KEDAULATAN DEVISA, BUKAN TERUS DITEKAN PASAR

Pemerintah37 views

Oleh: Khairul Mahalli

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia – GPEI

 

Mabesnews.com, Penurunan ekspor yang membuat neraca perdagangan defisit bukan hanya soal angka di layar bursa.

Ini adalah sinyal bahaya bagi kedaulatan ekonomi kita.

Saat ekspor turun, masuknya valuta asing ikut seret. Akibatnya Rupiah melemah, dan cadangan devisa harus dipaksa keluar untuk meredam gejolak di pasar uang.

 

Sudah terlalu lama ekonomi kita dicekik oleh 2 masalah kronis:

*Pertama*, kita masih bergantung pada ekspor bahan mentah yang harganya gampang digoyang pasar global.

*Kedua*, hasil devisa dari kekayaan alam kita justru banyak yang “parkir” di bank luar negeri. Ini yang disebut _capital flight_.

 

Pemerintah dan Bank Indonesia harus berani melakukan pembenahan besar. Tidak ada kompromi. Ada 2 benteng yang harus dikuatkan: *disiplin di sektor keuangan* dan *revolusi di sektor riil*.

 

 

*BENTENG MONETER: KUNCI DEVISA HARUS DI RUMAH SENDIRI*

 

Tidak logis jika kekayaan alam Indonesia dikeruk habis, tapi hasil jualnya disimpan di Singapura atau pusat keuangan asing lain.

 

Kebijakan *penempatan Devisa Hasil Ekspor/DHE SDA di dalam negeri minimal 30% selama 3 bulan* wajib dijalankan tanpa celah.

 

Untuk itu, 3 hal harus jalan bersamaan:

1. *Integrasi Data Real-time* antara Bea Cukai, Ditjen Pajak, dan BI. Data harus tembus.

2. *Sanksi Tegas*. Eksportir yang bandel tidak menaruh DHE di dalam negeri, izin ekspornya harus dibekukan.

3. *Insentif Menarik*. Deposito Valas DHE harus punya bunga kompetitif, PPh Final bisa 0%, dan mudah dijadikan agunan kredit Rupiah. Tujuannya: devisa aman, menguntungkan, dan bisa menggerakkan likuiditas nasional tanpa menyulitkan eksportir.

 

 

*BENTENG SEKTOR RIIL: HILIRISASI & EFISIENSI LOGISTIK*

Di lapangan, GPEI mengusulkan 5 langkah cepat untuk menyelamatkan ekspor:

1. *Hilirisasi Total*

Stop jual bahan mentah. Setiap barang yang keluar negeri harus sudah punya nilai tambah industri. Baru bisa tahan guncangan global dan harganya tinggi.

2. *Mudahkan Pembiayaan Ekspor*

Gunakan skema Penugasan Khusus Ekspor/PKE dari LPEI dengan bunga ringan. Bea masuk bahan baku impor juga harus bisa dikembalikan otomatis lewat _duty drawback_.

3. *Trading House untuk UMKM*

Bentuk konsorsium Trading House nasional gabungan BUMN dan swasta. Fungsinya menampung, kurasi, dan ekspor produk UMKM dalam volume besar dengan standar yang sama.

4. *Diplomasi Dagang Agresif*

Kebut negosiasi CEPA ke pasar baru: Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Jangan hanya mengandalkan pasar tradisional.

5. *Potong Biaya Logistik*

Jalankan penuh National Logistics Ecosystem/NLE. Tujuannya memangkas dwelling time dan ongkos kirim yang selama ini bikin barang kita kalah saing.

 

 

*BERDIKARI SECARA EKONOMI*

 

Ekspor dan kekuatan Rupiah itu satu paket.

Ekspor produk manufaktur bernilai tinggi jadi mesin penarik devisa masuk.

Penegakan aturan DHE jadi pagar yang memastikan devisa itu berputar di dalam negeri.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Tidak juga kekurangan pasar.

Yang kita butuh sekarang: keberanian politik dan eksekusi tegas.

Hentikan kebocoran devisa. Pangkas birokrasi logistik. Pastikan setiap hasil bumi bangsa benar-benar menguatkan ekonomi nasional.