Ekspor 25.920 Ekor Ayam ke Singapura, PT Indojaya Agrinusa Diingatkan Jaga Pasokan Lokal dan Keberlanjutan Peternak Mandiri

Pemerintah146 views

Mabesnews.com. Bintan — PT Indojaya Agrinusa (Jafra) mencatatkan capaian strategis dalam pengembangan industri perunggasan di Kepulauan Riau. Pada Selasa, 28 Januari 2026, perusahaan tersebut mengekspor sebanyak 25.920 ekor ayam siap potong ke Singapura melalui Pelabuhan Batu 6, Kota Tanjungpinang. Pengiriman ini dinilai sebagai indikator meningkatnya daya saing produk unggas daerah di pasar regional.

Aktivitas ekspor tersebut mendapat respons positif dari berbagai kalangan karena menunjukkan bahwa sektor peternakan unggas di Bintan dan sekitarnya mulai memasuki fase industrialisasi dengan orientasi pasar luar negeri. Selain Singapura, Jafra juga disebut tengah menjajaki peluang ekspor ke negara jiran lainnya seiring meningkatnya permintaan regional.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan, Aswar, menegaskan bahwa pemerintah daerah pada prinsipnya mendukung kegiatan ekspor sepanjang tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan masyarakat lokal.

“Ekspor tentu kami apresiasi karena berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Namun prinsip kami jelas, pasokan untuk Tanjungpinang, Bintan, dan Batam harus tetap aman dan terjaga,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Jafra tetap melayani kebutuhan pasar domestik melalui skema distribusi khusus dan komitmen pasokan yang telah disepakati bersama mitra pemasok di Kota Tanjungpinang. Perusahaan juga menjalankan pola kemitraan dengan peternak unggas di Pulau Bintan, yang meliputi pembelian hasil ternak, pendampingan teknis, serta kepastian serapan produksi.

Pengamat perunggasan Kepulauan Riau, Dr. Rahmat Hidayat, menilai pola kemitraan tersebut pada dasarnya memberikan manfaat bagi peternak, khususnya dalam menjaga stabilitas produksi dan kepastian pasar. Namun ia mengingatkan potensi ketimpangan apabila pola kerja sama tidak diatur secara inklusif.

“Kemitraan perusahaan besar dengan peternak memang membantu, tetapi harus tetap ada ruang yang adil bagi peternak mandiri. Jangan sampai pasar hanya dikuasai sistem kontrak tertutup, sementara peternak kecil kehilangan akses dan daya tawar,” katanya.

Sumber terpercaya yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Jafra juga melayani pembeli lokal tertentu yang terikat dalam komitmen pasokan jangka menengah. Skema tersebut bertujuan menjaga stabilitas suplai di pasar lokal, namun dinilai perlu dikaji secara berkelanjutan agar tidak menimbulkan distorsi terhadap mekanisme pasar unggas daerah.

 

Pandangan senada disampaikan pengamat ekonomi agribisnis yang menilai bahwa ekspor unggas harus dibarengi dengan kebijakan pengendalian distribusi yang ketat.

 

“Ekspor unggas merupakan peluang strategis bagi daerah, tetapi tanpa pengawasan yang memadai, berpotensi memicu defisit pasokan domestik. Negara harus hadir memastikan keseimbangan antara kepentingan bisnis, ketahanan pangan, dan keberlangsungan peternak rakyat,” ujarnya.

 

Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya berperan sebagai fasilitator ekspor, tetapi juga sebagai pengawas aktif agar produksi ayam potong dan telur tetap terjaga, harga stabil, serta peternak mandiri tidak terpinggirkan oleh arus industrialisasi sektor perunggasan.

­

Ekspor ayam ke Singapura menjadi momentum penting bagi Kepulauan Riau untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra perunggasan regional. Namun keberhasilan jangka panjang sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keseimbangan antara orientasi pasar internasional dan tanggung jawab terhadap ketahanan pangan masyarakat lokal.

 

arf-6