ACEH, TANAH YANG TERLALU SABAR

Pemerintah83 views

L. K. Ara

 

Aceh

adalah tanah

yang terlalu sabar.

 

Air matanya

belum kering

ketika bencana datang.

 

Jembatan patah.

 

Jalan rusak.

 

Anak-anak

menyeberangi sungai

untuk pergi sekolah.

 

Tetapi jangan khawatir.

 

Negara hadir.

 

Ada rapat.

 

Ada program.

 

Ada spanduk.

 

Ada foto.

 

Dan setelah itu—

 

ada kesabaran rakyat.

 

 

Ketika gas

ditemukan di laut Aceh,

 

tangan kekuasaan

datang begitu cepat.

 

Gas mengalir.

 

Pipa bekerja.

 

Kota-kota terang.

 

Jakarta tersenyum.

 

Aceh?

 

Aceh menunggu.

 

Mungkin

karena menunggu

adalah salah satu

pelajaran tertua

yang diberikan negara

kepada rakyatnya.

 

 

Kemudian datang

program-program baru.

 

Merah putih

dibawa ke kampung.

 

Koperasi

diperkenalkan.

 

Rapat diadakan.

 

Pidato disampaikan.

 

Kami pun bertanya:

 

“Jembatan kami kapan?”

 

Jawabannya sederhana:

 

“Sabar.”

 

Kami bertanya lagi:

 

“Anak-anak kami

harus berenang sampai kapan?”

 

Jawabannya tetap:

 

“Sabar.”

 

Ah, Aceh.

 

Memang benar.

 

Tanah ini

terlalu sabar.

 

 

Kami tidak menolak

Indonesia.

 

Kami hanya ingin

Indonesia

tidak menolak

keadilan.

 

Kami tidak menolak

pembangunan.

 

Kami hanya heran:

 

mengapa pembangunan

begitu cepat

menemukan gas,

 

tetapi begitu lambat

menemukan jembatan?

 

Mengapa kekayaan

mudah sekali

menemukan jalan keluar,

 

sedangkan rakyat

begitu sulit

menemukan jalan pulang

dari kemiskinan?

 

 

Setiap Agustus

merah putih berkibar.

 

Kami berdiri.

 

Kami hormat.

 

Kami menyanyikan lagu

kemerdekaan.

 

Tetapi di bawah tiang bendera

ada pertanyaan kecil:

 

Apakah merdeka

hanya berarti

bebas mengibarkan bendera?

 

Atau juga

bebas dari rasa takut

ketika anak pergi sekolah?

 

Bebas dari lapar?

 

Bebas dari kemiskinan?

 

Bebas dari perasaan

bahwa kekayaan tanah sendiri

selalu lebih dahulu

dinikmati orang lain?

 

 

Jangan salah mengerti.

 

Catatan ini

bukan kebencian.

 

Ia hanya

catatan pinggir.

 

Catatan dari tanah

yang terlalu lama

belajar bersabar.

 

Sebab kadang-kadang

sejarah tidak perlu

ditulis dengan tinta merah.

 

Cukup dengan

sebuah jembatan putus,

 

seorang anak

yang menyeberangi sungai,

 

dan sebuah kekayaan

yang pergi jauh

dari tanah asalnya.

 

 

Maka, wahai negara,

 

jangan terlalu sering

memuji kesabaran rakyat.

 

Sebab kesabaran

bukan berarti

ketidakberdayaan.

 

Kesabaran

adalah ketika rakyat

masih memilih

percaya.

 

Tetapi kepercayaan

juga memiliki batas.

 

Dan ketika batas itu tiba,

 

jangan bertanya:

 

“Mengapa Aceh berubah?”

 

Tanyakan lebih dahulu:

 

“Mengapa Aceh

terlalu lama

disuruh bersabar?”

 

Aceh tidak meminta

bulan jatuh ke tanah.

 

Aceh hanya meminta

apa yang memang

menjadi haknya:

 

keadilan.

 

Dan mungkin itulah

catatan pinggir kita hari ini:

 

jangan menguji

kesabaran sebuah tanah

yang sejarahnya

sudah terlalu panjang

menanggung luka.

 

Jakarta, Agustus 2026