INTEGRASI KONSEPTUAL HIGGS BOSON (GOD PARTICLE), NUR MUHAMMAD, JANTUNG FISIK (SINOATRIAL NODE) & MATA BATIN (BASHIRAH) DALAM PERSPEKTIF WAHDATUL WUJUD

 

 

Oleh:

Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si. (Kepala Laboratorium Fisika Nuklir, Universitas Sumatera Utara)

Pendahuluan:

 

Menjembatani Dikotomi Sains dan Spiritual Melalui Pengenalan Diri

Dalam era modern, seringkali kita dihadapkan pada dikotomi yang tajam antara sains dan spiritualitas. Sains, dengan metodologi empirisnya, berusaha memahami alam semesta melalui pengamatan dan eksperimen, sementara spiritualitas menyelami dimensi batin dan transenden. Namun, apakah kedua domain ini benar-benar terpisah? Atau justru, adakah titik-titik konvergensi yang memungkinkan kita mencapai pemahaman yang lebih holistik dan mendalam tentang realitas eksistensi? Makalah ini berupaya menjawab pertanyaan tersebut dengan mengintegrasikan konsep-konsep fundamental dari fisika modern, anatomi-fisiologi, dan metafisika sufistik dalam bingkai Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud), yang pada akhirnya mengarahkan kita pada realisasi Insan Kamil. Sebagaimana adagium sufistik yang masyhur, “Barangsiapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya (Alloooh) ” (Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu), perjalanan ini dimulai dari introspeksi diri. Inilah inti dari kajian Bagindo Muchtar dengan konsep “Diriku yang Kukenal,” sebuah seruan untuk menyelami esensi diri yang sejati sebagai kunci pembuka gerbang makrifat.

 

Dari Partikel Fundamental hingga Detak Jantung: Manifestasi Fisik Kehidupan

 

Fisika modern telah mencapai pemahaman yang luar biasa tentang struktur dasar materi. Salah satu penemuan paling signifikan adalah keberadaan Higgs Boson, yang sering dijuluki “God Particle.” Partikel ini merupakan eksitasi dari Medan Higgs yang meresapi seluruh alam semesta. Interaksi partikel lain dengan Medan Higgs inilah yang memberikan massa kepada mereka, memungkinkan pembentukan atom, molekul, dan pada akhirnya, seluruh struktur materi yang kita kenal (CERN, 2012). Tanpa Medan Higgs, partikel-partikel akan bergerak tanpa massa dengan kecepatan cahaya, dan alam semesta fisik yang stabil tidak akan terbentuk. Higgs Boson adalah fondasi fundamental yang memungkinkan keberadaan alam semesta material, termasuk tubuh kita.

Dalam tubuh manusia, salah satu manifestasi paling vital dari keberadaan materi yang bermassa ini adalah jantung, dengan Sinoatrial Node (SAN) sebagai “pacemaker” alaminya. SAN, sebuah struktur kecil di atrium kanan jantung, secara otonom dan ritmis menghasilkan impuls listrik yang memicu kontraksi otot jantung, memompa darah ke seluruh tubuh (Vlack, 2005). Detak jantung yang teratur ini adalah irama kehidupan fisik yang tak pernah berhenti selama kita hidup. Ia adalah bukti nyata dari keberadaan materi yang terorganisir secara kompleks, yang dimungkinkan oleh hukum-hukum fisika fundamental yang diatur oleh Medan Higgs. Tubuh fisik kita, dengan segala anatomi dan fisiologinya, adalah Darun Nafis—”Rumah Jiwa”—yang diciptakan dengan presisi luar biasa sebagai wahana bagi eksistensi.

Nur Muhammad dan Bashirah: Fondasi Spiritual dan Penglihatan Batin

 

Di sisi lain, metafisika Islam, khususnya dalam tradisi sufisme, menawarkan konsep Nur Muhammad sebagai realitas primordial. Nur Muhammad dipahami sebagai “Cahaya Muhammad,” ciptaan pertama Alloooh, dan arketipe universal (al-haqiqah al-muhammadiyyah) dari mana seluruh alam semesta diciptakan dan memanifestasikan diri (Nasr, 1993). Ia adalah logos Ilaaahi, jembatan antara Dzat Ilaaahi yang tak terjangkau dan alam semesta yang termanifestasi. Jika Higgs Boson menjelaskan bagaimana materi memperoleh massa, Nur Muhammad menjelaskan mengapa dan dari apa segala sesuatu itu ada sebagai manifestasi dari wahdah (keesaan) primordial.

 

Untuk memahami dan mengalami realitas yang lebih dalam ini, manusia dianugerahi Bashirah atau “mata batin.” Imam Al-Ghazali, dalam karya-karyanya, menjelaskan bashirah sebagai indra spiritual yang berpusat di qalb (hati spiritual), yang melampaui kemampuan panca indra fisik. Bashirah memungkinkan kita untuk menyaksi kan hakikat kebenaran, menyingkap rahasia-rahasia Ilaaahi (kasyf), dan mencapai ma’rifatullah (Al-Ghazali, 1990). Ia digerakkan oleh “energi intrinsik” ruhani, sebuah daya yang memungkinkan qalb untuk “melihat” tanpa mata fisik dan “merasakan” tanpa sentuhan fisik.

 

Landasan spiritual ini diperkuat oleh perjanjian primordial (mitsaq) yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 172, di mana seluruh ruh manusia telah bersaksi dan mengakui Alloooh (“Alastu birobbikum? Qoolu bala syahidna”). Pengakuan ini terukir dalam esensi ruh, yang kemudian ditiupkan ke dalam Darun Nafis pada usia kehamilan sekitar 120 hari. Dengan demikian, setiap manusia membawa memori primordial akan Alloooh, dan bashirah adalah fakultas yang dapat mengaktifkan kembali memori tersebut.

Di sinilah relevansi konsep “Diriku yang Kukenal” dari Bagindo Muchtar menjadi sangat signifikan. “Diriku yang Kukenal” adalah sebuah metodologi introspektif, sebuah proses penyelaman ke dalam diri untuk menyingkap esensi sejati yang telah bersaksi “bala syahidna.” Ini bukan sekadar mengenal nama, profesi, atau kemampuan fisik, melainkan memahami nafs atau ruh yang menggunakan instrumen-instrumen fisik (mata, telinga, jantung, dll.). Melalui proses ini, individu diajak untuk merefleksikan bagaimana fungsi-fungsi indrawi dan motorik tidak hanya beroperasi sebagai mekanisme biologis, tetapi sebagai jendela dan pintu bagi nafs untuk mengalami dan bermanifestasi.

“Diriku yang Kukenal” adalah langkah awal untuk membersihkan tabir-tabir kelalaian (ghaflah) dan keegoan yang menutupi bashirah, sehingga indra-indra fisik dapat bertransformasi menjadi alat pencerapan spiritual yang lebih tinggi. Ini adalah upaya untuk menyelaras kan nafs (diri egois) dengan ruh (diri sejati) yang membawa mitsaq.

 

Simfoni Wahdatul Wujud: Harmoni Fisika dan Metafisika

 

Integrasi konsep-konsep ini menemukan puncaknya dalam Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud). Konsep ini menyatakan bahwa hanya ada satu Realitas Sejati, yaitu Alloooh SWT, dan segala sesuatu selain-Nya adalah manifestasi atau penampakan dari Realitas tersebut. Dalam perspektif ini, tidak ada dualitas hakiki antara alam fisik dan spiritual; keduanya adalah aspek-aspek dari Wujud yang sama.

Higgs Boson dan Nur Muhammad: Jika Higgs Boson adalah mekanisme fisik yang memungkinkan kasrah (kemajemuk an) materi, maka Nur Muhammad adalah prinsip arketipal yang mendahului dan memungkinkan keberadaan mekanisme tersebut.

 

Nur Muhammad adalah wahdah primordial yang pertama kali termanifestasi, dan dari Nur inilah kemudian segala kasrah, termasuk hukum-hukum fisika dan medan-medan fundamental seperti Medan Higgs, muncul. Medan Higgs adalah “perbuatan” Alloooh, sementara Nur Muhammad adalah “cahaya” dari Asma dan Sifat-Nya yang termanifestasi.

Sinoatrial Node dan Bashirah: Detak jantung yang ritmis, yang diatur oleh SAN, dapat dipahami sebagai zikir alamiah atau zikir sirr (zikir tersembunyi) dari setiap sel tubuh. Ia adalah pengingat bawah sadar akan kehidupan yang terus-menerus dianugerahkan dan dipelihara oleh Alloooh SWT—sebuah resonansi fisik dari perjanjian primordial (mitsaq). Sementara itu, bashirah, yang diasah melalui “Diriku yang Kukenal,” adalah fakultas yang memungkinkan individu untuk secara sadar memper sepsikan dan mengalami sumber Ilaaahi di balik detak jantung ini. Ia adalah “mata” yang melihat tauhidul af’al (keesaan perbuatan) Alloooh dalam setiap ritme kehidupan.

Fisika Tachyon (Spekulatif): Meskipun masih hipotetis, konsep partikel Tachyon yang bergerak lebih cepat dari cahaya dapat menawarkan analogi spekulatif untuk dimensi trans-fisik atau alam ghayb. Jika ada, tachyons dapat merepresentasikan entitas atau energi yang tidak terikat oleh batasan ruang dan waktu fisik konvensional, mirip dengan bagaimana ruh atau energi spiritual beroperasi. Bashirah, dengan “energi intrinsik”nya, yang telah diaktifkan melalui proses “Diriku yang Kukenal,” mungkin adalah fakultas yang beroperasi pada “kecepatan” atau “dimensi” yang melampaui batasan fisik, memungkinkan pencerapan realitas yang lebih halus yang mungkin secara metaforis dapat dihubungkan dengan alam tachyonic. Ini adalah jembatan konseptual antara alam fisik dan alam spiritual, di mana bashirah adalah indra yang dirancang untuk mengakses lapisan-lapisan ini, melampaui batasan indra fisik.

 

Transformasi Sinergis Menuju Insan Kamil

 

Integrasi konseptual ini menciptakan sebuah simfoni yang harmonis antara sains dan spiritualitas. Ia menunjukkan bahwa alam semesta fisik, dari partikel terkecil hingga detak jantung yang paling vital, bukanlah entitas mati yang terpisah, melainkan manifestasi dinamis dari Wujud Ilaaahi. Ini adalah transformasi dalam cara kita memandang realitas.

 

Melalui proses “Diriku yang Kukenal,” yang mengasah bashirah dan pengenalan diri yang mendalam, individu dapat menelusuri kembali rantai manifestasi ini. Dari detak jantung fisik yang diatur oleh SAN, melalui mekanisme Higgs Boson, hingga ke Nur Muhammad sebagai sumber arketipal, dan akhirnya merasa kan Wahdatul Wujud dari Dzatullah yang melingkupi semuanya. Ini adalah perjalanan sinergis di mana pengetahuan ilmiah memperkaya pemahaman spiritual, dan kearifan spiritual memberikan makna yang lebih dalam pada penemuan ilmiah.

 

Pada puncaknya, seluruh perjalanan ini mengantarkan pada realisasi kesadaran yang mendalam akan kehadiran Ilaaahi yang tak terhingga. Dalam setiap detak jantung, setiap fenomena alam, dan setiap bisikan hati, terungkaplah kebenaran fundamental yang dapat ditarik dari esensi Wahdatul Wujud dan mitsaq primordial : “ALLOOH IS WATCHING”. Frasa ini, yang mewakili konsep keesaan Alloooh yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat (Al-Alim, Al-Bashir), bukan sekadar pengawasan eksternal, melainkan kesadaran akan kehadiran Ilaaahi yang meliputi segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 4). Ini adalah pencerapan bahwa setiap eksistensi, dari partikel subatomik hingga kesadaran tertinggi, senantiasa berada dalam lingkupan ilmu dan pandangan-Nya.

 

Pemahaman dan pengalaman terintegrasi ini adalah langkah krusial menuju realisasi Insan Kamil. Insan Kamil adalah individu yang telah mencapai keselarasan sempurna antara dimensi lahiriah dan batiniah, yang indra fisiknya menjadi saluran bagi bashirah, dan setiap tindakan, pikiran, serta perasaannya mencerminkan kesadaran akan Keesaan Ilaaahi. Ia adalah manusia yang hidup dalam harmoni total dengan Wahdatul Wujud, menjadi cermin sempurna bagi Sifat-sifat Allooo di alam semesta. Melalui “Diriku yang Kukenal,” seorang Insan Kamil tidak hanya memahami dirinya sebagai bagian dari alam semesta, tetapi sebagai manifestasi dari Wujud Yang Maha Esa, yang senantiasa berzikir dan bersaksi atas keesaan-Nya, dengan kesadaran penuh bahwa “ALLOOH IS WATCHING”—sebuah kesadaran yang memandu setiap langkah dan niat.

 

Kesimpulan

 

Upaya mengintegrasikan Higgs Boson, Nur Muhammad, Sinoatrial Node, dan Bashirah dalam perspektif Wahdatul Wujud, dengan panduan dari konsep “Diriku yang Kukenal,” bukan sekadar latihan intelektual, melainkan sebuah panggilan untuk mengalami realitas secara holistik. Ia mengajak kita untuk melihat bahwa sains dan spiritualitas bukanlah dua jalan yang berbeda, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama, yang bersama-sama mengungkapkan kebenaran tentang Wujud yang Esa. Melalui sinergi ini, kita dapat mencapai transformasi kesadaran yang memungkinkan kita hidup dalam simfoni kehidupan hakiki, selangkah demi selangkah menuju ideal Insan Kamil. (ms2)