Mabesnews.com, Tangerang,1 Mei 2026 Acara Jumat Berkah yang di gagas Dr Bernard BBI Siagian SH MAKp, cukup.meriah di Cirendeu Permai lV. dihadiri pemuka masyarakat ,mahasiswa para dedengkot aktivis 98 ,aktivis anti rasuah ,anti koruptor berjamaah ,para akademisi , cendekiawan ,pemerhati dunia pendidikan sosial ,bisnis sekitar 100 Peserta tumpah ruah para Jurnalis ,tokoh perempuan PPWI,GAKORPAN.
Penyelenggaraan digagas demi menghormati Hari Buruh sedunia ,”*May Day “Ketua Tim Pengacara
David Sianipar SH.MH .mengumumkan topik & tajuk agenda berjudul krusial yang diangkat untuk dikupas tuntas agar bongkar, tuntut ,adili dan tangkap berkisar DUNIA PENDIDIKAN DENGAN EDUKASI PASAR DUNIA KERJA STURT UP tentang APLIKASI INTERNET.
Dr Bernard dalam sambutannya mengatakan bahwa pada hakekatnya bahwa jati diri Dunia Pendidikan.turut amanah Bapak Ki hajar Dewan Toro mempunyai visi sakral :Tut wuri handayani lng ngarso sung Tulodo lng madyo mangun karso Suatu tatanan politik capaian konsep berpikir masyarakat untuk suatu niatan market planing pencari kerja.
Kita perlu konsistenk sesuatu hal dengan niatan luhur ,baik itu serta, walau agak tidak nyaman PENDIDIKAN bukanlah STURT UP ,tidak bisa diperlakukan seperti aplikasi yang tentunya bisa diuji apakah gagal atau tidaknya secara gamblang .atau konsep tatanan sistemik yang diperbaharui lagi untuk versi down load berikutnya .Pendidikan dengan suatu aplikasi itu berbeda ,walau kita berhasil mendisrupsi sistem kerja, misalkan transportasi .Mengubah kebiasaan
lama.
masyarakat.kuno menjadi cara baru. Dalam Dunia Pendidikan ,dengan menghadirkan efisiensi waktu dengan serba tehnologi berbasis internet . Namun Pendidikan bukan semata mata soal efisiensi saja .Pendidikan itu merupakan suatu proses panjang ,yang memerlukan keuletan serta menyangkut perilaku SDM manusia,adab,etika ,moral dan nilai nilai kebudayaan , arah tujuan peradaban . Jika hanya mengandalkan Sturt Up.
bisa.pivot ketika model bisnisnya itu gagal, Pendidikan tidak mempunyai kharakter exclusiv kemewahan .ltu satu kebijakan baru yang keliru saja analoginya bisa berdampak kepada satu generasi . Dikritik dititik ini kita. sampaikan oleh Dr Bernard BBI Siagian SH.MAkp GAKORPAN.
akan sangat tidak relevan .Bagaimana mungkin jika seseorang bisa merumuskan tentang kebijakan global dunia pendidikan maksimal yang terbaik.Jika seseorangpun tidak pernah pula mengajar ,tidak pernah pula mengalami langsung dinamika riuhnya ruangan kelas .
Mereka tidak cukup akrab dengan kharakter realitas.pendidikan daerah di akar rumput yang serba penuh fasilitas minim.lni bukan soal.tanggung jawab negeri ini yang meragukan kapasitas,kapabilitas intelektual sosok guru dipertanyakan .Melainkan soal.pengalaman empirik.Pendidikan bukan sekadar hanya teori kosong semata meĺainkan adalah Praktik yang hidup.Masalahnya kompleksitas akan.menjadi lebih kongkrit ketika kebijakan berbasis digital.ini tertuang dan didukung secara masif .Seolah olah.perangkat lunak di seluruh lndonesia.
sudah siap .secara infra struktur, Namun ketika terungkap bahwa banyak faktor didaerah ,belum memiliki sarana prasarana pelbagai akses internet yang.memadai ,bahkan faktor penerangan listrikpun masih sangat terbatas. Kita dihadapkan pada dilematis yang ironis.
Bahwa kebijakan itu lahir lebih cepat dari pada pemahaman terhadap global kondisi dilapangan . Dalam.dunia Sturt Up ,ini.mungkin disebut Faill end Fast .Dalam Dunia Pendidikan ini.lebih mirip “*Fail Silently “* gagal tanpa suara
Akan tetapi dampaknya pasti merembes.perlahan lahan. DItingkat.akar rumput .Kegamangan ini terasa semakin nyata. Seorang profesi guru lulusan FKIP dengan setianya mendidik siswa anak didiknya untuk sekadar mengajar sistem kuno.
melontarkan sindiran pahit tanpa visi dan.misi yang jelas “*FLAT “*.Kita menyaksikan bagaimana profesi seorang guru kini semakin kurang berdedikasi ,berintegritas cair saja ,bahkan abu abu cenderung kabur batasan nya. Sedangkan lulusan Non Pendidikan pun bisa menjadi “*GURU”*,lintas bidang namanya hanya dengan mengikuti program khusus tertentu misalkan kursus kilat Flexibilitas .lni alih alih memperkuat sistem berjenjang .Justru menimbulkan pertanyaan mendasar.,apakah dunia pendidikan kita masih berbasis kurikulum lama .Keilmuan atau sekadar administratif tanpa kapabilitas ?!!..Disinilah perbedaan paling mendasar antara Pendidikan dengan Sturt Up.
Yang satu membangun SDM manusia. Yang lain membangun market pasar . Sturt Up bisa tumbuh dengan logika experimen dalam skala stabilitas.Pendidikan menuntut kedalaman roh ,ketekunan, kesinambungan .la tidak bisa dikelola asal jadi dengan asumsi bahwa pada dasarnya semua masalah bisa diselesaikan dengan inovasi tehnologi .Salam GAKORPAN ASTACITA Menuju lndonesia Emas 2045 .Macan Asia yang Merdeka.
Tim.lnvestigasi GAKORPAN LBH Pers.
Reporter Iks.B Pers




