Mabesnews.com-Majalengka, Ligung kembali menjadi saksi harmonisasi seni tradisi dan nilai spiritual melalui Buka Tutup Panggung 2025–2026 dengan tema “Menutup Sembilan, Membuka Satu”, yang digelar Sanggar Seni Gema Parachiyangan di Blok Leuwimukti RT 001 RW 005, Rabu (31/12/2025). Acara ini dihadiri Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. KH. Maman Imanulhaq, M.M., tokoh ulama, tokoh adat serta masyarakat setempat, memperkuat tekad kolektif dalam merawat warisan budaya sekaligus menebar syiar Islam. 1/1/26 00:00 WIB.
Turut juga hadir unsur Muspika Ligung, yang diwakili Kepala Seksi Sosial (Kesos) sebagai perwakilan Camat, Koramil 1713 Ligung yang diwakili oleh anggota, Kepala Desa Ligung, Tata Casmita, beserta jajaran perangkat desa, seniman dan seniwati dari berbagai wilayah Kabupaten Majalengka, organisasi media PPWI DPC Kabupaten Majalengka, hadir Ketua Ato Hendrato dan Sekretaris Ivan Afriandi, Bidang Diklat & Litbang Dasuki Krisna serta Pagar Nusa PAC Ligung. Kehadiran mereka memperkuat kolaborasi lintas elemen dalam melestarikan seni, budaya dan nilai spiritual lokal.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tawasul doa bersama dan sholawat Nabi Muhammad SAW, sebagai ungkapan syukur sekaligus memohon keberkahan bagi pelestarian seni dan budaya lokal. Lebih dari sekadar hiburan, Buka Tutup Panggung menjadi refleksi akhir tahun sekaligus penguat semangat bagi perjalanan seni budaya Majalengka. Dentuman gamelan, lenggak tari dan lantunan tembang hadir sebagai medium estetika dan spiritual, menyentuh setiap lapisan masyarakat dengan pesan moral yang menyejukkan. Sanggar menegaskan komitmennya menjaga ruang ekspresi budaya yang berpijak pada nilai spiritual dan sejarah lokal.
Kehadiran Maman Imanulhaq, tokoh nasional asal Majalengka, memberikan bobot tersendiri bagi kegiatan ini. Sebagai simbol dukungan nyata terhadap pelestarian seni tradisi, kehadirannya menegaskan bahwa warisan budaya tetap relevan di tengah derasnya arus modernisasi.
Dalam sambutannya, Maman menyampaikan penghargaan tinggi kepada sanggar yang konsisten melestarikan seni. “Seni adalah bahasa halus yang paling mudah diterima masyarakat untuk menyampaikan pesan agama yang menyejukkan,” terangnya.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Ekologi Al Mizan, Maman menegaskan bahwa perpaduan seni dan dakwah kultural menjadi ciri khas Islam Nusantara. “Islam hadir bukan untuk meniadakan budaya, tetapi merawat dan memuliakannya melalui akhlak yang luhur,” tegasnya.
Nilai Ki Buyut yang dihidupkan sanggar menjadi simbol menjaga hati, keharmonisan rumah tangga dan fondasi moral masyarakat. “Makna Ki Buyut sangat dalam, berbicara tentang ketenangan batin, keharmonisan sosial dan landasan akhlak yang membentuk karakter,” jelasnya.
Seni yang dibarengi nilai spiritual, menurut Maman, menjadi benteng karakter bangsa. “Melalui seni, pesan moral tersampaikan tanpa menggurui, tetapi menyentuh hati dan jiwa,” tambahnya.
Abah Geri, selaku pimpinan Sanggar Seni Gema Parachiyangan, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas penghargaan yang diterima sanggar. “Kami bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang telah diterima Sanggar Seni Gema Parachiyangan. Sejak awal, dari Ki Buyut yang memulai tradisi ini hingga kini, sanggar berkomitmen menjaga dan merawat warisan budaya, menghidupkan nilai moral, akhlak serta spiritualitas dalam setiap pertunjukan. Setiap tarian, alunan gamelan dan tembang yang kami tampilkan adalah wujud penghormatan terhadap sejarah dan upaya menanamkan nilai kebaikan kepada generasi muda, agar seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga jembatan penghubung antara budaya, agama dan karakter bangsa,” ungkap Abah Geri.
Rangkaian pertunjukan berlangsung hangat, penuh keakraban dan lintas generasi. Beragam kesenian tradisi ditampilkan bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga menjadi media pendidikan moral, spiritual dan sejarah yang menautkan masyarakat pada akar budaya mereka.
Para tokoh adat menegaskan pentingnya sanggar sebagai penjaga warisan leluhur. “Jika seni ini tidak dijaga, kita akan kehilangan jati diri dan akar budaya kita,” ungkap seorang tokoh adat.
Buka Tutup Panggung juga menjadi ajang regenerasi pelaku seni lokal. Panggung yang ditutup dan dibuka kembali menjadi simbol estafet budaya, bergerak seiring zaman tanpa kehilangan ruh tradisi yang sarat makna sejarah dan spiritual.
Sejak ratusan tahun lalu, bumi Ligung telah menjadi saksi perjuangan pejuang Islam yang menanamkan nilai agama melalui seni tradisi. Dari alunan gamelan, tari yang memikat, hingga tembang yang menghanyutkan, seni menjadi jembatan halus untuk menebarkan akhlak, membentuk karakter dan menebar kedamaian di masyarakat.
Kini, Sanggar Seni Gema Parachiyangan melanjutkan warisan luhur itu, memadukan sejarah, budaya dan nilai spiritual dalam setiap pertunjukan. Setiap dentuman rebab, langkah tari dan lantunan tembang menjadi gema perjuangan leluhur yang menghidupkan pesan moral, menebar syiar dan menjaga jati diri Islam Nusantara agar tetap bersinar di tengah modernisasi.
Dengan semangat kebersamaan dan dedikasi seluruh elemen masyarakat, Sanggar Seni Gema Parachiyangan terus memelihara warisan budaya dan nilai spiritual, menjadikan seni sebagai penghubung antar generasi. Dari Ligung, Majalengka, pesan harmoni antara tradisi, agama dan karakter bangsa ditegaskan sebagai fondasi penting dalam menapaki tahun baru, menjaga jati diri serta menebar kebaikan bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Hombing







