DENYUT JANTUNG & KESADARAN RUH : DIALOG TASAWUF & FISIKA KUANTUM

Oleh :

Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si.

Spesialis Sub Kajian Hypermetafisika Tasawuf,
Kepala Laboratorium Fisika Nuklir, FMIPA Universitas Sumatera Utara

Abstrak

Makalah ini membahas relasi antara denyut jantung, kesadaran ruh, dan struktur realitas sebagaimana dipahami dalam tasawuf Islam dan fisika kuantum modern. Dengan menjadikan jantung—khususnya pusat pacu alaminya (sinoatrial node)—sebagai titik masuk, tulisan ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak semata-mata dapat direduksi pada mekanisme biologis. Konsep ruh dan qalb dalam tasawuf diposisikan sebagai prinsip kesadaran non-material yang berinteraksi dengan struktur jasmani. Sementara itu, fisika kuantum, melalui konsep medan, non-lokalitas, dan energi nol-titik ; memberikan bahasa ilmiah modern untuk memahami realitas fundamental yang tidak kasatmata namun menentukan. Makalah ini bertujuan membangun dialog konseptual yang bersifat integratif tanpa mencampuradukkan domain sains dan metafisika.

Kata kunci: denyut jantung, ruh, kesadaran, tasawuf, fisika kuantum, qolb.

1. Pendahuluan

Setiap manusia hidup dalam irama yang sama: denyut jantung. Ia berdetak tanpa disadari, namun berhenti berdetak berarti berhentinya kehidupan. Sains modern menjelaskan denyut ini melalui mekanisme elektrofisiologis jantung, sementara tradisi tasawuf sejak lama memandang jantung (qolb) sebagai pusat kesadaran ruhani manusia.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah denyut jantung semata-mata proses mekanik, ataukah ia merupakan ekspresi lahir dari realitas yang lebih dalam ?. Dalam konteks ini, dialog antara tasawuf & fisika kuantum menjadi relevan, bukan untuk saling membenarkan, melainkan untuk saling menerangi batas pemahaman masing-masing (Capra, 1996).

2. Jantung dalam Perspektif Biologi Modern

Dalam fisiologi, jantung memiliki pusat pemicu denyut alami yang disebut sinoatrial (SA) node. Struktur kecil ini berfungsi sebagai natural pacemaker yang menghasilkan impuls listrik secara spontan dan ritmis, bahkan tanpa stimulasi saraf eksternal (Guyton & Hall, 2021).

Fakta pentingnya adalah:

  1. SA node bekerja otomatis

  2. Ia mendahului kesadaran sadar manusia

  3. Ia mengatur irama seluruh sistem kehidupan jasmani

Dengan demikian, jantung bukan sekadar pompa mekanis, melainkan pusat ritme kehidupan biologis.

3. Qolb & Ruh dalam Tasawuf

Dalam tasawuf Islam, qolb bukan identik dengan organ fisik semata, melainkan pusat kesadaran batin manusia. Al-Ghazali menegaskan bahwa qolb adalah realitas halus (lathifah rabbaniyyah) yang menjadi tempat pengetahuan &  pengenalan kepada Alloooh (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din).

Ruh, dalam pengertian ini, bukan energi fisik & bukan pula produk otak. Ia adalah prinsip hidup & kesadaran yang bersumber dari perintah Ilaaahi (amr), sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Isra’: 85).

Dalam peristiwa perjanjian primordial (QS. Al-A‘raf: 172), ruh manusia bersaksi atas Ketuhanan Alloooh sebelum keberadaan jasad. Kesadaran ini tidak hilang, melainkan terpendam & terus hadir dalam struktur batin manusia.

4. Kesadaran & Tantangan Sains Modern

Ilmu syaraf modern mampu memetakan aktivitas otak, tetapi belum mampu menjelaskan asal-usul kesadaran subjektif ; fenomena yang dikenal sebagai the hard problem of consciousness (Chalmers, 1995).

Banyak filsuf & fisikawan menyadari bahwa kesadaran tidak mudah direduksi menjadi proses neurokimia semata. Bahkan, beberapa pendekatan kontemporer memandang kesadaran sebagai realitas fundamental, bukan turunan (Nagel, 2012).

Di sinilah tasawuf menawarkan perspektif alternatif: kesadaran bukan dihasilkan oleh materi, tetapi dimanifestasikan melalui materi.

5. Fisika Kuantum & Medan Realitas

Fisika kuantum menunjukkan bahwa realitas terdalam alam semesta bukan benda padat, melainkan medan & probabilitas. Konsep medan kuantum menggambarkan bahwa partikel hanyalah eksitasi dari medan yang lebih fundamental (Weinberg, 1995).

Fenomena seperti non-lokalitas & keterikatan kuantum (entanglement) menunjukkan bahwa realitas tidak sepenuhnya tunduk pada logika sebab-akibat klasik (Bell, 1964). Selain itu, energi nol-titik membuktikan bahwa bahkan “ruang kosong” menyimpan fluktuasi energi (Planck, 1911).

Secara filosofis, ini menegaskan bahwa:

  • Kekosongan bukan nihil

  • Realitas bersifat berlapis

  • Yang tak terlihat justru menentukan yang terlihat

6. Dialog Konseptual: Ruh, Qalb, dan Medan

Dalam batas analogi filosofis, medan kuantum dapat dipahami sebagai simbol ilmiah dari realitas fundamental yang menopang keberadaan. Ruh, dalam tasawuf, adalah prinsip non-material yang menopang kesadaran & kehidupan.

Qolb berperan sebagai antarmuka antara ruh & jasad. Denyut jantung, yang dipicu oleh SA node, menjadi ekspresi lahir dari keterhubungan ini. Praktik dzikir qolbi dalam tarekat dapat dipahami sebagai upaya penyelarasan kesadaran manusia dengan struktur realitas terdalam, mirip dengan konsep koherensi dalam sistem kuantum, tanpa menyamakannya secara literal.

7. Implikasi Filsafat Sains

Pendekatan ini memiliki beberapa implikasi penting:

  1. Menolak reduksionisme materialistik ekstrem

  2. Membuka model non-dualistik sains spiritualitas

  3. Menguatkan epistemologi tauhid sebagai kerangka integratif

Sains dibaca sebagai kajian ayat-ayat kauniyah, sementara tasawuf sebagai pendalaman ayat-ayat batiniyah. Keduanya saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

8. Kesimpulan

Denyut jantung manusia bukan sekadar fenomena biologis, melainkan pintu masuk untuk memahami relasi antara tubuh, kesadaran & realitas terdalam. Tasawuf & fisika kuantum, meski berbeda domain, sama-sama menunjukkan bahwa kehidupan ditopang oleh sesuatu yang tidak kasatmata namun nyata.

Dialog ini tidak bermaksud menyatukan sains & tasawuf secara artifisial, tetapi menempatkan keduanya dalam horizon makna yang sama : pencarian kebenaran tentang kehidupan & kesadaran manusia. Wallahu a’lam. (ms2).