Mabesnews.com, Sumba Barat Daya, NTT – 26 April 2026 , Tiga pemuda asal Sumba akhirnya kembali ke pelukan keluarga mereka di Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur, setelah diduga menjadi korban penganiayaan oleh oknum anggota TNI di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Peristiwa yang disebut terjadi di Kabupaten Bima itu menyisakan luka fisik dan trauma mendalam bagi para korban. Alih-alih menuntut dengan emosi, pihak keluarga justru memilih jalan berbeda: berserah diri dan menyerahkan keadilan kepada Tuhan.

Salah satu orang tua korban, Sipri, mengungkapkan bahwa di tengah penderitaan yang dialami anak-anak mereka, keluarga hanya bisa bersyukur kepada Allah. Ia menyebut kejadian ini sebagai ujian berat yang menguji iman dan keteguhan hati.
“Kami hanya percaya, keadilan yang sesungguhnya datang dari Allah,” ujarnya.
Senada dengan itu, Markus, orang tua korban lainnya, menuturkan bahwa anak-anak mereka awalnya berangkat ke Bima untuk mencari nafkah. Namun, harapan itu berubah menjadi mimpi buruk setelah mereka mengalami tindakan kekerasan yang disebut sangat memilukan.
“Dalam kondisi seperti ini, kami hanya bisa pasrah dan mencari ketenangan bersama keluarga. Kami bersyukur anak-anak kami masih diberi keselamatan,” katanya.
Korban bernama Marselinus mengungkapkan bahwa mereka sempat mendapatkan bantuan dari pemilik gudang tempat mereka bekerja. Bahkan, pihak tempat kerja disebut ikut bertanggung jawab dengan membawa korban ke rumah sakit dan membantu proses pemulangan.
“Kami sempat dikepung massa. Situasinya sangat mencekam. Tapi kami bersyukur masih diberi hidup,” ungkapnya.
Keluarga korban menilai tindakan yang dilakukan oknum TNI tersebut sebagai perilaku yang tidak mencerminkan nilai-nilai kedisiplinan militer dan justru mencoreng nama baik institusi Tentara Nasional Indonesia.
Meski demikian, sikap keluarga terbilang tidak biasa. Di tengah banyaknya kasus serupa yang berujung tuntutan hukum berat, mereka memilih untuk tidak menuntut secara hukum, melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
“Kami tidak menuntut. Kami serahkan kepada Allah, hakim yang paling adil,” tegas Markus.
Di akhir pernyataan, keluarga berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi institusi TNI agar kejadian serupa tidak terulang. Mereka juga berharap pelaku dapat menyadari kesalahan dan kembali menjalankan tugas sebagai pelindung masyarakat.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap oknum aparat, serta perlunya penegakan disiplin yang tegas demi menjaga kepercayaan publik.
Tim Lapangan:
Dominggus







