Oleh Dr. Nursalim Tinggi, M.Pd.
Ketua Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia
MabesNews.com, Dulu ketika kita masih belajar di sekolah, guru sering menyampaikan sebuah kalimat sederhana namun sarat makna, “Yang sudah selesai ujiannya, silakan pulang.” Pada saat itu, mungkin kita hanya memahami kalimat tersebut sebagai tanda berakhirnya sebuah ujian di ruang kelas. Namun setelah menjalani berbagai pengalaman hidup, kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini sesungguhnya adalah sebuah ujian panjang yang diberikan oleh Allah Swt. kepada setiap manusia.
Dunia adalah tempat manusia diuji dengan berbagai bentuk keadaan. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan jabatan, ada yang diuji dengan kehilangan kekuasaan. Ada yang diuji dengan kesehatan, ada pula yang diuji dengan penyakit. Bahkan amanah yang diberikan kepada seseorang sesungguhnya merupakan salah satu ujian terbesar dalam kehidupan.
Ketika seseorang diberi kepercayaan untuk memimpin sebuah organisasi, lembaga sosial, yayasan, masjid, atau perkumpulan masyarakat, sesungguhnya ia sedang menerima amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Amanah bukanlah kehormatan semata, melainkan beban moral dan spiritual yang harus dijalankan dengan penuh kejujuran, tanggung jawab, dan ketulusan.
Sayangnya, dalam kenyataan kehidupan, tidak sedikit orang yang ketika diberikan amanah justru mengkhianati amanah tersebut. Ada yang menjadikan organisasi sebagai alat untuk kepentingan pribadi. Ada yang menggunakan dana organisasi tanpa transparansi. Ada yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada keberlangsungan lembaga yang dipimpinnya. Bahkan ada pula yang menikmati hasil jerih payah organisasi seorang diri tanpa memperhitungkan nasib, kebutuhan, dan masa depan yayasan atau lembaga yang telah mempercayakan amanah kepadanya.
Perilaku seperti ini bukan hanya pelanggaran administrasi dan etika organisasi, tetapi juga merupakan pengkhianatan terhadap amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Kelak tidak ada jabatan yang dapat melindungi seseorang. Tidak ada kekuasaan yang dapat membela dirinya. Tidak ada rekayasa laporan yang dapat menyembunyikan kebenaran. Semua akan diperlihatkan dengan sangat jelas pada hari perhitungan.
Banyak orang merasa aman ketika tidak ada yang mengetahui perbuatannya di dunia. Namun mereka lupa bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi maupun yang tampak. Harta yang diperoleh dengan cara tidak benar mungkin dapat dinikmati sesaat, tetapi pertanggungjawabannya bisa berlangsung sangat panjang di akhirat. Setiap rupiah akan ditanya dari mana diperoleh dan untuk apa digunakan.
Dalam sebuah organisasi yang sehat, pengurus seharusnya bekerja secara kolektif, transparan, dan akuntabel. Setiap keputusan harus berorientasi pada kemajuan lembaga, bukan kepentingan pribadi. Seorang pemimpin yang baik tidak menjadikan organisasi sebagai sumber keuntungan pribadi, melainkan sebagai sarana pengabdian untuk umat dan masyarakat. Sebab hakikat kepemimpinan adalah melayani, bukan dilayani.
Oleh karena itu, siapa pun yang hari ini memegang amanah hendaknya senantiasa melakukan introspeksi diri. Jangan sampai amanah yang seharusnya menjadi jalan menuju kemuliaan berubah menjadi sebab datangnya penyesalan yang tidak berkesudahan. Jabatan akan berakhir, masa kepengurusan akan selesai, dan kekuasaan akan berpindah tangan. Namun catatan amal akan tetap tersimpan hingga hari kiamat.
Pesan kehidupan yang sesungguhnya adalah bahwa selama kita masih hidup di dunia, berarti ujian kita belum selesai. Kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, mengembalikan hak orang lain, memperbaiki kesalahan, dan menjalankan amanah dengan benar. Sebaliknya, ketika seseorang dipanggil menghadap Sang Pencipta, maka seluruh kesempatan itu telah berakhir dan yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan selama hidupnya.
Karena itu, marilah kita menjaga amanah dengan sebaik-baiknya. Jangan mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat, organisasi, yayasan, maupun umat. Ingatlah bahwa dunia hanyalah tempat ujian sementara, sedangkan akhirat adalah tempat mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan. Harta, jabatan, dan kekuasaan tidak akan ikut masuk ke liang kubur. Yang akan menemani hanyalah amal baik dan amal buruk yang pernah kita lakukan.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang amanah, jujur, dan bertanggung jawab, serta menjauhkan kita dari sifat khianat yang dapat merusak diri sendiri, organisasi, dan kehidupan umat. Sebab pada akhirnya, yang sudah selesai ujiannya akan pulang menghadap Sang Pencipta, dan setiap amanah yang pernah dipikul akan dimintai pertanggungjawaban secara adil di hadapan-Nya.







