Di Bawah Terangnya Lampu Jalan Jakarta

Pemerintah196 views

Oleh : Nursalim Tinggi Turatea

 

MabesNews.com, Malam itu, Jakarta berdetak dalam irama yang tak pernah berhenti. Lampu-lampu jalan memantulkan cahayanya di aspal yang basah oleh hujan sore. Deru kendaraan, suara tawa manusia, dan desahan angin malam bercampur menjadi satu. Di sudut kecil Jati Padang, Pasar Minggu, seorang pria duduk di bangku kayu depan warung kopi sederhana. Wajahnya teduh, penuh senyum ramah yang selalu dikenali siapa saja. Dia adalah Pak Eko Purwadi, seorang Komandan Sekuriti di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.

Pak Eko baru saja menyelesaikan tugasnya hari itu. Setelah memastikan kampus aman dan semua berjalan lancar, langkahnya membawanya ke RB OJe Coffee, kafe kecil yang sering ia kunjungi. Di sana, ia bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri, menyeruput secangkir kopi hitam yang hangat di bawah terang lampu jalan Jakarta.

Malam yang Menghidupkan Kenangan

Sambil memandangi jalan yang basah, pikiran Pak Eko melayang jauh ke masa kecilnya. Ia tumbuh di tengah keluarga sederhana. Ayahnya, Radiman, adalah seorang pria Yogyakarta yang keras namun adil, sedangkan ibunya berasal dari Wonogiri, sosok lembut yang selalu menanamkan nilai-nilai syukur dalam hidupnya.

Kehidupan mereka tidak pernah mewah, tetapi penuh kebersamaan. Pak Eko kecil sering membantu ibunya di dapur atau menemani ayahnya bekerja. Dari mereka, ia belajar arti tanggung jawab, kerja keras, dan keikhlasan dalam menjalani hidup.

Pelayan kafe membuyarkan lamunannya. “Pak Eko, kopi hitamnya seperti biasa, ya?”

Pak Eko tersenyum. “Iya, Bu Dewi. Pekat, tapi jangan terlalu manis.”

Sambil menunggu pesanannya, Pak Eko kembali merenung. Ia teringat hari-hari pertama pernikahannya dengan Karlina, wanita yang kini menjadi belahan jiwanya. Hampir dua dekade mereka bersama, dan setiap detik adalah pelajaran tentang cinta, kesabaran, dan kebersamaan.

Karlina bukan hanya istri, tetapi sahabat yang selalu mendukungnya dalam setiap langkah. Bersama, mereka membangun keluarga kecil yang harmonis dengan tiga anak: Fitiyani, mahasiswa semester enam di Universitas Bina Nusantara; Fani Kalisa Putri, seorang pelajar yang rajin di SMP Negeri 107 Jakarta; dan Fatin Gani Ramadhan Purra, si bungsu yang selalu membawa tawa dalam rumah.

Cahaya Harmoni di Tengah Keramaian

Di kampus, Pak Eko adalah sosok yang dihormati. Kepemimpinannya sebagai Komandan Sekuriti tidak hanya tegas, tetapi juga penuh empati. Banyak mahasiswa datang padanya, bukan hanya untuk berbicara soal keamanan, tetapi juga untuk berbagi cerita atau meminta nasihat.

“Pak Eko, kapan kita ngopi bareng di sini?” celetuk seorang mahasiswa yang lewat malam itu.

“Santai, Mas. Kalau kamu nanti sukses, traktir saya, ya,” jawab Pak Eko sambil tertawa.

Bagi Pak Eko, hidup adalah tentang menciptakan hubungan yang tulus. Sebuah senyuman atau percakapan ringan kadang lebih berarti daripada uang. Ia percaya bahwa setiap manusia membutuhkan ruang untuk merasa dihargai.

Kesederhanaan yang Penuh Makna

Malam semakin larut. Pak Eko menghabiskan kopinya, lalu bangkit dari kursinya. Langit Jakarta yang redup di atasnya mengingatkannya pada filosofi hidup yang ia pegang teguh: bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada rasa syukur dan harmoni dalam hubungan dengan sesama.

Ia melangkah meninggalkan kafe, berjalan pelan di bawah cahaya lampu jalan yang memantulkan bayangan dirinya. Di dalam hati, ia merasa damai. Baginya, hidup yang sederhana namun penuh cinta adalah harta paling berharga.

Malam itu, di bawah terang lampu jalan Jakarta, Pak Eko bukan hanya sosok sederhana yang menjalani tugasnya. Ia adalah pelajaran hidup bagi siapa saja yang mengenalnya—bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang siapa yang kita miliki di sisi kita.