Forkopimda Dijamu Makan Malam Bersama Sebagai Sebuah Budaya Masyarakat Aceh

Catatan : Mahyani Muhammad (MM)

MabesNews.com, Asahan-Sepanjang acara pagelaran Seni Budaya Daerah Kabupaten Asahan, Forkopimda dijamu makan malam bersama sebagai sebuah budaya masyarakat Aceh dalam menerima tetamu, yang diawali khanduri.

Tak heran, sajian kuah beulangong, gulai pliek, asam udeung, eungkoet jeurubok (tongkol) teucrah, gulai sayur kreueng (kerrang) reboeh dan acar ala aceh membuat tetamu lahap menikmatinya.

Malah ada yang lupa diri pada akhir acara terpaksa mengkonsumsi glucophage, allupurino, captopril guna mengstabilkan tubuh agar prima kembali.

Sementara bupati dan wakilnya serta tetamu dari Forkopimda, masih terngiang-ngiang dengan kelezatan menu itu hingga

terus terucap ‘mangat that’ (enak sekali) jamuannya, hingga beliau meninggalkan area pada pukul 23.00 WIB.

Kala rombongan terhormat, bupati dan wakil serta Forkopimda memasuki arena pagelaran dan mengambil di VIP depan stage, tepat pukul 21.30 acara di mulai dengan tampilan perdana persembahan tarian Ranup Lampuan.

Tarian ini memberi kesan bahwa arena bumi Asahan berubah aura, tersunglap dengan nuansa ke-Acehan sejenak waktu.Gelombang suara menggema dalam irama syahdu. Semangat heroisme para pengunjung pun terbakar dalam rasa nasionalisme tinggi.

Saat Lagu Indonesia Raya menggema dan nuansa itu berputar haluan. Pengunjung

digiring sejenak mengingat Sang Khalid, sebagai penggenggam bumi, rasa tafakurpun mengalir sejalan dengan lafaz doa yang dipimpin oleh Ustazd Al-Ghani.

Aura ke-Acehan kembali hadir lewat kemerduan suara Syahreza yang pernah menggemparkan stasiun televisi

Indonesia dan Indonesia terpana kala itu, sukses menebarkan wangi Seulanga menyuguhka harum semerbak.

Walau keharuman itu terasa lekat lewat indra telinga di malam itu, menggantikan posisi dari indra hidung yang biasanya kita nikmati.

Masyarakat Aceh dengan perannya Aceh Sepakat Sumatera Utara, DPC XIX Asahan, telah menyatu utuh dengan alam kehidupan Melayu. Tampak langgam tanpa batas kultural kala mereka melangkah hidup, dengan leluasa menata diri dan keluarga dalam sebuah keharmonisan sebagai komunitas masyarakat yang terbuka.

Penulis pun berkesempatan di malam itu, hadir dengan langgam monolog, menghantarkan narasi sebagai penggugah rasa bagi semua pihak, dalam harap untuk berfikir dan bertindak menjaga semangat kolaborasi nyata. Penuh keharmonisan hidup karena esensinya keberadaan etnis Aceh di bumi Asahan, adalah alam kehidupan rumahnya sendiri.

Di depan bupati dan wakilnya, Forkopimda termasuk seluruh penentu kebijakan privat dan publik, berikut masyarakat setempat telah berhimpun di alam terbuka, di arena pergelaran dengan jumlah ribuan itu.

Penulis pun menuturkan beberapa kalimat narasi, tanpa settingan dalam rangkaian acara sebelumnya. Hadir dari semangat rasa untuk sebuah penekanan bahwa kita bersaudara. Sehingga bertuturlah penulis laksana berceloteh tanpa beban.

Bapak Bupati dan Forkopimda serta masyarakat semuanya, izinkan saya menyampaikan salam untuk engkau Bupati sebagai saudara kandungku, saudara kandung kami sebagai masyarakat Aceh. Bukan sesuatu yang berkelebihan kala kami ucapkan engkau sebagai saudara kandung kami.

Karena saya memiliki alasan untuk itu pada tahun 1612, Sultan Iskandar Muda, sang Raja dari Kerajaan Aceh Darussalam melakukan perjalanan ke Johor dan Malaka. Beliau melewati pinggiran laut. Beliau singgah dan istirahat di hulu Sungai Asahan.

Pejalanan berlanjut dari Sungai Asahan ke Sungai Silau, dan beliau bertemu dengan Raja Simargulang. Sultan Iskandar Muda membangun sebuah meunasah/musalla, sebagai tempat beliau menghadap sang Khalid.Akhitrnya Tanjung Balai itu menjadi sebuah perkampungan dan pusat perdagangan Kerajaan Aceh Darussalam dengan Malaka.

Bahkan yang menarik, Sultan Iskandar Muda, di bumi Asahan ini menikahi seorang gadis jelita, Siti Ungu Selendang Bulan, putri dari Raja Pinang Awan.Dari pernikahan itu, lahirkan seorang putra bernama Abdul Jalil. Kala (Tuanku) Abdul Jalil berusia 18 tahun, terbentuklah Kerajaan Asahan dan (Tuanku) Abdul Jalil diangkat sebagai Raja Asahan pertama pada tahun 1630.

Kerajaan Asahan memiliki struktur dan format pemerintahan yang sama karena diadopsi dari Kerajaan Aceh Darussalam Malam ini kami hadir dan berada di bumi Asahan, bukanlah sebagai tamu, namun engkau bapak Bupati bukan sebagai orang lain bagi kami, engkau adalah saudara kandung bagi kami. Kami hadir malam ini merasa kembali ke rumah sendiri karena kita bersaudara kandung.’

Celoteh penulis, menggema pada area pagelaran itu, dan alhamdulillah, applus pun data bertubi-tubi dari khalayak yang memadati arena pagelaran memberi kesan bahwa masyarakat Aceh dengan langgam budaya keacehannya diterima utuh di bumi Melayu Asahan.(bay)