Mabesnews.com, Lahat – Suasana haru menyelimuti pelaksanaan Sumpah Apoteker Universitas Jenderal AhmadYani (UNJANI) Cimahi Jawa Barat, Kamis(07/05/2026).
Ratusan toga memenuhi Auditorium. Namun hari itu bukan hanya menjadi milik para mahasiswa dibalik tawa dan senyum bangga yang terpancar dari para lulusan, ada air mata bahagia dari orang tua yang selama bertahun-tahun menjadi saksi, penyokong, sekaligus penguat perjuangan anak-anak mereka.
Bapak Muhammad Nuh berasal dari Sumatera Selatan Kabupaten Lahat, bersama tiga anak dari saudara Kandungnya menatap penuh rasa syukur saat menyaksikan putrinya,
Shifa Rizqiah Agustina mengucapkan SUMPAH dari Program Studi Farmasi Apoteker Universitas Jenderal Ahmad Yani hari ini, dengan Perasaannya sederhana namun sangat dalam dan senang,
di balik semua itu,ia menyimpan cerita perjuangan yang tak sedikit, demi putri bungsunya menyelesaikan Kuliah Bidang Farmasi Apoteker, kalau cerita “Soal biaya awalnya benar-benar bingung.Tidak terpikir bisa bayar terus sampai lulus. Tapi alhamdulillah, selalu saja ada jalannya,Rezeki itu datang terus entah dari mana,” ujarnya
Dengan kehadiran Tiga keponakan Kandung Saudaranya hadir mewakili orang tuanya untuk memberi dukungan kepada Sepupunya,
Disambungkan Dila di tempat yang sama “ Alhamdulillah Dila juga berharap kemudahan selalu menyertai sepupunya dalam menempuh jalan kehidupan setelah momen Mengucapkan Sumpah Apoteker ini,
tak lupa ALZA dan Nova turut mendoakan yang terbaik, sukses bahagia Untuk Kemudian di hari.
“Semoga Shifa dimudahkan mendapatkan kerja. Buat semua wisudawan juga, semoga langkahnya lancar dan kariernya cerah.”
Sementara itu, ayah dari shifa, tak mampu menyembunyikan rasa bangga dan haru saat menyaksikan anaknya naik ke panggung. Perjuangan panjang ayahnya menjadi bagian penting dari keberhasilan itu.
“Saya pernah harus berjuang sana-sini. Kadang kerja keras sampai malam, biar tetap bisa kuliah. Yang penting dia jangan terganggu studinya. Alhamdulillah sekarang terbayar semua,” ujar penuh haru.
Sementara itu, sang ibu dan kakak tertua membagikan sisi perjuangan yang lain. Halus, sabar, namun penuh cinta. Ia bercerita bagaimana mendampingi Shifa melewati masa-masa krisis studi, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah di tahun ini.
“Di akhir-akhir masa krisis studinya, tentu sebagai saudara kandungnya harus membantu bagaimana pun juga,” ujar sang kakak
“Saya sering bilang, ayo, selesaikan. Saya tahu dia sedang lelah secara batin, jadi saya lebih banyak mendekatinya secara halus. Saya sering ajak dia keluar, duduk bareng di kafe. Saya sokong adik saya secara emosional dan alhamdulillah, akhirnya selesai hari ini.”
Tak mudah mengungkapkan kebahagiaan itu dengan kata-kata, namun senyum di wajah sang ibu cukup bercerita. Perjuangan ibu yang sunyi akhirnya berbuah manis. kini berdiri dengan toga, membawa harapan baru, yang lahir dari dukungan sabar dan cinta yang tak tampak di atas kertas.
tutupnya
(Feri.H)







