Kenapa Ekspor Indonesia Tidak Bisa Mencapai AS$ 300 Miliar Per Tahun Sementara Singapura Lebih dari AS$ 500 Miliar Setahun ?

Pemerintah254 views

Oleh-Khairul Mahalli, Ketua Umum GPEI dan Waketum FORMAS

 

MabesNews.com, Kenapa kita harus peduli tentang ekspor? Sudah menjadi kesepakatan dunia bahwa kemajuan perekonomian suatu negara ditentukan oleh meningkatnya ekspor, besarnya investasi asing, dan jumlah turis asing yang datang ke negara itu.

Di awal tahun 2026 ini Badan Statistik Indonesia BPS) mengumumkan ekspor Indonesia Januari – November 2026 mencapai AS$ 256,56 miliar. Walau masih ada ekspor bulan Desember 2025, namun sulit untuk mencapai angka AS$ 300 miliar per tahun, angka yang belum pernah diraih Indonesia selama ini.

Sebagai perbandingan, menurut data Wikipedia ekspor Singapura tahun 2022 mencapai AS$ 942 miliar. Ekspor Singapura bulan November 2025 mencapai AS$ 50,6 miliar, sedangkan ekspor Indonesia pada bulan yang sama hanya 22,52 miliar. Ini menunjukkan betapa jauhnya ekspor Singapura dan Indonesia.

Di bidang investasi, tahun 2024 Indonesia mencapai AS$ 20,1 miliar. Singapura, Hongkong, China, dan Malaysia merupakan investor terbesar di Indoneia tahun itu.

Di bidang pariwisata, Indonesia belum pernah kedatangan turis asing sampai 20 juta orang setahun, sementara Thailand dan Malaysia sudah jauh di atas angka itu.

Sejalan dengan hal tersebut tanggal 6 Januari 2026 telah diadakan diskusi di kalangan pengusaha eskpor Indonesia dalam whatsapp group “Peningkatan Ekspor RI ke-13” dengan hasil sebagai beirkut:

1. Pengusaha Indonesia percaya dengan kekayaan alam yang melimpah dan jumlah pengusaha serta diaspora yang tertarik untuk membantu peningkatan ekspor Indonesia, tahun 2026 ini tidak mustahil ekspor Indonesia bisa mencapai AS$ 300 miliar asla ada persatuan para pengusaha dan diaspora serta tidak perlu berharap banyak adanya dukungan pemerintah. Selama ini Atase Perdagangan, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), Fungsi Ekonomi Kedutaan Besar Republik Indonesia pada umumnya bukan saja lambat menanggapi namun tidak banyak membantu. Bagi yang sudah membantu selama ini disampaikan terima kasih.

2. Business matching (pertemuan pengusaha Indonesia dan pengusaha luar negeri) yang diselenggarakan Pemerintah tidak ada gunanya karena yang datang pada umumnya hanya melihat-lihat (window shopping) padahal biaya yang dikeluarkan cukup besar. Padahal yang lebih bermanfaat adalah pengusaha kita ikut Expo perdagangan di luar negeri. Kalau bisa ada pertemuan dengan pengusaha yang tertarik membeli produk Indonesia.

3. Perlu lebih banyak lagi pengusaha perantara (trader) yang dapat menjual produk Indonesia ke luar negeri (minimal 3 juta orang). Tindakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mnenggelontorkan dana Rp 200 triliun ke 5 bank, belum dirasakan pengusaha ekspor. Kemungkinan hanya diberikan kepada konglomerat.

4. Ada peluang ekspor yang belum pernah dilakukan selama ini yakni ekspor daging dan susu kuda ke wilayah Asia Tengah, seperti Kazakhstan karena produk ini sangat diminati di sana. Khususnya bagi provinsi Nusa Tenggara Timur yang banyak memiliki kuda, hal ini bisa dipertimbangkan.

5. Pengusaha Indonesia yang tinggal di Irlandia mengatakan banyak pengusaha kita yang belum memiliki sertifikasi sehingga tidak bisa melakukan ekspor walaupun kualitas produknya bagus. Sementara pengusaha Singapura dan Vietnam banyak yang telah punya sertifikasi tersebut.

6. Tidak mustahil ekspor Indonesia meningkat pesat di tahun 2026 ini jika pengusaha di dalam negeri dan dispora yang tinggal di berbagai negara bisa bersatu dan melakukan kerjasama.(Editor : bay)

 

Jakarta, 6 Januari 2026