Diduga Karena Adanya Operasional Produksi PT. JRBM, Desa Bakan Terus Dilanda Banjir Bandang Pada Musim Penghujan

Peristiwa189 views

MabesNews.com, Bolmong, Sulut-Desa Bakan Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) kembali memukau, namun bukan karena emasnya, melainkan karena amukan banjir bandang yang tak kunjung usai, Jumat (20/02/2026) lalu.

Aktivitas pertambangan emas milik PT J Resources Bolaang Mongondow (PT JRBM) kini berada di pusaran kritik tajam setelah warga menuding perusahaan tersebut sebagai dalang di balik petaka lingkungan yang merendam pemukiman mereka.

Setiap musim penghujan tiba, warga Desa Bakan di Kecamatan Lolayan harus bertaruh nyawa dan harta. Meluapnya Sungai Lolotut hingga setinggi lutut orang dewasa bukan lagi sekadar fenomena alam biasa. Warga dan aktivis lingkumgan menduga kuat bahwa penggundulan hutan di wilayah hulu oleh PT JRBM telah menghilangkan fungsi resapan air, membuat debit air terjun bebas tanpa penyangga langsung ke jantung desa.

“Debet air meningkat karena tak ada lagi pepohonan yang menyerap air sebagai penyangga. Akibatnya, banjir menerjang warga,” tegas Hery Lasabuda, Ketua LPKPK Sulawesi Utara.

Banjir kali ini bukan sekadar genangan. Berikut adalah fakta di lapangan, Akses Terputus: Jalan penghubung antar-desa lumpuh total, kendaraan tidak dapat melintas. Pemukiman Terdampak: Sedikitnya 55 rumah warga terendam air keruh.

Sementara itu, Kekesalan warga tidak lagi terbendung. Jagat media sosial, khususnya Facebook, dibanjiri unggahan keprihatinan sekaligus kecaman. Akun Ing Podomi menjadi salah satu yang memicu gelombang komentar pedas dari netizen yang menuntut tanggung jawab nyata dari pihak perusahaan.

Kini, desakan agar Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow hingga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) turun tangan semakin menguat. Warga menuntut pengkajian ulang secara menyeluruh terhadap izin dan keberadaan PT JRBM di wilayah tersebut sebelum alam memberikan peringatan yang lebih fatal.

Diketahui, peristiwa serupa juga pernah terjadi pada Agustus 2025 lalu di titik yang sama. Banjir berulang ini memunculkan harapan masyarakat agar ada evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan lingkungan di wilayah hulu, termasuk aktivitas pertambangan yang beroperasi di sekitar Desa Bakan. (Pusran Beeg)