Gunongan: Panggung dan Kenangan

Pemerintah54 views

L K Ars

 

Malam berdiri di atas rumput basah,

sementara lampu-lampu menyalakan dinding tua

seperti membuka halaman sejarah

yang lama terlipat dalam dada.

 

Gunongan menjelma panggung,

bukan dari kayu atau tirai belaka,

melainkan dari ingatan

yang diwariskan batu kepada waktu.

 

Kami duduk menyimak suara-suara,

puisi melangkah dari bibir pembaca,

turun ke tanah,

naik ke langit,

lalu singgah di hati orang-orang

yang diam-diam terluka.

 

Di antara bait-bait itu

aku melihat wajah-wajah lama:

guru yang pernah menyalakan huruf,

ibu yang menanak sabar di dapur senja,

kawan-kawan yang hilang

namun namanya masih berdenyut.

 

Gunongan malam ini

bukan sekadar bangunan kenangan,

ia panggung tempat masa lalu dan hari ini

saling berjabat tangan.

 

Dan ketika acara usai,

orang-orang pulang membawa langkah biasa,

tetapi dada mereka

tak lagi sama.

 

Sebab ada puisi

yang diam-diam tinggal,

menjadi cahaya kecil

di ruang paling sunyi.

 

Banda Aceh, April 2026