Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si. Dosen Fisika & Kepala Laboratorium Fisika Nuklir, Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)-Universitas Sumatera Utara (USU) – Medan.
https://linktr.ee/sontangsihotang ; https://linktr.ee/muhammadsontangsihotang#523745332,
e-mail: sihotangsontang04@gmail.com, muhammad.sontang@usu.ac.id
Abstrak
Artikel ini menyajikan analisis mendalam terhadap kontribusi Syekh Muhammad Nafis al-Banjari (Datuk Sanggul) dalam pengembangan filsafat sufistik di Nusantara, khususnya melalui karyanya yang monumental, Ad-Durr an-Nafis fi Bayan Wahdat al-Af’al wa al-Asma’ wa ash-Sifat wa adz-Dzat. Kami mengeksplorasi bagaimana Datuk Sanggul secara sistematis mengartikulasikan proses kaji diri menuju hakikat tauhid & makrifatullah, yang berpusat pada adagium “Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu” (Barang siapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Alloooh). Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika-fenomenologis, penelitian ini menguak dimensi metafisika dari empat tingkatan kesatuan (wahdatul af’al, asma’, sifat, & dzat) sebagai kerangka pemurnian diri. Temuan menunjukkan bahwa ajaran Datuk Sanggul tidak hanya logis & rasional dalam kerangka syariat, tetapi juga menawarkan pengalaman supra-rasional yang sinergis & terintegrasi, membentuk harmoni antara dimensi eksoteris & esoteris Islam. Implikasi dari penelitian ini menyoroti relevansi abadi tasawuf dalam mengatasi krisis spiritual kontemporer & memperkaya dialog interdisipliner antara sains & spiritualitas.
Kata Kunci: Datuk Sanggul, Ad-Durr an-Nafis, Makrifatullah, Tauhid Hakikat, Metafisika, Sufisme Nusantara, Kaji Diri, Wahdatul Wujud.
- Pendahuluan
Pencarian akan kebenaran hakiki & pengenalan terhadap Realitas Mutlak (Alloooh) merupakan inti dari perjalanan spiritual manusia. Dalam tradisi Islam, tasawuf menyediakan metodologi & kerangka filosofis untuk mencapai puncak pengenalan ini, yang dikenal sebagai makrifatullah. Adagium sufistik yang mendalam, “Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu” (Barang siapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Alloooh), menjadi fondasi epistemologis bagi proses kaji diri atau introspeksi mendalam dalam mencapai tujuan tersebut (al-Ghazali, 2004: 123).
Di Nusantara, salah satu tokoh sufi yang secara brilian mengartikulasikan jalur spiritual ini adalah Syekh Muhammad Nafis al-Banjari (w. 1812 M), yang lebih dikenal sebagai Datuk Sanggul. Melalui karyanya yang monumental, Ad-Durr an-Nafis fi Bayan Wahdat al-Af’al wa al-Asma’ wa ash-Sifat wa adz-Dzat (Permata yang Indah dalam Menjelaskan Kesatuan Perbuatan, Nama-nama, Sifat-sifat, & Zat), Datuk Sanggul tidak hanya memperkenalkan konsep-konsep sufistik yang kompleks, tetapi juga menyajikannya dalam kerangka yang sistematis & mudah diakses oleh masyarakat Melayu pada masanya (Azra, 2006: 187).
Meskipun Ad-Durr an-Nafis telah menjadi rujukan utama dalam studi tasawuf di Asia Tenggara, analisis mendalam yang mengintegrasikan dimensi rasional, supra-rasional, sinergis, & harmonis dalam konteks metafisika hakikat tauhidnya masih memerlukan eksplorasi lebih lanjut dalam literatur akademis global. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan menguak tabir metafisika hakikat tauhid yang disajikan oleh Datuk Sanggul, dengan fokus pada bagaimana proses “mengenal diri” secara bertahap mengarah pada “mengenal Alloooh” secara hakiki, sebagaimana termaktub dalam adagium tersebut.
- Latar Belakang Intelektual & Posisi Datuk Sanggul dalam Tradisi Sufisme Nusantara
Syekh Muhammad Nafis al-Banjari adalah seorang ulama & mursyid Tarekat Sammaniyah yang memiliki akar keilmuan yang kuat dari Haramain (Mekah & Madinah). Beliau berguru kepada ulama-ulama terkemuka abad ke-18, termasuk Syekh Muhammad Samman al-Madani, pendiri Tarekat Sammaniyah, & Syekh Abdus Samad al-Palimbani, penulis Siyar as-Salikin (Bruinessen, 1995: 112). Pengalaman belajar di pusat-pusat keilmuan Islam ini membekali Datuk Sanggul dengan pemahaman yang komprehensif tentang fikih, akidah, & tasawuf, termasuk filsafat wahdatul wujud yang dipopulerkan oleh Ibn Arabi (Ibn Arabi, 2015).
Pada masanya, konsep wahdatul wujud seringkali disalahpahami, bahkan dianggap sesat oleh sebagian kalangan yang hanya melihat aspek lahiriahnya tanpa memahami kedalaman metafisikanya. Datuk Sanggul, melalui Ad-Durr an-Nafis, berupaya menjernihkan pemahaman ini dengan menyajikan sebuah kerangka yang menjaga keseimbangan antara syariat (eksoteris) & hakikat (esoteris). Beliau menegaskan bahwa hakikat tidak dapat dicapai tanpa fondasi syariat yang kokoh, & syariat tanpa hakikat akan kehilangan kedalaman spiritualnya (al-Banjari, t.t.: 75). Posisi ini menempatkan Datuk Sanggul sebagai jembatan penting antara tradisi sufistik klasik & konteks lokal Nusantara, menjadikannya salah satu pilar utama dalam jaringan ulama Melayu yang membentuk diskursus keislaman di wilayah ini (Azra, 2006).
- Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual & hermeneutika-fenomenologis. Data primer bersumber dari karya Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, Ad-Durr an-Nafis fi Bayan Wahdat al-Af’al wa al-Asma’ wa ash-Sifat wa adz-Dzat. Data sekunder diperoleh dari literatur-literatur akademis mengenai tasawuf, filsafat Islam, sejarah ulama Nusantara, serta karya-karya sufi klasik yang relevan.
Analisis hermeneutika diterapkan untuk menafsirkan teks Ad-Durr an-Nafis dalam konteks historis & filosofisnya, dengan mempertimbangkan terminologi sufistik & implikasi metafisikanya. Pendekatan fenomenologis digunakan untuk memahami pengalaman subjektif & proses kaji diri yang digambarkan oleh Datuk Sanggul, serta bagaimana pengalaman tersebut membentuk kesadaran akan hakikat tauhid & makrifatullah. Kerangka analisis berfokus pada empat tingkatan kesatuan (wahdatul af’al, asma’, sifat, & dzat) serta bagaimana masing-masing tingkatan berkontribusi pada pemurnian diri & pencapaian pengenalan Ilaaahi yang hakiki. Penekanan diberikan pada aspek logis, rasional, supra-rasional, sinergis, harmonis, & terintegrasi dari ajaran beliau.
- Hasil & Diskusi: Menguak Tabir Metafisika Hakikat Tauhid
Datuk Sanggul menyajikan proses kaji diri sebagai sebuah perjalanan hierarkis melalui empat tingkatan kesatuan, yang secara progresif menyingkap tabir-tabir ilusi & mengantarkan salik pada pengalaman tauhid hakikat. Setiap tingkatan tidak hanya merupakan pemahaman konseptual, tetapi juga pengalaman batin yang transformatif, memanifestasikan adagium “Mengenal Diri, Mengenal Allooh”.
- Wahdatul Af’al (Kesatuan Perbuatan): Landasan Rasional & Supra-Rasional
Pada tingkatan pertama, Datuk Sanggul mengajarkan bahwa secara rasional, setiap perbuatan di alam semesta ini memiliki agen atau pelaku. Namun, secara supra-rasional & metafisika, hakikatnya adalah bahwa segala perbuatan yang tampak dari makhluk, baik yang disadari maupun tidak, merupakan manifestasi langsung dari Af’al (Perbuatan) Alloooh (al-Banjari, t.t.: 15). Manusia & seluruh entitas hanyalah medium atau mahal al-tajalli bagi penampakan Perbuatan Ilaaahi.
Pemurnian Diri: Kesadaran ini secara logis mengikis syirik af’al, yaitu keyakinan bahwa manusia memiliki kekuatan mandiri. Ini menumbuhkan tawakal yang mendalam, ridha terhadap ketetapan Ilaaahi, & syukur atas setiap anugerah. Egoisme & kebanggaan diri atas pencapaian pribadi secara sinergis digantikan oleh kesadaran bahwa “tiada yang berbuat melainkan Alloooh.”
“Mengenal Diri, Mengenal Allooh”: Pada tahap ini, “mengenal diri” berarti memahami bahwa diri ini adalah arena tempat Perbuatan Alloooh terwujud. “Mengenal Alloooh” adalah menyaksikan Af’al-Nya dalam setiap gerak & diam alam semesta, termasuk dalam setiap tarikan napas & denyut jantung diri sendiri. Ini adalah pengenalan awal yang melampaui batas-batas rasio biasa, memasuki ranah intuisi spiritual.
- Wahdatul Asma’ (Kesatuan Nama-nama): Harmoni Antara Bentuk & Esensi
Setelah memahami kesatuan perbuatan, salik diarahkan pada Wahdatul Asma’. Secara rasional, kita mengenal berbagai nama & sifat pada makhluk. Namun, secara supra-rasional & metafisika, Ad-Durr an-Nafis menjelaskan bahwa semua nama yang baik & indah (asmaul husna) adalah milik Alloooh, & nama-nama yang tampak pada makhluk hanyalah cerminan atau bayangan dari nama-nama tersebut (al-Banjari, t.t.: 30).
Pemurnian Diri : Kesadaran ini secara harmonis memurni kan hati dari ketergantungan pada pujian makhluk atau kebanggaan atas nama & gelar duniawi.
Ia menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada Alloooh yang memiliki segala nama kesempurnaan. Hati menjadi fokus untuk mengagungkan asmaul husna & berusaha meneladaninya dalam akhlak, seperti menjadi Rahim
(penyayang) sebagai cerminan dari Ar-Rahman.
“Mengenal Diri, Mengenal Allooh”: “Mengenal diri” di sini berarti memahami bahwa nama-nama baik yang kita miliki hanyalah pinjaman.
“Mengenal Alloooh” adalah menyaksikan Asma-Nya terhampar dalam setiap keindahan, kebaikan, & kesempurnaan yang ada di alam semesta, menyadari bahwa “tiada yang bernama dengan nama yang hakiki melainkan Alloooh.” Ini adalah pengenalan yang mengintegrasikan aspek linguistik & esensial.
- Wahdatul Sifat (Kesatuan Sifat-sifat): Integrasi Realitas Internal & Eksternal
Tahap selanjutnya adalah memahami Wahdatul Sifat. Secara rasional, kita mengamati sifat-sifat seperti ilmu, hidup, kuasa, & kehendak pada makhluk. Namun, secara supra-rasional & metafisika, Datuk Sanggul menegaskan bahwa semua sifat kesempurnaan tersebut adalah sifat Alloooh, & sifat yang ada pada makhluk hanyalah pinjaman atau bayangan dari sifat-sifat-Nya yang tak terbatas (al-Banjari, t.t.: 45).
Pemurnian Diri: Kesadaran ini secara terintegrasi memur nikan diri dari syirik sifat, yaitu menganggap sifat makhluk setara dengan sifat Alloooh. Ia melahirkan khusyuk (ketundukan), tawadhu’ (kerendahan hati), & i’tiraf (pengakuan) atas keterbatasan diri. Salik terbebas dari kebanggaan akan ilmu atau kekuasaan, karena ia tahu semua itu adalah anugerah & manifestasi dari Sifat Ilaaahi.
“Mengenal Diri, Mengenal Allooh”: “Mengenal diri” berarti menyadari bahwa sifat-sifat yang kita miliki adalah manifestasi sementara dari sifat-sifat Alloooh. “Mengenal Alloooh” adalah menyaksikan Sifat-Nya yang sempurna meliputi segala sesuatu, merasakan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan, karena “tiada yang bersifat dengan sifat yang hakiki melainkan Alloooh.” Ini adalah pengenalan yang menyatukan realitas internal diri dengan realitas eksternal alam semesta.
- Wahdatul Dzat (Kesatuan Zat): Puncak Pengalaman Supra-Rasional & Makrifatullah
Ini adalah puncak dari perjalanan kaji diri, sebuah pengalaman supra-rasional & metafisika yang melampaui batas-batas rasio & bahasa. Datuk Sanggul menjelaskan bahwa hanya Zat Alloooh yang Maha Esa yang hakiki ada, sedangkan wujud selain-Nya adalah wujud yang bergantung (wujud majazi) & tidak mandiri (al-Banjari, t.t.: 60). Ini bukan berarti penyatuan secara fisik antara Alloooh & makhluk, melainkan kesadaran akan keesaan mutlak Zat Ilaaahi yang meliputi segala sesuatu.
Pemurnian Diri: Kesadaran ini secara sistematis memurni kan diri dari syirik dzat, yaitu menganggap ada wujud lain yang mandiri selain Alloooh.
Salik mencapai fana (penghilangan kesadaran diri yang terpisah dari Alloooh) & baqa (kekalnya kesadaran akan Alloooh) (Schimmel, 1975: 142). Ini adalah pengalaman syuhud (penyaksian) langsung terhadap keesaan Zat Ilaaahi, di mana segala dualitas lenyap dalam kesadaran akan Wahdatul Wujud.
“Mengenal Diri, Mengenal Allooh”: Pada tahap ini, “mengenal diri” berarti menyadari bahwa diri hakiki adalah manifestasi dari Zat Ilaaahi. “Mengenal Alloooh” adalah mengalami makrifatullah yang paling tinggi, di mana seluruh kesadaran diri melebur dalam keesaan Ilaaahi, merasakan bahwa “tiada yang maujud (ada) secara hakiki melainkan Alloooh.” Ini adalah puncak dari tauhid hakikat, tempat manusia sejati menemukan hakikat keberadaannya sebagai cermin bagi keindahan & keagungan Alloooh.
- Sinergi & Harmoni Syariat-Hakikat: Sebuah Integrasi Holistik
Salah satu kontribusi terpenting Datuk Sanggul adalah penekanannya pada sinergi & harmoni antara syariat & hakikat. Beliau secara logis & rasional menegaskan bahwa syariat adalah “kulit” & hakikat adalah “isi” (al-Banjari, t.t.: 75). Keduanya saling melengkapi & tidak dapat dipisahkan. Syariat tanpa hakikat adalah ritual kosong, sedangkan hakikat tanpa syariat adalah delusi tanpa pijakan.
Syariat sebagai Disiplin Rasional: Ibadah-ibadah lahiriah berfungsi sebagai disiplin yang membersihkan jiwa & raga, membentuk akhlak mulia, & menjaga keteraturan sosial. Ini adalah prasyarat rasional untuk memasuki dimensi batin.
Hakikat sebagai Pengalaman Supra-Rasional: Hakikat adalah pengalaman batin yang melampaui bentuk lahiriah syariat, memberikan makna & kedalaman pada setiap ritual. Ini adalah dimensi supra-rasional yang mengantarkan pada makrifatullah.
Integrasi ini menciptakan sebuah jalan spiritual yang holistik, di mana tindakan lahiriah (syariat) menjadi ekspresi dari kesadaran batin (hakikat), & kesadaran batin diperkuat oleh ketaatan pada syariat.
- Implikasi & Relevansi Kontemporer
Ajaran Datuk Sanggul tentang metafisika hakikat tauhid memiliki implikasi yang signifikan & relevansi abadi:
Mengatasi Krisis Spiritual Kontemporer: Di era modern yang didominasi materialisme & krisis eksistensial, ajaran ini menawarkan kerangka terintegrasi untuk menemukan makna hidup & tujuan keberadaan melalui pengenalan diri & Alloooh.
Pembangunan Karakter & Etika: Pemahaman tentang Wahdatul Af’al, Asma’, & Sifat secara sinergis menumbuh kan kerendahan hati, tawakal, syukur, & akhlak mulia, yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan masyarakat yang beradab.
Dialog Interdisipliner: Konsep-konsep metafisika yang disajikan oleh Datuk Sanggul, terutama tentang kesatuan wujud, dapat membuka ruang dialog yang kaya antara spiritualitas & disiplin ilmu lain, termasuk fisika & kosmologi (Nasr, 1993: 210). Meskipun berbeda domain, pencarian akan kesatuan fundamental & realitas terdalam adalah titik temu yang potensial.
Pemahaman Islam yang Moderat: Penekanan pada keseimbangan syariat & hakikat mempromosikan pemahaman Islam yang moderat & inklusif, menjauhkan dari ekstremisme yang mengabaikan salah satu dimensi agama.
- Kesimpulan
Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, melalui Ad-Durr an-Nafis, telah mewariskan sebuah warisan intelektual & spiritual yang tak ternilai. Analisis terhadap karyanya menguak tabir metafisika hakikat tauhid yang sistematis, logis, & supra-rasional, membimbing salik melalui empat tingkatan kesatuan menuju makrifatullah.
Proses kaji diri yang beliau ajarkan secara sinergis & har monis mengintegrasikan syariat & hakikat, memben tuk sebuah pendekatan spiritual yang terintegrasi & holistik.
Adagium “Mengenal Diri, Mengenal Allooh” bukan sekadar frasa filosofis, melainkan sebuah peta jalan transformatif yang mengantarkan manusia pada pengalaman kehadiran Ilaaahi yang hakiki. Ajaran Datuk Sanggul tetap relevan secara krusial di era kontemporer, menawarkan solusi spiritual bagi krisis eksistensial, mempromosikan etika universal, & membuka peluang untuk dialog interdisipliner yang memperkaya pemahaman kita tentang realitas. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi aplikasi praktis dari ajaran ini dalam konteks pendidikan spiritual & psikologi transpersonal.(ms).







