruk.Di beberapa negara khususnya Asia daun jeruk kering sangatlah dibutuhkan. Biasanya, daun ini digunakan untuk sebagai bahan penyedap tumisan dan makanan rebus. Harganya dibanderol Rp 3,7 juta per 450 gram.
“Kesepuluh Cengkeh. Cengkeh memiliki aroma yang unik cengkeh banyak digunakan sebagai penyedap masakan dan minuman. Harganya bisa mencapai Rp 2,1 juta per 450 gram,” rinci Khairul Mahalli yang juga Dewan Pakar Arenas Prabowo.(tiar)







