MabesNews.com, BANTEN – Pihak Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang, Banten, masih menutup mulut rapat-rapat terkait dugaan korupsi dalam pekerjaan 2 proyek drainase yang dianggarkan melalui uang rakyat dalam APBD Tahun Anggaran (TA) 2025.
Hingga berita ini diturunkan kembali, pihak DBMSDA Kabupaten Tangerang tetap masih bungkam dan tidak bersedia dikonfirmasi kendati pengerjaan kedua proyek drainase tersebut sangat sarat penyimpangan sehingga sangat berpotensi merugikan uang negara karena kental dengan aroma korupsinya.

Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) yang juga merupakan Plt. Sekretaris DBMSDA Kabupaten Tangerang Rijal Muhammad Fikri, tampaknya lebih memilih bungkam dan tidak mau buka suara soal bobroknya pengerjaan kedua proyek drainase yang terkesan dikerjakan dengan asal-asalan tersebut.
Masing-masing kedua paket proyek drainase yang dimaksud antara lain:
1. Proyek ‘Drainase Jalan Cisauk – Suradita (Bts Bogor)’, berlokasi di Kecamatan Cisauk, sumber dana APBD Tahun Anggaran (TA) 2025, senilai Rp 1.478.939.000, dengan pelaksana CV. MAHAKARYA PUTRA KONTRUKSINDO.
2. Proyek ‘Pembangunan Drainase Jalan Cibogo – Wetan, berlokasi di Kecamatan Kelapa Dua’ dengan nilai kontrak Rp 788.424.000, yang dilaksanakan oleh CV. WIBI JAYA ABADI.
Ketika dikonfirmasi ingin meminta tanggapan langsung ke Rijal via WA, Rabu (4/6/2025), terkait proyek drainase yang dikerjakan CV. MAHAKARYA PUTRA KONTRUKSINDO dan CV. WIBI JAYA ABADI tersebut, Rijal Muhammad Fikri tidak mau menjawab dan malah membisu, seolah merestui kedua proyek drainase tersebut menjadi lahan korupsi bagi pihak pelaksana.
Sementara itu berdasarkan temuan hasil investigasi Ketua Umum LSM Bersama Peduli Pendidikan Bangsa (BPPB) Tolopan M, proyek ‘Drainase Jalan Cisauk – Suradita (Bts Bogor)’ yang melumat biaya hampir Rp 1,5 miliar dan dikerjakan CV. MAHAKARYA PUTRA KONTRUKSINDO ini, pelaksanaan pengerjaannya menggunakan U Ditch.
Namun, janggalnya, pada saat pemasangan U Ditch dilakukan ketika keadaan saluran sedang tergenang banyak air. U Ditch terpasang tanpa menggunakan hamparan pasir sebagai lantai kerja, dan U Ditch yang dipasang pada drainase banyak yang sudah retak dan pecah.
“U Ditch yang terpasang sudah pada retak-retak dan sompel. Pada saat pemasangan U Ditch dilakukan saat saluran masih tergenang banyak air tanpa dilakukan terlebih dahulu pengurasan air. U Ditch yang terpasang tidak menggunakan lantai kerja atau hamparan pasir, padahal lantai kerja itu sangat berfungsi sebagai penguat pondasi dudukan U Ditch,” ungkap Tolopan, belum lama ini.
Senasib dengan buruknya kualitas proyek ‘Drainase Jalan Cisauk – Suradita (Bts Bogor)’, proyek ‘Pembangunan Drainase Jalan Cibogo – Wetan’ senilai Rp 788 juta lebih yang dikerjakan CV. WIBI JAYA ABADI ini, juga sangat terindikasi korupsi.
Menurut Tolopan, proyek tersebut pengerjaannya tidak sesuai ketentuan, diduga kuat menyimpang dari spesifikasi kontrak termasuk Rencana Anggaran Biaya (RAB), karena menggunakan U Ditch yang retak-retak dan pecah. Selain itu pada saat pemasangan U Ditch kondisi saluran sedang dalam kondisi banjir genangan air.
“U Ditch yang terpasang dilakukan dalam kondisi banjir air, tanpa dikuras terlebih dahulu sehingga tanpa menggunakan lantai kerja untuk dudukan U Ditch. Dan anehnya, U Ditch yang dipasang sudah retak dan pecah. Pekerjaan pemasangan U Ditch tidak menggunakan alat berat Crane, tapi menggunakan alat berat yang berfungsi sebagai pengeruk saluran,” ujar Tolopan.
PESTA TAMPUBOLON











