Ketika Lidah Berselimut Madu, tetapi Hati Menyimpan Duri

Pemerintah82 views

Oleh Dr. Nursalim Tinggi, S.Pd., M.Pd.

Gubernur Anak Berani Karena Benar (ABEKABER) Provinsi Kepulauan Riau

Di zaman yang semakin kompleks ini, tidak sulit menemukan orang yang pandai berbicara tentang agama, moralitas, kejujuran, dan kebaikan. Mereka tampil meyakinkan dengan kata-kata yang tertata rapi, nasihat yang menyejukkan, serta dalil-dalil yang terdengar begitu indah. Di hadapan publik, mereka tampak sebagai sosok yang bijaksana, santun, dan layak dijadikan teladan.

Namun kehidupan mengajarkan satu hal penting: tidak semua yang terdengar indah mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

Ada kalanya kata-kata yang paling manis justru menjadi tirai untuk menutupi kenyataan yang pahit. Ada orang yang begitu fasih mengajarkan kejujuran, tetapi dirinya sendiri gemar menyembunyikan kebenaran. Ada yang lantang berbicara tentang amanah, namun dalam praktiknya lebih sibuk menjaga kepentingan pribadi daripada memperjuangkan kepentingan bersama. Bahkan ada yang menjadikan agama sebagai panggung untuk membangun citra, bukan sebagai cahaya untuk menerangi hati dan perilakunya.

Sesungguhnya, ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada kepandaiannya berbicara, melainkan pada kesediaannya untuk menjalankan apa yang ia ucapkan. Sebab kata-kata dapat disusun dengan sangat indah, tetapi perbuatan tidak pernah mampu berbohong dalam waktu yang lama.

Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin cerdas. Masyarakat mungkin dapat terpesona oleh retorika untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya mereka akan menilai seseorang dari jejak yang ditinggalkannya. Sebab sejarah tidak mencatat siapa yang paling banyak berbicara, melainkan siapa yang paling banyak memberi manfaat.

Sungguh memprihatinkan ketika kebaikan hanya menjadi slogan, sedangkan tindakan dipenuhi dengan rekayasa. Fakta diputarbalikkan demi menjaga citra. Kebenaran disembunyikan demi mempertahankan kedudukan. Kesalahan ditutupi dengan berbagai alasan agar terlihat benar di mata banyak orang. Padahal setinggi apa pun rekayasa dibangun, pada akhirnya kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Agama sejatinya hadir untuk membentuk akhlak yang mulia. Ia mengajarkan kejujuran ketika tidak ada yang melihat, amanah ketika tidak ada yang mengawasi, dan keikhlasan ketika tidak ada yang memuji. Karena itu, keberagamaan seseorang tidak dapat diukur hanya dari seberapa sering ia berbicara tentang Tuhan, tetapi dari seberapa besar nilai-nilai ketuhanan hadir dalam perilakunya sehari-hari.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini juga tidak kekurangan orang yang pandai berpidato. Yang masih langka adalah keteladanan. Yang masih sulit ditemukan adalah kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Padahal satu contoh yang baik sering kali lebih berharga daripada seribu nasihat yang disampaikan dengan suara lantang.

Kita perlu belajar untuk tidak mudah terpukau oleh penampilan luar. Senyum yang ramah belum tentu menunjukkan ketulusan. Ucapan yang lembut belum tentu mencerminkan kejernihan hati. Jubah kesalehan yang dikenakan seseorang belum tentu menggambarkan isi batinnya. Sebab karakter manusia tidak diukur dari apa yang ia katakan tentang dirinya, melainkan dari apa yang ia lakukan ketika berhadapan dengan kepentingan, kekuasaan, dan godaan dunia.

Pada akhirnya, masyarakat akan selalu menghormati mereka yang hidup dalam kejujuran, meskipun tidak pandai berbicara. Sebaliknya, masyarakat lambat laun akan kehilangan kepercayaan kepada mereka yang pandai merangkai kata-kata tetapi gagal menjaga integritas.

Lidah memang dapat berselimut madu, tetapi hati yang menyimpan duri akan terlihat melalui perbuatan. Sebab kehidupan adalah panggung yang tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi juga menyaksikan apa yang kita kerjakan. Dan pada akhirnya, bukan manisnya kata-kata yang akan dikenang, melainkan ketulusan sikap dan kemuliaan akhlak yang diwariskan kepada sesama.