MERDEKA DI MULUT

Pemerintah494 views

L. K. Ara

 

Merdeka di mulut.

Utang menggunung,

bunganya berbunga.

Rakyat disuruh

mengencangkan ikat pinggang.

 

Merdeka di mulut.

 

Anak negeri

menjadi babu di negeri orang.

Pulang membawa koper,

kadang membawa luka.

Kita punya Garuda,

tetapi anak bangsa

terbang mencari makan.

 

Merdeka di mulut.

 

Bumi penuh emas,

minyak, gas, hutan, laut.

 

Aneh sekali—

tanahnya Indonesia,

hasilnya entah ke mana,

rakyatnya tetap antre

mencari kerja.

 

Merdeka di mulut.

 

Harga naik.

Pajak naik.

Kemiskinan naik.

 

Yang belum naik

barangkali hanya

upah rakyat.

 

Merdeka di mulut.

 

Korupsi tumbuh subur.

Uang rakyat

dipanen dengan jabatan.

 

Kolusi berjabat tangan.

Hukum menunduk

kepada yang berkuasa.

 

Merdeka di mulut.

 

Tanah air

katanya milik rakyat.

 

Rakyat boleh melihatnya

dari balik pagar.

 

Pagarnya tinggi.

Tanahnya luas.

Rakyatnya semakin sempit.

 

Merdeka di mulut.

 

Punya laut,

masih membeli garam.

 

Punya tanah subur,

masih membeli pangan.

 

Punya kekayaan alam,

rakyat masih menjadi

penonton di negerinya sendiri.

 

Merdeka macam apa?

 

Malu kita.

 

Tetapi jangan malu

kepada bendera.

 

Bendera tidak salah.

 

Yang perlu malu

adalah kita—

 

yang setiap tahun

berteriak merdeka,

 

tetapi belum selesai

memerdekakan rakyat.

 

Sebab penjajah hari ini

tak selalu membawa senjata.

 

Kadang datang

membawa kontrak.

 

Kadang membawa utang.

 

Kadang membawa investasi.

 

Dan kita sendiri

yang membukakan pintu.

 

Merdeka di mulut.

 

Belum tentu

merdeka di tanah.

 

Belum tentu

merdeka di perut.

 

Belum tentu

merdeka di hati.

 

Maka sebelum berteriak

MERDEKA!

 

diam sebentar.

 

Lihat rakyat.

 

Lihat tanah.

 

Lihat laut.

 

Lihat negeri.

 

Kalau semua itu

belum benar-benar merdeka,

 

jangan terlalu keras

berteriak.

 

Kerjakan dahulu.

 

Baru bicara.

 

Sebab kemerdekaan

bukan bunyi di mulut.

 

Kemerdekaan

harus terasa

sampai ke perut rakyat.

 

Jakarta, Agustus 2026