Oleh Mama A Majid Binpas
MabesNews.com, Dalam pemahaman umum, kata kelam kerap diartikan sebagai sesuatu yang suram, kusam, atau gelap—baik secara fisik maupun batiniah. Langit yang diselimuti awan tebal bisa disebut kelam, begitu pula suasana hati yang dibebani duka atau putus asa. Namun, bagi sebagian orang, termasuk saya, kata kelam memiliki keluasan makna yang melampaui batas kamus. Ia bukan hanya soal warna atau suasana, melainkan kondisi pandangan dan pikiran yang telah terjebak dalam kekacauan tanpa arah, terbatas oleh kepekatan gelap yang mencekik logika, hingga akhirnya mata batin pun gulita.
Dalam penghayatan semacam ini, kelam tidak lagi sekadar keadaan visual, melainkan sebuah simbol atas titik nadir manusia. Ia bisa menjadi metafora bagi pikiran yang buntu, hati yang membeku, dan jiwa yang tergelincir ke lorong tak berujung. Maka, wajar jika kata ini kerap dihadirkan dalam goresan diksi puisi atau prosa untuk mempertegas keadaan batin yang tak mudah dijelaskan.
Dalam karya berjudul Goresan Terbagi Kelam, misalnya, kelam tampil bukan sebagai keluhan pasif, melainkan peringatan aktif. Ia menjadi suara batin yang mengajak kembali kepada Tuhan, menolak menjadi sekadar mantera kosong yang lahir dari kesesatan. Kelam dalam konteks ini adalah saksi bisu dari kesalahan manusia, pengingat yang tetap berdiri meski terlambat disadari. Di sini, kelam adalah cermin—bukan untuk menghibur atau membenarkan, tetapi untuk menegur dan menuntut pertanggungjawaban.
Kelam juga hadir dalam metafora Menanti Gulai Hitam, yang menggambarkan absurditas harapan pada sesuatu yang tak mungkin lagi tercapai. Gulai hitam di sini bukan sekadar makanan, tetapi simbol dari angan-angan kosong yang bertahan hanya karena kebiasaan menunggu. Hembusan angin malam membawa aroma masa lalu, tetapi yang tersisa hanyalah bayangan pahit dari sesuatu yang telah berlalu.
Lalu, dalam Remukan Bah Keledai, kelam mengambil bentuk yang lebih tegas. Ia berbicara tentang kehancuran yang tak selalu terlihat dari luar, tentang orang yang tampak prima padahal rongga dadanya sesak oleh tekanan dan sakit yang mematikan. Kelam di sini menyindir mereka yang hidup dalam kebanggaan palsu, sementara di dalamnya rapuh dan mudah hancur. Diksi ini juga menyinggung kerasnya peringatan Al-Qur’an, bahwa seburuk-buruk suara adalah suara keledai—simbol kesombongan yang tak berdasar.
Akhirnya, Sembarangan menjadi bab terakhir yang menutup rangkaian refleksi ini. Kelam di sini adalah konsekuensi. Kesembronoan yang dibayar mahal, kebodohan yang berujung pada kematian. Bendera kuning, putih, atau warna lain yang dikibarkan sebagai tanda duka hanyalah penutup bab kehidupan yang telah selesai. Kelam di sini adalah garis akhir, pengingat bahwa setiap langkah sembrono akan membawa kita lebih dekat kepada liang lahat.
Dari rangkaian ini, kita belajar bahwa kelam bukan hanya sekadar warna atau suasana hati. Ia adalah tanda, simbol, dan pesan. Kelam bisa menjadi pengingat untuk kembali kepada cahaya, bisa juga menjadi peringatan keras bahwa cahaya itu bisa padam jika kita terlalu lama terperangkap dalam kegelapan. Dalam setiap bentuknya—baik nyata maupun metaforis—kelam selalu mengajarkan satu hal: bahwa hidup ini rapuh, dan setiap langkah harus dijalani dengan kesadaran penuh. (Nursalim Turatea).







