Pengembangan Radio Discovery Minang Batam, Inovasi Pendidikan Agama Islam di Tengah Arus Digitalisasi

Oleh Drs. Suhardis, M.M.

Direktur Radio Discovery Minang Batam

 

Mabesnews.com, Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan dan penyiaran keagamaan di Indonesia. Di tengah derasnya arus media sosial serta dominasi platform visual, radio justru menemukan kembali relevansinya melalui transformasi digital yang melahirkan konsep Radio Discovery Minang. Model ini dipandang sebagai inovasi strategis dalam pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya dalam menjawab tantangan pembelajaran agama di era digital yang menuntut kecepatan, keterbukaan, serta kedalaman nilai (Richards, 2019: 85).

Radio Discovery Minang merupakan bentuk pengembangan media radio yang tidak lagi berorientasi satu arah, melainkan menempatkan pendengar sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Melalui dialog interaktif, eksplorasi tema-tema keislaman, serta pendekatan problematik, Radio Discovery Minang mendorong terjadinya proses penemuan nilai dan pemaknaan ajaran Islam secara kontekstual. Dalam momentum Ramadan 1446 Hijriah, Radio Discovery Minang juga memberikan ruang waktu (time space) kepada anggota Persatuan Mubalig Batam (PMB) Kota Batam untuk berkontribusi dalam siaran edukatif dan dakwah. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip discovery learning yang menekankan pengalaman belajar yang bermakna dan reflektif (Bruner, 2020: 41).

Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, pemanfaatan Radio Discovery Minang dinilai mampu menjangkau lapisan masyarakat yang luas, termasuk kelompok yang belum sepenuhnya terakomodasi oleh pembelajaran berbasis visual dan daring. Karakter radio yang bersifat auditif, personal, dan fleksibel memungkinkan penyampaian nilai-nilai keislaman secara lebih intim dan persuasif, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi digital tingkat lanjut (Wahidin, 2022: 277).

Sejarah mencatat bahwa radio telah lama menjadi media dakwah dan pendidikan Islam yang efektif. Sejak masa awal kemerdekaan hingga era Orde Baru, radio dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran nilai-nilai keagamaan, penguatan moral bangsa, serta pendidikan masyarakat secara luas. Transformasi radio ke dalam format digital melalui layanan streaming dan podcast semakin memperluas fungsi tersebut, sehingga radio tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu (Aligarhi, 2015: 246).

Dalam praktik pendidikan agama Islam, Radio Discovery Minang tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai materi keagamaan, tetapi juga sebagai ruang dialog keislaman yang moderat dan inklusif. Di tengah maraknya konten keagamaan yang bersifat provokatif dan cenderung polarisatif di media sosial, Radio Discovery Minang hadir sebagai alternatif yang menyejukkan melalui pendekatan edukatif, argumentatif, serta berlandaskan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin (Marwadi dkk., 2025: 33).

Para pakar pendidikan Islam menilai bahwa integrasi Radio Discovery Minang dengan kurikulum Pendidikan Agama Islam dapat memperkuat dimensi afektif dan spiritual peserta didik. Materi akidah, akhlak, fikih, serta sejarah Islam dapat dikemas dalam bentuk cerita, dialog, dan refleksi kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami dan diinternalisasi oleh pendengar (Azzahra dkk., 2025: 115).

Di era digital, tantangan pendidikan agama Islam tidak hanya terletak pada metode pembelajaran, tetapi juga pada krisis otoritas keagamaan dan banjir informasi yang tidak terverifikasi. Dalam konteks ini, Radio Discovery Minang berpotensi menjadi ruang literasi keagamaan yang kredibel karena menghadirkan narasumber yang kompeten, kurasi materi yang terarah, serta etika penyiaran yang bertanggung jawab (Wahidin, 2022: 281).

Pengembangan Radio Discovery Minang juga dinilai sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat Muslim di wilayah kepulauan seperti Kepulauan Riau. Kondisi geografis yang tersebar menjadikan radio sebagai media yang relatif murah, mudah diakses, dan efektif untuk menjangkau masyarakat pesisir maupun wilayah hinterland. Dalam konteks tersebut, Radio Discovery Minang berpotensi menjadi sarana pendidikan agama Islam yang berpijak pada kearifan lokal dan budaya Melayu (Richards, 2019: 92).

Para pengamat pendidikan menegaskan bahwa penguatan peran Radio Discovery Minang dalam pendidikan agama Islam membutuhkan dukungan kebijakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan literasi digital. Tanpa desain pedagogik yang matang, radio berisiko kembali menjadi media pasif yang kehilangan daya edukatifnya. Oleh karena itu, sinergi antara pendidik, lembaga penyiaran, dan para pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan pengembangan Radio Discovery Minang (Marwadi dkk., 2025: 36).

Dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan, Radio Discovery Minang diyakini mampu menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas dalam pendidikan agama Islam. Radio tidak hanya bertahan sebagai media lama yang beradaptasi, tetapi juga tampil sebagai ruang pembelajaran baru yang mampu membangun kesadaran religius, etika sosial, dan karakter kebangsaan di tengah tantangan era digital (Aligarhi, 2015: 249).

 

Daftar Pustaka

Aligarhi, F. M. F. (2015). The Hijri and Gregorian Calendars: Comparison and Conversion. Islam and Civilisational Renewal Journal, 6(3), 241–252.

Azzahra, A., Sekarini, F., & Nurasifah, I. (2025). The Gregorian and Hijri Calendars: Historical Development and the ‘Urfi Month’s Age. AL-AFAQ: Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi, 7(2), 109–120.

Bruner, J. S. (2020). The Process of Education. Cambridge: Harvard University Press.

Marwadi, M., Labib, M., & Zain, M. F. (2025). Reforming the Islamic Calendar and Religious Authority in Indonesia. Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam, 19(1), 25–40.

Richards, E. G. (2019). Mapping Time: The Calendar and Its History. Oxford: Oxford University Press.

Wahidin, N. W. (2022). Problem of Unification Hijri Calendar. AL-AFAQ: Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi, 4(2), 275–283.

 

/NT