Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa Sastra Budaya Seni dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da’i Kamtibmas Polda Kepri
Mabesnews.com, Ada satu masa yang kini terasa semakin menjauh, ketika cinta tidak dikirim dalam hitungan detik, melainkan dipupuk dalam keheningan waktu. Era 1980-an menghadirkan wajah romantika yang khas—cinta yang tidak tergesa, tetapi mengendap dalam kesabaran, lalu dituangkan dengan penuh kesadaran ke dalam lembaran kertas yang sederhana namun sarat makna.
Surat cinta pada masa itu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang batin yang intim. Ia lahir dari perenungan yang panjang, dari keberanian untuk merangkai kata yang bukan hanya indah, tetapi juga jujur. Tulisan tangan menjadi cermin jiwa; setiap lekuk huruf menyimpan getaran perasaan—antara rindu, harap, dan kegelisahan yang tak selalu mampu diucapkan secara langsung.
Menulis surat adalah sebuah laku kesungguhan. Tidak ada kemudahan menghapus atau memperbaiki secara instan. Setiap kesalahan menjadi bagian dari proses, bahkan sering kali menuntut pengulangan dari awal. Namun justru di situlah cinta menemukan martabatnya—ia tidak dilahirkan secara tergesa, melainkan dipersiapkan dengan ketelitian, seakan setiap kata adalah janji yang harus dijaga.
Ritual pengiriman surat menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam. Amplop ditutup dengan harapan, perangko ditempel dengan keyakinan, lalu surat dilepaskan menuju alamat yang menyimpan kemungkinan. Setelah itu, waktu menjadi penentu. Penantian menghadirkan dialog batin: apakah ia sudah membaca, apakah ia merasakan hal yang sama. Dalam jeda itulah rindu tumbuh, tidak liar, tetapi matang dan penuh arti.
Pada masa itu, ungkapan cinta pun memiliki warna yang khas—sederhana, tetapi menggetarkan. Kalimat seperti “aku cinta padamu” sering ditulis dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap huruf memiliki konsekuensi perasaan. Ungkapan “I love you” mulai dikenal, meski tetap terasa asing dan istimewa ketika diselipkan di antara kalimat berbahasa Indonesia. Ada pula rayuan polos seperti “rindu sekali sama kamu”, “jangan lupa balas suratku ya”, atau bahkan ungkapan jenaka yang akrab di telinga remaja masa itu seperti “minta ci satu kali”—sebuah simbol keakraban, keluguan, dan keberanian yang masih malu-malu.
Bahasa dalam surat cinta tidak sekadar menjadi alat penyampai pesan, tetapi juga ruang estetika. Ia tidak ringkas dan tidak terburu-buru. Ia puitis, reflektif, dan sering kali menjadi jalan bagi seseorang untuk memahami dirinya sendiri melalui kata-kata yang ia tulis. Cinta tidak hanya disampaikan, tetapi direnungkan dan dihayati.
Berbeda dengan komunikasi digital hari ini yang cepat dan mudah terlupakan, surat cinta memiliki daya hidup yang panjang. Ia disimpan, dikenang, dan dihidupkan kembali setiap kali dibaca. Kertas yang mulai menguning justru mempertegas bahwa perasaan yang pernah dituliskan tidak pernah benar-benar hilang.
Romantika surat 1980-an pada akhirnya bukan sekadar kenangan, melainkan cermin yang mengingatkan kita tentang cara mencintai yang lebih manusiawi. Ia mengajarkan bahwa kecepatan tidak selalu menghadirkan kedalaman, dan kemudahan tidak selalu melahirkan makna. Dalam dunia yang bergerak serba cepat, tradisi ini seakan berbisik pelan: bahwa cinta yang sejati tidak takut menunggu, tidak ragu untuk jujur, dan tidak keberatan untuk ditulis dengan perlahan—karena justru di situlah ia menemukan keabadiannya.







