Bulukumba – Polemik Dapur Makanan Bergizi Gratis (SPPG) di Desa Bulolohe, Kecamatan Rilau Ale, kembali memanas. Setelah sebelumnya disorot karena bangunan dapur yang disebut menyerupai rumah kos-kosan serta bau menyengat dari area pengolahan, kini muncul pengakuan mengejutkan dari seorang mantan karyawan yang mengungkap dugaan serius terkait kualitas bahan makanan.
Kesaksian ini semakin menguatkan kecurigaan publik bahwa dapur SPPG Bulolohe dikelola tanpa standar yang memadai, bahkan berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak penerima program.
Mantan karyawan tersebut, yang ditemui awak media pada Kamis malam (30/11/2025), mengaku memilih mundur karena tidak sanggup begadang.
“Saya tidak sanggup begadang terus, makanya saya berhenti,” ungkapnya singkat.
Namun persoalan yang diungkap, saya berhenti karena tidak sanggup begadang. Ia menceritakan pengalaman paling mengkhawatirkan selama bekerja di dapur tersebut: pihak pengelola memerintahkan untuk tetap mengolah bahan makanan yang diduga sudah tidak layak konsumsi.
Ia mengaku pernah menolak menggoreng tempe yang menurut penilaiannya sudah rusak dan berpotensi membahayakan kesehatan.
“Saya bilang, kalau saya mau makan itu tempe sudah tidak layak. Tapi pihak pengelola tetap perintahkan untuk digoreng, katanya cuma ragi. Saya jawab, yang penting kita siap tanggung jawab kalau nanti bermasalah,” tuturnya kepada awak media.
Pengakuan ini menjadi alarm keras bagi publik. Jika bahan pangan yang diragukan kelayakannya tetap diproses dan disajikan, maka program yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi anak justru berpotensi menjadi ancaman serius bagi kesehatan mereka.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan di tubuh SPPG Bulolohe, mulai dari kondisi fisik dapur, kebersihan, hingga dugaan lemahnya standar keamanan pangan. Pengelolaan yang terkesan asal-asalan dan minim pengawasan memunculkan pertanyaan besar soal komitmen pelaksana terhadap keselamatan penerima manfaat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola SPPG maupun pemerintah terkait belum memberikan klarifikasi resmi atas kesaksian mantan karyawan tersebut.
Sementara itu, desakan masyarakat kian menguat. Warga menuntut transparansi penuh, audit menyeluruh, serta perbaikan total sistem pengelolaan dapur SPPG Bulolohe, sebelum program ini menimbulkan dampak kesehatan yang lebih luas bagi anak-anak sekolah di wilayah tersebut.







